Santri Kembali ke Pesantren, Gus Yusuf: Negara Harus Hadir

Santri Kembali ke Pesantren, Gus Yusuf: Negara Harus Hadir
Foto: Romzi
Foto: Romzi
Magelang, NU Online
Kesiapan pesantren dalam menghadapi kebijakan normal baru (new normal) harus betul-betul menjadi perhatian semua pihak khususnya pemerintah. Di masa pandemi Covid-19 yang belum mereda saat ini, negara harus hadir mengawal santri dari keberangkatan sampai ke lokasi pesantren dengan aman dan sehat.
 
"Maka kita sangat berharap dan ini mendesak negara harus hadir. Karena pesantren adalah bagian penting sejarah republik ini. Pesantren adalah aset bangsa ini. Selama ini kontribusi pesantren dan santri-santri kepada bangsa Indonesia juga sangat besar," tegas Pengasuh Pesantren Tegalrejo Magelang, Jawa Tengah, KH Yusuf Chudlori, Jumat (29/5) dalam tayangan ini.
 
Gus Yusuf menegaskan, protokol kesehatan saat santri kembali ke pesantren harus dirumuskan dengan matang untuk menghindari pesantren menjadi klaster baru penyebaran Covid-19. Jika tidak menggunakan protokol yang baik, bisa jadi masyarakat akan menyalahkan pihak pesantren.
 
Di sisi lain, di penghujung libur lebaran ini, wali santri banyak yang khawatir akan kondisi putra-putrinya akibat pengaruh buruk lingkungan, media sosial, televisi, dan akibat kontrol yang lemah.
 
"Wali santri sudah pada gelisah bagaimana anak saya kalau di rumah kelamaan nanti balik ke pondok. Jangan-jangan malah nggak mau balik. Di rumah sudah sibuk dengan online-nya lupa ngajinya, tiap hari megang gadget, nonton TV, bahkan masih banyak juga yang keluyuran," ungkapnya.
 
Walaupun saat ini, banyak terobosan baru melalui kecanggihan teknologi berupa pembelajaran online, ada yang tidak bisa diajarkan melalui sistem online yakni pendidikan karakter. Sistem online menurut Gus Yusuf mungkin bisa menjadi solusi untuk mentransfer ilmu (knowledge). Namun untuk pembentukan karakter, tidak bisa terwakili oleh teknologi.
 
"Pendidik tidak hanya sekedar mencerdaskan akal pikiran. (Pendidik) punya tugas mulia membekali dengan nilai-nilai akhlak. Ini tidak cukup dengan online. Ini harus ketemu. Ada tatapan kasih sayang guru terhadap murid, siang dan malam. Ada yang namanya uswah, contoh keteladanan," jelasnya.
 
Pernyataan Gus Yusuf ini juga senada dengan pernyataan Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI-PBNU) yang merupakan lembaga di NU yang membidangi pesantren. Ketua RMI PBNU KH Abdul Ghofarrozin menilai pemerintah belum memiliki perhatian dan kebijakan khusus terhadap pesantren untuk menangani Covid-19. 
 
Namun, tiba-tiba pemerintah mendorong agak terlaksana new normal dalam kehidupan pesantren. Hal ini menurutnya tentu saja mengkhawatirkan. Alih-alih untuk menyelamatkan pesantren dari Covid-19, pesantren yang berbasis komunitas dan cenderung komunal justru dapat menjadi klaster baru pandemi Covid-19. 
 
Jadi RMI PBNU mendesak pemerintah untuk membuat kebijakan konkret dan berpihak sebagai wujud keseriusan pemerintah dalam menjaga pesantren dari resiko penyebaran Covid-19.
 
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile