Memaknai Lebaran Maya Tanpa Pelukan

Memaknai Lebaran Maya Tanpa Pelukan
Pasca wabah Covid-19, entah kapan berakhir, harus menyadarkan manusia bahwa makhluk apa pun di muka planet ini sedang menuju pelapukan.
Pasca wabah Covid-19, entah kapan berakhir, harus menyadarkan manusia bahwa makhluk apa pun di muka planet ini sedang menuju pelapukan.
Dalam sejarah kehidupan manusia, baru kali ini lebaran dilakukan secara maya. Tidak ada yang pernah menyangka, lebaran dilakukan tanpa sentuhan, apalagi pelukan antar manusia. Lebaran berjarak, begitu orang bilang. Lalu era digital "menawarkan" caranya secara maya (virtual). Apa boleh buat, itulah yang bisa dilakukan. Setidaknya masih tetap bisa menyapa meski di atas awang-awang. 

Ini merupakan fenomena keagamaan yang tergantikan perilaku instan tanpa "personal touch" secara total. Tanpa sungkeman. Tanpa rangkulan untuk menyatukan energi cinta kasih. Semua itu karena mematuhi apa yang disebut "phisycal distancing" di era pagebluk Covid-19. 

Tradisi "silaturahim" (saling kunjung) saat lebaran khas nusantara ditiadakan. Paling tidak, banyak orang enggan melakukannya. Kata kuncinya adalah menghindari kerumunan. Para tokoh publik menyerukan. Pejabat negara memutuskan kebijakan. Bahkan para ulama mengumumkan tidak menerima tamu saat lebaran. Ya, Corona benar-benar membuat tradisi baru. Sentuhan indah antar-Muslim digantikan pesan teks, suara, gambar, video, dan simbol emoticon. 

Satu hal lagi yang membuat lebaran tahun ini dinilai "hambar" adalah Sholat Idul Fitri di rumah. Sholat sunnah di pagi 1 Syawal sebenarnya sebagai puncak lebaran. Namun, lagi-lagi sholat Id yang mengundang kerumunan di masjid/lapangan ditiadakan. Momen vertikal sekaligus sosial tersebut sejatinya memberi warna tersendiri saat umat Islam merayakan lebaran. Tapi itulah faktanya, celebration without body touch (perayaan tanpa sentuhan tubuh). 

Sebelumnya, sebulan penuh rangkaian ibadah Ramadhan juga di rumah. Sejak pertengahan Maret 2020, hampir semua tinggal di rumah. Tidak ada mudik ataupun pulang kampung. Tidak ada kumpul-kumpul keluarga besar sambil menikmati makanan khas berbuka puasa dan juga lebaran. Pun pula tidak ada momen foto-foto bersama keluarga besar dan teman-teman lama saat sekolah yang menjadi ciri utama masyarakat digital. 

Atas fenomena itu, mungkin Tuhan hanya ingin berkata: kembalilah kepada-Ku dari kesunyian. Bersama keluarga kecilmu, perbanyaklah memuji-Ku. Bukankah Aku dapat kalian temui di hati-hatimu yang paling dalam? Saatnya kalian membersihkan dosa-dosa sosialmu tanpa gebyar formal.

Sekali lagi, lebaran di dunia nyata benar-benar sepi. Nyaris tidak ada spanduk-spanduk ucapan lebaran di pinggir-pinggir jalan seperti biasa. Sebaliknya, di dunia maya semakin hiruk pikuk. Meskipun sebelum ini juga sudah terjadi seiring dengan kemajuan teknologi informasi, tahun ini semakin "heboh". Semua orang posting aktivitas keagamaan dengan segala gayanya, baik saat Ramadhan maupun Idul Fitri tiba. 

Lalu apa makna di balik lebaran maya ini? Mungkin sebagian orang telah mengulasnya, namun di bawah ini penulis mencoba memberikan perspektif yang agak berbeda.

Pertama, lebaran sesungguhnya momen kemenangan batin setelah berpuasa sebulan penuh. Kemenangan sejatinya "bertempat" di hati, bukan di permukaan ekspresi sosial. Takbir mursal atau keliling adalah bagian dari ekspresi kegembiraan. Namun, tidak serta merta itu cerminan dari kesyukuran. Karena banyak orang hanya ingin "gebyar" yang melibatkan emosi keagamaan. Ini sulit dipungkiri.

Dengan tiadanya takbir massal melalui festival budaya dan "emosi" keagamaan, mungkin Tuhan hanya ingin "disapa" dalam sunyi. Ungkapan takbir, tahlil, dan tahmid yang menggelegar di ruang-ruang publik, saat ini, seakan tidak dibutuhkan. Melalui bilik-bilik kecil, sudut-sudut kamar di dalam rumah, Tuhan dipuji. Tuhan disembah sambil berharap anugerah-Nya di diturunkan. Rahmat-Nya ditunggu agar mara bahaya diangkat secepat mungkin.

Pada titik inilah manusia seharusnya sadar, ia tidak memiliki apa-apa. Semua atas kuasa Tuhan yang Maha Perkasa. Manusia hanya makhluk kecil yang penuh kelemahan. Tuhan tidak butuh manusia. Tuhan juga tidak butuh disembah. Manusialah yang membutuhkan dan menyembah Tuhan. Kesombongan seharusnya runtuh seiring dengan kemahaperkasaan Tuhan.

Kedua, dalam tradisi Islam di Nusantara, silaturahim lebaran merupakan hal penting. Aktivitas budaya ini menekankan saling terbukanya hati dan pikiran atas khilaf dan salah orang lain. Artinya, masing-masing individu dituntut memberikan maaf seluas-luasnya kepada sanak saudara, handai taulan, teman-teman dan semua orang yang pernah berinteraksi langsung atau tidak. 

Memang, selebrasi lebaran dengan bertemu langsung kawan lama dan saudara yang jauh merantau memiliki makna besar secara sosial. Di sinilah bobot lebaran menjadi sangat tinggi. Apalagi dibumbui dengan rangkaian tradisi yang sangat kental, seperti karnaval, ceremony lebaran seperti Halal Bihalal, reuni sekolah dan perguruan tinggi, serta lainnya dengan segala keunikan tradisi.

Semua itu seakan mengurangi nilai sosialnya saat "personal touch" ditiadakan. Namun demikian, bukan berarti ketiadaan "personal touch" serta merta menghilangkan spirit budaya lebaran. Konsep dasar selebrasi lebaran adalah ketika kita mampu memberi maaf kepada sesama. Dalam QS: Al-A'raf: 199: Jadilah pemaaf dan ajaklah amalan baik, serta berpalinglah dari orang-orang bodoh.

Demikian juga dalam QS: Ali Imran: 134, yaitu: ... wal-'afiina 'anin-naas... (dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang (lain). Dalam situasi ini, meminta maaf dan memberi maaf jelas dapat dilakukan melalui sarana apa pun, termasuk teknologi. Memaafkan itu tempatnya di hati paling dalam. Apalah artinya jika kita memaafkan di bibir dan sentuhan tubuh tapi terhalang hingga ke hati. Sarana teknologi hanyalah media komunikasi, namun pintu pemaafan tetap ada di lubuk hati.

Ketiga, pasca Covid-19 seperti banyak orang memperkirakan menjadi titik balik kehidupan baru manusia. Kita sering menyebut "New Normal". Di sinilah tiada tempat bagi manusia untuk menepuk dada. Semaju apa pun teknologi yang berkembang di muka bumi, tetaplah produk makhluk manusia yang sangat lemah. Tiada daya upaya manusia kecuali Tuhan memiliki segalanya. Ini menggiring manusia untuk selalu berdoa: Ya Tuhan. Engkaulah Yang Maha Kuasa. Tiada Dzat Yang Maha segalanya kecuali Engkau. Engkau adalah tempat kami kembali. 

Pasca wabah Covid-19, entah kapan berakhir, harus menyadarkan manusia bahwa makhluk apa pun di muka planet ini sedang menuju pelapukan. Tiada makhluk yang semakin hari semakin kuat, tetapi justru semakin menuju kehancuran. Corona bisa jadi penanda untuk membalikkan arus perubahan manusia hingga 180 derajat. Mungkin kerusakan kehidupan di muka bumi akan lebih cepat dari perkiraan. Rasanya alam raya ini memang sudah tua, dan seluruh isinya mungkin rindu untuk kembali kepada Sang Pencipta. Wallahu a'lam.
 

Thobib Al-Asyhar, Dosen pada Program Kajian Timteng dan Islam, SKSG Universitas Indonesia, Alumni Pesantren Futuhiyyah Mranggen Demak.
BNI Mobile