Alasan Mengapa Pesantren Harus Punya Standar Protokol Kesehatan Khusus

Alasan Mengapa Pesantren Harus Punya Standar Protokol Kesehatan Khusus
Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Wafiyul Ahdi. (Foto: Istimewa)
Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Wafiyul Ahdi. (Foto: Istimewa)

Jombang, NU Online
Standardisasi protokol kesehatan untuk menghadapi Covid-19 khusus di pesantren sangat diperlukan. Karenanya, pengelola pesantren harus segera merumuskan poin-poin yang nantinya harus dipatuhi para santri agar proses pembelajaran di pesantren kembali berjalan sebagaimana mestinya. Standardisasi itu juga dalam rangka menyambut kebijakan New Normal yang rencana akan diterapkan dalam waktu dekat oleh pemerintah.

 

"Pesantren (Tambakberas) sudah tiga bulanan menghentikan kegiatan pembelajarannya. Dan tidak boleh pasrah. Perlu beradaptasi. Untuk membuka proses pembelajaran di pesantren perlu standardisasi protokol kesehatan yang disepakati," kata Ketua Umum Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Jombang, Jawa Timur, KH Wafiyul Ahdi, Rabu (3/6).

 

Kiai muda ini menegaskan bahwa pentingnya standardisasi protokol kesehatan khusus di pesantren itu setidaknya karena dua hal. Pertama, sebagai wujud kepedulian pesantren terhadap santri akan kesehatannya. Kedua, agar wali santri tidak waswas saat anaknya sudah kembali ke pesantren. Tentu hal ini juga berhubungan erat dengan upaya pesantren menjaga kepercayaan masyarakat terhadap keberadaan pesantren.

 

"Yang saya khawatirkan ketika di pesantren tidak ada standardisasi yang ditetapkan oleh pesantren, orang tua tidak percaya lagi ke pesantren, sehingga wali santri 'mengambil' anaknya untuk tidak lagi mondok," ujarnya.

 

Kendati begitu, standardisasi tersebut harus berjalan sebanding dengan upaya pesantren untuk menyosialisasikannya kepada para santri. Hal ini menurut dia hendaknya dilakukan secara terus menerus agar perspektif santri dalam menghadapi Covid-19 di pesantren seragam.

 

"Protokol kesehatan itu misalnya terkait dengan edukasi dan lain sebagainya harus dilakukan secara menyeluruh, sehingga ada kesamaan pandangan di pesantren," ungkapnya.

 

Jika memungkinkan imbuhnya, pesantren juga perlu menyiapkan infrastruktur penanganan pertama bagi kesehatan santri seperti klinik yang menyediakan alat-alat deteksi Covid-19. Sehingga kalaupun santri ada yang kena Covid-19, klinik itu juga yang sementara menampung santri sekaligus sebagai tempat karantina.

 

"Di pesantren-pesantren yang cukup besar sudah ada klinik. Keberadaan klinik pesantren dalam situasi seperti sekarang sangat mendukung," tuturnya.

 

Di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas sendiri diakuinya tengah merumuskan teknis penyambutan kedatangan para santrinya. Termasuk juga langkah antisipatif saat santri memulai proses pembelajarannya di pesantren, salah satunya seperti protokol kesehatan santri di lingkungan pesantren.

 

Pesantren Tambakberas telah membuat surat edaran tentang tenggang waktu kembalinya santri ke pondok. Dimulai awal Juli mendatang para santri dijadwalkan sudah kembali ke pesantren secara bergiliran sesuai tahapan-tahapan yang diatur pesantren.

 

Sementara itu, Pengasuh Pesantren Mambaul Ma'arif Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib mengemukakan, para santrinya dijadwalkan kembali ke pondok pada pertengahan Juli mendatang. Saat ini pihak pesantren sedang menyiapkan skema kedatangan santri sekaligus persiapan-persiapan penyambutan santri dalam fase kebijakan New Normal.

 

"Di Pesantren Denanyar masuknya pertengahan Juli, sehingga ada persiapan satu bulanan setengah untuk melakukan langkah-langkah bagaimana menerima kepulangan santri," tuturnya.

 

Pewarta: Syamsul Arifin
Editor: Muhammad Faizin

BNI Mobile