Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Keluwesan dan Keluasan NU, Modal Hadapi Perubahan Zaman

Keluwesan dan Keluasan NU, Modal Hadapi Perubahan Zaman
Hj Badriyah Fayumi, Pengasuh Pesantren Mahasina mengatakan berbagai tradisi dan ibadah berjamaah yang menjadi ciri khas NU masih tetap berjalan di masa pandemi seperti Istighotsah, Halal bi Halal, Tadarusan, sampai dengan Yasinan, dan sejenisnya menjadi kekuatan. (Foto: Dok Istimewa)
Hj Badriyah Fayumi, Pengasuh Pesantren Mahasina mengatakan berbagai tradisi dan ibadah berjamaah yang menjadi ciri khas NU masih tetap berjalan di masa pandemi seperti Istighotsah, Halal bi Halal, Tadarusan, sampai dengan Yasinan, dan sejenisnya menjadi kekuatan. (Foto: Dok Istimewa)
Jakarta, NU Online
Prinsip Almuhafadzatu alal Qadimis Shalih wal Akhdu bil Jadidil Aslah (Memelihara hal lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik) menjadikan Nahdlatul Ulama memiliki daya kelenturan dalam menghadapi dinamika perubahan yang terjadi sepanjang zaman.
 
Hal ini bisa terlihat nyata ketika Nahdlatul Ulama yang memiliki tradisi komunal tidak terpengaruh dengan pandemi Covid-19 yang 'memaksa' seluruh masyarakat untuk tidak berkerumun dan menerapkan physical distancing (jaga jarak). Dalam kondisi ini, warga NU tetap melakukan tradisi berkumpulnya dengan memanfaatkan hal-hal baru dari kemajuan teknologi.
 
"Inilah yang menjadi keluwesan dan keluasan Nahdlatul Ulama yang menjadi modal dalam menghadapi perubahan zaman," kata Hj Badriyah Fayumi, Pengasuh Pesantren Mahasina saat acara Halal bi Halal Fatayat NU Sedunia yang dilakukan secara virtual, Ahad (31/5).
 
Berbagai tradisi dan ibadah berjamaah yang menjadi ciri khas NU masih tetap berjalan di masa pandemi seperti Istighotsah, Halal bi Halal, Tadarusan, sampai dengan Yasinan, dan sejenisnya. Inilah menurutnya mengapa NU memiliki daya kelenturan dalam menghadapi tantangan zaman.
 
Para Kiai NU pun terus menjalankan fungsinya dengan menggelar pengajian yang saat ini sering terlihat di berbagai platform media sosial. Para Kiai NU terus melakukan adaptasi dan tidak alergi dengan perkembangan teknologi.
 
"Banyak ulama NU yang muncul di berbagai media dan mendapatkan hati dan perhatian dari masyarakat dengan terbukti acara yang beliau isi mendapatkan rating tinggi," kata ulama perempuan yang juga Wakil Ketua Lembaga Kemaslahatan Keluarga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama ini.
 
Berbagai keluwesan NU dalam menjadikan budaya sebagai infrastruktur dalam agama serta keluasan dalam pemaknaan beragama inilah yang saat ini diadopsi oleh berbagai negara. Di berbagai negara seperti Afganistan dan Malaysia pun sudah memiliki Nahdlatul Ulama yang menjadi organisasi warga bangsanya.
 
Menurutnya, NU mampu menjadi perekat yang menginspirasi berbagai negara untuk menjadikan sebuah negara menjadi damai dan penuh dengan kemaslahatan.
 
Kegiatan Halal bi Halal virtual bertemakan Merawat Spirit Silaturahmi di Tengah Pandemi ini diikuti oleh para pengurus wilayah, cabang, dan Fatayat NU di luar negeri. Selain Hj Badriyah Fayumi, hadir sebagai pembicara lainnya Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan Rais Syuriyah PCINU Australia Nadirsyah Hosen.
 
 
Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Kendi Setiawan
BNI Mobile