Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Selain Konten Menginspirasi, Media Dakwah Daring Butuh Konsistensi

Selain Konten Menginspirasi, Media Dakwah Daring Butuh Konsistensi
Pra Halaqah Perempuan Ulama II membincang cara dakwah di medsos, Senin (8/6). (Foto: Dok. Pusat Studi Pesantren)
Pra Halaqah Perempuan Ulama II membincang cara dakwah di medsos, Senin (8/6). (Foto: Dok. Pusat Studi Pesantren)

Kudus, NU Online
Dakwah melalui media daring (online) membutuhkan setidaknya dua hal, yakni konten yang menarik sekaligus menginspirasi. Selain itu, juga butuh relevansi tema dan konsistensi lahirnya tulisan baru. 

Direktur NU Online Savic Ali mengatakan hal tersebut saat didaulat menjadi narasumber diskusi daring pra Halaqah Perempuan Ulama ke-2 yang diinisiasi Pusat Studi Pesantren (PSP), Senin (8/6).

Ia menceritakan perjalanan dakwah media Islam yang ia kelola. Dakwah NU Online berjalan sejak 2003 silam. Saat itu, pembacanya masih sedikit sekali. Banyaknya pembaca NU Online, kata dia, dimulai sejak munculnya telepon pintar (smartphone) keluaran Tiongkok sekitar tahun 2010.

“Butuh waktu sekitar tujuh tahun. Kurang lebih pada tahun 2010 baru mulai banyak pembaca dari kalangan Nahdliyin,” ungkap pria yang juga founder Islami.co ini.

Menurut Savic, banyaknya pembaca karena faktor konten yang menarik. Ia menyebutkan saat ini redaksi NU Online aktif menyiapkan konten-konten keislaman sesuai kebutuhan warganet. Sehingga dapat menarik minat mereka untuk membaca artikel di website keislaman nomor wahid ini.

“Selain itu, relevansi tema juga sangat penting. Semenjak NU Online menulis tema umum, artikel-artikel tersebut dapat menjangkau lebih banyak lagi masyarakat urban,” jelasnya.

Savic menambahkan, konsistensi menjadi hal yang penting untuk media Nahdliyin dapat lebih maju mengalahkan konten media Salafi dan Wahabi.

“Jika konsisten mengunggah video ulama Nahdliyin seperti Gus Baha’, misalnya, maka pandangan Islam moderat akan memenuhi medsos sekaligus dapat mempengaruhi wajah Islam di masa mendatang,” terangnya.

Menghargai perempuan

Sebelumnya, founder Pusat Studi Pesantren (PSP) Ahmad Ubaidillah Al-Bantany yang turut hadir menyampaikan bahwa diskusi interaktif ini terbatas. Hanya dihadiri 20 perwakilan pesantren dengan harapan dapat berjalan lebih akrab.

Ia juga menyebutkan, dengan mengangkat tema perempuan ulama merupakan bentuk penghargaan atas kontribusi ulama perempuan yang belum banyak muncul di permukaan.

Sebelumnya, PSP menggelar pra Halaqah Perempuan Ulama pertama dengan pembicara Nyai Hj Ienas Tsuroiya (Pesantren Raudlatuth Thalibin Leteh Rembang) dan Nyai Hj Durrotun Nafisah (Pesantren Kauman Lasem Rembang).

“Pada kesempatan kedua ini, kami mengundang Nyai Umdah dari Pesantren Mansajul Ulum Cebolek, Margoyoso, Pati dan Ning Tutik Direktur Pusat Studi Pesantren dan Fiqh Sosial Institut Pesantren Mathali’ul Falah (Pusat Fisi IPMAFA) Pati,” ungkapnya.

Kedua narasumber tersebut berbagi kisah tentang dakwah di medsos. Termasuk hambatan-hambatan yang harus dilalui dalam menjalankan dakwah secara daring. Diskusi daring bertema ‘Jalan Dakwah di Media Sosial dan Penguatan Literasi Pesantren’ itu disiarkan langsung melalui aplikasi Zoom.

Kontributor: Afina Izzati
Editor: Musthofa Asrori

BNI Mobile