Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Tips Dakwah di Televisi Menurut KH Fuad Thohari

Tips Dakwah di Televisi Menurut KH Fuad Thohari
KH Fuad Thohari (Foto: cariustadz.com)
KH Fuad Thohari (Foto: cariustadz.com)

Jakarta, NU Online

Salah satu dai NU, KH Fuad Thohari berbagi tips sukses berdakwah melalui televisi. Menurut dai yang sudah go internasional, ada empat hal penting yang harus diperhatikan pendakwah melalui televisi baik siaran langsung maupun tapping (rekaman).

 

"Pertama penguasaan materi. Kedua gestur tubuh harus menarik waktu dilihat orang," ungkapnya saat acara Dialog Ustadz yang diadakan oleh LD PBNU secara daring, Jumat (6/6).

 

Pendakwah di televisi jangan merasa risi jika sebelum tampil di-make up lebih dulu, baju harus disesuaikan dengan studio, lighting. "Terkadang sering  berganti baju. Di situ dai harus sabar, jangan protes," ungkapnya.

 

Faktor ketiga, vokal harus jelas termasuk saat melafalkan huruf seperti a, i, u, e, o. Adapun keempat, metode harus komunikatif. "Jika ada empat kamera, teknisnya kita lihat kamera yang  menyala. Jadi mata jangan nyelonong bisa-bisa tidak fokus," ujarnya.

 

Pihaknya juga menjelaskan dai dalam membaca ayat dan hadits jangan sampai salah pelafalan. Perlu pula ditambah penguasaan hafalan aqwal ulama (pernyataan, pemikiran ulama) di kitab-kitab fikih. "Jangan sampai salah dalam menyebut istilah sampai membuat marah mualif kepada narasumber akibat kutipan yang disampaikan salah," katanya.

 

Sebelum diundang acara televisi, dai juga harus pintar bertanya kepada produser terkait menyampaikan materi apa, monolog atau talkshow, syuting di studio atau di luar studio, siaran duduk atau berdiri. Ia mengatakan mungkin saja ada narasumber yang tidak kuat berdiri bahkan tidak kuat terkena sinar matahari.

 

"Jika dipaksakan bisa kaget dan materi tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan. Jadi bisa berantakan dan akhirnya materi yang sudah dihafal hilang," jelasnya.

 

Dia menambahkan setelah dijelaskan terkait monolog atau talk show jika tidak ada audiens harus siap mental karena hanya berbicara sendiri di depan kamera perlu mental kuat. Jangan  sampai dalam menyampaikan materi di tengah-tengah melamun. Hal itu dikhawatirkan bisa lost contact jika misalnya siaran talkshow. 

 

Hal yang harus diketahui juga adalah durasi berapa lama diberikan kesempatan menyampaikan materi. "Harus diingat betul durasinya. Jadi ketepatan waktu atau timing saat siaran harus betul-betul menjadi perhatian. Jangan sampai kita menyiapkan materi sepuluh menit ternyata dikasih tahu produser hanya tiga menit. Nanti materi yang tujuh menit mau dikemanakan, bisa-bisa berantakan," paparnya.

 

Menurutnya, setiap dai dalam penyampian materi harus lengkap seperti judul, tema, dan poin- poin pentingnya. Pola belajar dai bisa latihan di depan cermin dengan suara yang jelas, sehingga nanti suara betul-betul terdengar intonasinya.

 

Ketepatan-ketepatan itu sangat penting diperhatikan terlebih jika dai mengisi siaran langsung. Kiai Fuad menjelaskan ada perbedaan antara siaran langsung dan rekaman. Jika rekaman, saat ada kesalahan bisa diedit, tetapi kalau langsung kesalahan menjadi rawan.

 

Terkait materi yang sudah disampaikan produser, harus dicari ayat atau haditsnya, juga aqwal ulama. Semua materi itu harus dihapalkan sehingga waktu kamera mulai dinyalakan, tidak ada pengulangan. 

 

Acara Dialog Ustad dengan tema Strategi Mengisi Acara Televisi dan Media Sosial tersebut turut dihadiri secara daring oleh para pengurus LD PBNU Hong Kong, KH Misbahul Munir, Gus Hayid. Selain itu banyak lagi tokoh penggerak dakwah NU yang berjuang berdakwah menyebarkan Islam yang rahmatan lil‘alamin di wilayahnya masing- masing.

 

Kontributor: Mochamad Ronji

Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile