Ketika Para Santriwati Tak Ada yang Mengaku Telah Kentut

Ketika Para Santriwati Tak Ada yang Mengaku Telah Kentut
Pendidikan yang keras bisa jadi mendorong peserta didik untuk tak jujur atas kesalahannya. (Ilustrasi: Dok. PP Sirojuth Tholibin Brabo)
Pendidikan yang keras bisa jadi mendorong peserta didik untuk tak jujur atas kesalahannya. (Ilustrasi: Dok. PP Sirojuth Tholibin Brabo)

Dalam sebuah kegiatan nariyahan (membaca shalawat Nariyah) malam Kamis bakda Maghrib di sebuah pesantren, seorang santriwati tak bisa menahan kentutnya. Maka berembuslah bau tak sedap di sebuah ruang aula pondok putri. Kegiatan rutin setiap Rabu malam itu kebetulan dipimpin salah seorang pengurus pondok putri yang dikenal paling galak. Sebut saja namanya Ustadzah Maryanti. Ia terkenal sangat keras terhadap mereka yang bersalah.


“Aduh... baunya. Siapa kentut nih?!” tanya Ustadzah Maryanti di tengah-tengah ia memimpin kegiatan itu. Ia pun tak mampu menahan lontaran pertanyaan itu karena bau ketutnya memang tak bisa ditoleransi. Diulanginya pertanyaan itu hingga dua kali. Tapi tetap saja tak ada santriwati yang mengaku.


Satu-satunya teori yang sudah umum beredar di masyarakat namun tidak jelas validitasnya untuk menunjuk siapa yang telah kentut adalah analogi "petok-petok ayam betina". Teori ini berbunyi, siapa yang pertama-tama berisik di saat ada kentut dialah sumber kentut itu. Jika teori ini dianggap benar maka sumber kentut adalah Ustadzah Maryanti sendiri. Pertanyaannya, apakah mungkin hal ini?


Ustadzah Maryanti mengulang pertanyaanya sekali lagi. Kali ini nadanya sangat tinggi. Semua santriwati saling menatap. Mereka tetap diam seribu bahasa. Tak seorang pun mengaku telah kentut. Bahkan mengira-ngira siapa yang telah kentut saja tidak ada yang sanggup. Masalahnya tidak mudah menunjukkan bukti bahwa seseorang telah kentut.


Bau kentut tak segera mereda, malahan menyebar ke area yang lebih luas. Semakin banyak santri menutup hidungnya meski tetap melafalkan shalawat Nariyah dengan khusyu’. 


“Kentut bosok!” ketus salah seorang santriwati, sebut saja namanya Mimin.Tetapi ia hanya bergumam dalam hati sebab ia takut suaranya akan membikin gaduh acara yang sedang berlangsung khidmat itu. Tidak hanya itu, ia juga takut dimarahi Ustadzah Maryanti yang lagi marah karena tak ada seorang pun santriwati yang mengaku telah kentut.


Sementara acara rutin itu terus berlangsung, adzan Isya’ berkumandang dari masjid. Acara segera dihentikan karena telah berakhir dengan berkumandangnya adzan Isya’. Di sela-sela adzan menggema ke seluruh kompleks pesantren, Ustadzah Maryanti mencoba memanfatkan waktu. Dia panggil santriwati bernama Mimin. Dimintanya ia datang mendekat kepada sang pengurus pondok itu.


Ustadzah Maryanti membisikkan kata-kata di telinga Mimin yang berisi pesan agar ia memperhatikan dan mengingat siapa saja yang mengambil air wudhu sebelum melaksanakan jamaah shalat Isya’ yang berlangsung di aula itu juga. Mimin menyatakan kesanggupanya dengan memberikan jawaban “ya” meski ia sendiri tidak tahu apa sebenarnya maksud di balik perintah itu.


Ketika iqamah telah dikumandangkan dari masjid, hampir seluruh santriwati langsung bergabung dalam jamaah shalat Isya’ dengan imam Ustadzah Maryanti kecuali dua orang santriwati.


Sebut saja kedua santriwati yang masih duduk di bangku kelas 2 Tsanawiyah itu masing-masing bernama Imah dan Ipah. Keduanya keluar dari aula menuju ke tempat wudhu. Mimin memperhatikan betul keduanya dan berusaha mengingatnya untuk dilaporkan kepada Ustadzah Maryanti.


“Mbak Imah mau ke mana?” tanya Mimin.


“Mau ke tempat wudhu, saya mau wudhu dulu. Saya sudah batal” jawab Imah.


“Mbak Ipah mau ke mana?” tanya Mimin.


“Mau ke tempat wudhu juga, mau wudhu. Sudah batal saya,” jawab Ipah sama dengan jawaban Imah.


Setelah jelas siapa saja yang mengambil air wudhu sebelum shalat Isya’, Mimin segera bergabung dengan jamaah shalat Isya’. Demikian pula Imah dan Ipah segera menyusul setelah masing-masing selesai berwudhu.


