Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
HARI LINGKUNGAN HIDUP DUNIA

Mari Saling Dukung Lakukan Penyelamatan Lingkungan

Mari Saling Dukung Lakukan Penyelamatan Lingkungan
Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan pada Badan Restorasi Gambut (BRG) RI, Myrna A Safitri (Foto: Istimewa)
Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan pada Badan Restorasi Gambut (BRG) RI, Myrna A Safitri (Foto: Istimewa)

Jakarta, NU Online

Tepat hari ini Jumat (5/6) diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup sedunia atau masyarakat dunia menyebutnya World Environment Day (WED). WED tahun 2020 mengambil tema time for nature atau keaneragaman hayati. 


Pada momentum kali ini, Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan pada Badan Restorasi Gambut (BRG) RI, Myrna A Safitri, berharap dapat mendorong masyarakat untuk memperkuat penyelamatan lingkungan secara kolaboratif dan saling mendukung, supaya tidak terjadi perubahan iklim yang mengarah kepada rusaknya lingkungan hidup. 


Myrna menegaskan, sudah saatnya seluruh pihak saling mendukung melakukan penyelamatan lingkungan hidup. Hal itu agar kehidupan umat manusia di dunia tidak terancam. 


“Hari Lingkungan Hidup sedunia tahun ini kan temanya time for nature, diharapkan semua pihak saling mendukung agar upaya untuk penyelamatan lingkungan dan pembangnan manusia bisa berjalan dengan baik,” kata Myrna A Safitri kepada NU Online, Jumat (5/6). 


Ia menjelaskan, BRG RI yang bertugas memulihkan ekosistem gambut di  7 provinsi di Indonesia merasa perlu menyampaikan imbauan kepada publik bahwa komitmen menjaga lingkungan terutama menjaga lahan gambut harus terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 


Selanjutnya, di era globalisasi seperti saat ini, menjaga lingkugan hidup tidak boleh sebatas dikampanyekan melalui narasi-narasi tetapi sungguh-sungguh dilaksanakan oleh tindakan setiap insan.


“Menjaga ekosistem gambut itu menjadi komtimen yang betul-betul dilaksanakan, dipatuhi bukan hanya disampaikan di narasi saja, saatnya mewjudkan dalam tindakan,” kata dia. 


Kemudian yang perlu diwaspadai oleh masyarakat terutama mereka yang hidup di perdesaan gambut adalah kemarau panjang yang diprediksi terjadi dalam waktu dekat ini. Menurutnya, BRG RI meminta kepada seluruh pihak terutama perusahaan untuk mewaspadai kemarau sedini mungkin. 


Tidak hanya langsung disampaikan kepada masyarakat, BRG pun memanfaatkan media sosial untuk memberikan peringatan perihal potensi kerusakan lingkungan hidup di musim kemarau seperti terjadinya kebakaran hutan dan lahan. 


Pada prinsipnya, menjaga lingkungan hidup tidak bisa dilakukan melalui perdebatan atau saling menyalahkan satu sama lain. Semua pihak bertanggung jawab, sebab, kesehatan lingkungan menjadi modal utama generasi umat manusia ratusan tahun kemudian. 


“Mari saling mengisi sesuai dengan tugas kita masing-masing, bagaimanpun upaya pencegahan dan penanggulangan gambut tak bisa dikerjakan satu institusi saja memerlukan kerja sama banyak pihak,” tuturnya. 


Selama ini, kerja keras BRG dalam merawat lingkungan intens dilakukan di lapangan. Ada banyak pihak yang terlibat di antaranya perguruan tinggi, mahasiswa, pemuka agama, korporasi, pemerintah daerah dan masyarakat.  


BRG tidak ingin ada pihak-pihak yang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan kerusakan lingkungan seperti membuka lahan dengan cara dibakar. Karenanya, penting sekali kerja sama antarlembaga dan masyarakat dalam merawat dan melestarikan lingkungan hidup. 


“Kita tidak ingin ada pihak-pihak yang memanfaatkan kesempatan untuk melakukan pembakaran. Itu yang ingin kami sampaikan. Mari membersihkan pikiran  membersihkan hati  untuk sama-sama betu-betul melakukan upaya pencegahan kebakaran,” ungkapnya. 


Dalam catatan NU Online, WED kali ini Kolumbia dipilih Program Lingkungan PBB (UNEP) menjadi tuan rumah Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2020 yang dilakukannya bersama Jerman. Tema keanekaragaman hayati menjadi bagian dari kehidupan manusia yang diwujudkan dari makanan sampai obat-obatan. Mengapa? Karena, 87 dari 115 tanaman pangan global bergantung pada penyerbukan serangga atau hewan. Maka penting sekali menampilkan narasi keaneragaman hayati dalam momentum kali ini. 


Selain Indonesia yang berkomitmen ikut serta merefleksikan WED ada 143 negara yang juga turut serta di dalamnya. WED sendiri menjadi kendaraan utama PBB untuk mendorong kesadaran dan tindakan, melindungi lingkungan. WED telah menjadi platform global untuk penjangkauan publik yang pertama kali diselenggarakan pada tahun 1974.


Pewarta: Abdul Rahman Ahdori 
Editor: Abdullah Alawi 
 

BNI Mobile