Ikut Tangani Covid-19, Arsinu: NU Tidak Hanya Bicara Masalah Keagamaan

Ikut Tangani Covid-19, Arsinu: NU Tidak Hanya Bicara Masalah Keagamaan
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menerima layanan dokter NU. (Foto: NU Peduli)
Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj menerima layanan dokter NU. (Foto: NU Peduli)

Jakarta, NU Online

Sejak Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus pertama Covid-19 di Indonesia, Nahdlatul Ulama bergegas membantu masyarakat dan pemerintah dengan membentuk Satgas NU Peduli Covid-19. Berbagai aksi dilakukannnya guna menanggulangi virus Corona atau Covid-19.

 

Pengurus Pusat Asosiasi Rumah Sakit NU (Arsinu) menyatakan, keterlibatan NU dalam menangani Covid-19 menunjukkan bahwa NU tidak hanya aktif membantu masyarakat dan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan sosial dan keagamaan, tetapi juga mampu berperan menangani persoalan kesehatan.

 

"NU tampil di tengah masyarakat sebagaimana yang dibutuhkan oleh masyarakat saat ini. Artinya NU tidak hanya berbicara masalah sosial keagamaan saja, tetapi juga muncul di tengah-tengah Covid-19 yang memang saat ini menjadi masalah," kata Ketua PP Arsinu HM Zulfikar As`ad pada acara Halal bi halal dan Sarasehan secara virtual, yang diselenggarakan Arsinu dan PDNU, Ahad (7/6).

 

Menurut Zulfikar, selain memiliki rumah sakit, di dalam NU juga terhimpun para dokter. Sehingga peran yang dimainkan NU disebutnya layak berbicara dalam banyak hal, termasuk kesehatan. 

 

Sementara Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kembali menegaskan, amanat yang diemban manusia sebelum amanat agama, jabatan, keluarga, dan lainnya, adalah amanat insaniyah. Amanat tersebut mengharuskan manusia terus berupaya membangun kehidupan yang harmonis.

 

"Wa bil khusus para dokter, perawat, para pengabdi kesehatan masyarakat, para pegiat kesehatan. Ini jelas harus harmonis, harus menumbuhkan, meningkatkan tata kehidupan yang harmonis," kata Kiai Said.

 

Menurut kiai yang juga Pengasuh Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jagakarsa, Jakarta Selatan itu, kesehatan bersifat universal. Kesehatan tidak dibatasi baik oleh agama, bangsa, suku, maupun budaya.

 

Kiai Said menceritakan, Khalifah Muawiyah bin Abi Sufyan dari Bani Umayyah memiliki dokter pribadi bernama Sarjius yang beragama Kristen Ortodoks. Sarjius mempunyai anak bernama Yahya. 

 

Namun, sambungnya, Yahya tidak mau mengikuti jejak bapaknya yang tinggal di istana. Yahya lebih memilih tinggal di Ramallah, Palestina. Di kota tersebut, Yahya membangun madrasah, dan memiliki murid-murid yang beragama Islam. Yahya mengajarkan berbagai macam ilmu, di antaranya ilmu mantiq dan kategori teens yang menjadi cikal bakal lahirnya ilmu kalam.

 

"Jadi ilmu kalam itu gurunya adalah Yahya bin Sarjius yang beragama Kristen Orotdoks. Gak apa-apa ilmu universal dari mana pun datangnya. Kesehatan universal dari manapun datangnya, yang penting manfaat untuk kita semua, gak ada kaitan dengan teologi kok," terangnya.

 

Kiai Said juga mengemukakan awal mula adanya rumah sakit di Baghdad, Irak.  Menurutnya, Khalifah Bani Abbasiyah, Abu Ja'far Al-Mansur mendirikan Kota Baghdad. Di Baghdad, kata Kiai Said, Abu Ja'far membangun rumah sakit. Namun karena ketiadaan dokter beragama Islam, Abu Ja'far pun mengambil dokter dari Majusi yang bernama Jirjis. Rumah sakit tersebut kemudian dinamakan dengan Bimaristan.

 

"Itulah sekilas cerita tentang awal mula ada rumah sakit di Islam dan ada dokter non muslim masuk ke dalam istana khalifah Islam," ucapnya.

 

Pewarta: Husni Sahal
Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile