Alumni PMII Hendaknya Tidak Fokus di Kota

Alumni PMII Hendaknya Tidak Fokus di Kota
Ketua MUI Jember, KH Abdul Halim Soebahar. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Ketua MUI Jember, KH Abdul Halim Soebahar. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Jember, NU Online
Terminologi orang sukses saat ini cenderung identik dengan mereka yang berhasil meniti karir di kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, dan sebagainya. Akibatnya, timbul anggapan bahwa jika ingin sukses, maka harus hijrah ke Jakarta atau kota-kota besar lainnya, minimal kota kabupaten. Sebab, di situ banyak fasilitas yang mendukung percepatan karir seseorang.

“Tapi sesungguhnya sukses di kota tidak begitu mengagumkan,” ujar Ketua MUI Jember, KH Abdul Halim Soebahar saat menjadi nara sumber dalam  Halal Bihalal Nasional Ikatan Keluarga Alumni (IKA) PMII Jember yang digelar secara virtual di Jember, Jawa Timur, Jumat (29/5).

Menurut Pak Halim, sapaan akrabnya, tantangan dan persaingan di kota cukup berat, tapi fasilitas juga menunjang, dan peluang pun banyak, sehingga sukses meniti karir di kota, bukan sesuatu yang luar biasa. Justru jika sukses menjadi ‘orang’ di desa, itu prestasi yang membanggakan.

“Alumni PMII semestinya tidak hanya berani memilih peran strategis di perkotaan, tapi sudah mulai berani memilih peran strategis untuk hidup bersama masyarakat di perdesaan, tidak hanya fokus di kota” harapnya.

Katanya, masyarakat desa sangat membutuhkan SDM (sumber daya manusia) untuk mengelola potensi dan memajukannya. Namun sayang, selama ini anak-anak desa yang berhasil menempuh pendidikan tinggi, justru mencari kerja di kota. Jarang sekali yang kembali ke kampung  halamannya untuk membangun desa. Akibatnya, perkembangan desa berjalan di tempat.

“Bagaimana masyarakat desa bisa diberdayakan. Selain itu, transformasi nilai-nilai ke-PMII-an, juga sangat dibutuhkan untuk membentuk masyarakat yang relijius,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Majelis Pertimbangan IKA PMII Jember, M Nur Hasan menegaskan bahwa orientasi alumni PMII dalam mengabdikan diri yang cenderung memilih  peran di kota, perlu dievaluasi.  Sebab masyarakat desa justru lebih membutuhkan tenaga dan pikiran mereka untuk kemajuan desa di masa-masa mendatang.

“Kalau semua ke kota, lalu siapa yang akan memberdayakan masyarakat desa,” ungkapnya.

Namun di luar itu, apapun peran alumni PMII, dan di manapun posisinya, maka harus diniati untuk kemashlahatan kemanusiaan, sehingga apa yang dilakukan bernilai ibadah, untuk sebuah pencapaian sampai kepada Allah.

“Jusru niat itulah yang wajib kita perhatikan, sehingga apapun peran kita di masyarakat, tetap punya nilai ibadah, dapat pahala,” pungkasnya.

Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi
BNI Mobile