Ketika jamaah Isya’ telah usai, Ustadzah Maryanti berbicara kepada Mimin dan memerintahkannya agar kedua santriwati yang mengambil ambil wudhu sebelum shalat Isya’ menemuinya di kantor pengurus pondok putri. Segera setelah itu Mimin menghubungi Imah dan Ipah dan memberi tahu kepada mereka bahwa Ustadzah Maryanti menunggunya di kantor pondok.


“Ada sesuatu yang akan dibicarakan” kata Mimin kepada kedua santriwati itu menirukan ucapan Ustadzah Maryanti.


Pertama-tama dipanggillah nama Imah dan diperintahkan segera masuk ke dalam ruang kantor pondok putri. Di sana telah menunggu Ustadzah Maryanti yang duduk di kursi kerjanya.


“Benar tadi kamu ambil air wudhu sebelum shalat Isya’?” tanya Ustadzah Maryanti memulai pembicaraan.


“Benar. Memang kenapa ustadzah? tanya Imah kepada Ustadzah Maryanti.


“Tidak ada apa-apa. Saya hanya sekadar bertanya. Tapi ngomong-ngomong kenapa kamu ambil air wudhu? Kamu memang sudah batal?”


“Iya saya memang sudah batal. Jadi saya harus wudhu dulu sebelum shalat Isya’ karena kentut?” jawab Imah.


“Kapan kentutnya?”


“Waduh, masak kayak gitu ditanyakan, Ustadzah. Tapi ooo... ini maksudnya terkait dengan bau kentut tadi sewaktu nariyahan sedang berlangsung ya?”


“Iya betul. Itu kan su’ul adab, kan?” kata Ustadzah Maryanti.


“Iya memang, tapi saya kentutnya waktu nariyahan telah usai dan tidak bau” jawab Imah tegas.


Ustadzah Maryanti kemudian meminta Imah meninggalkan ruang kantor itu dan kembali ke kamarnya. Pembicaaraan dengannya sudah cukup. Sebelumnya ia menyampaikan terima kasih atas kesediaan Imah mau memenuhi permintaannya menghadap padanya.


Sementara itu Ipah masih menunggu di luar ruang kantor. Lalu dipanggillah namanya supaya segera masuk ke dalam. Dilihatnya wajah Ustadzah Maryanti sudah tak ramah begitu ia memasuki ruang itu. Wajahnya menampakkan kemarahan. Ipah sudah bisa menebak ia pasti akan diadili.


Tetapi ia sudah menyiapkan jawabannya. Ia tahu betul untuk lolos dari kemarahannya, satu-satunya cara adalah dengan tidak jujur alias berbohong. Ini sudah menjadi rahasia umum di kalangan santriwati yang sudah sering berurusan dengan masalah pelanggaran terhadap ketertiban.


“Silakan duduk,” kata Ustadzah Maryanti mempersilakan Ipah duduk di kursi yang telah disediakan persis di depan mejanya.


“Tadi kamu ya yang kentut waktu nariyahan berlangsung?” Ustadzah Maryanti langsung menembak tanpa ba bi bu. 


“Ustadzah Yanti punya bukti kalau itu saya yang kentut?” jawab Ipah.


“Yang namaya orang kentut itu di mana-mana tidak mudah dibuktikan apalagi kalau tanpa suara. Tetapi fiqih itu bisa membantu untuk memecahkan masalah ini. Tadi kenapa kamu berwudhu sebelum shalat Isya’? Kamu telah kentut kan?


“Betul tadi saya ambil wudhu sebelum shalat Isya’ karena saya memang telah kentut. Tetapi itu tidak bisa serta merta disimpulkan bahwa saya adalah orang yang kentut waktu nariyahan itu berlangsung,” jawab Ipah mencoba berdiplomasi.


“Sudahlah tidak usah kau berbelit-belit, langsung saja jawab pertanyaan saya. Apakah kamu kentut waktu acara nariyahan berlangsung?” tanya sang ustadzah yang sudah tak sabar lagi menunggu pengakuan Ipah. Ia sangat penasaran dan akan segera memberikan sanksi atas su’ul adab itu sebagai pelajaran.


Hingga pukul 9 malam, Ustadzah Maryanti tidak berhasil mengungkap bahwa Ipah adalah orang yang telah kentut sewaktu nariyahan berlangsung. Di satu sisi, ia sangat mencurigai Ipah dan bukannya Imah yang telah berbuat itu. Tetapi Ipah sendiri terus-menerus menyangkal hal itu. Di sisi lain, Ustadzah Maryanti juga sadar untuk tidak terlalu su’udzon pada Ipah karena memang tak memiliki bukti dan saksi . Ia mulai goyah atas kecurigaannya kepada Ipah. Ia beralih mencurigai Imah, jangan-jangan dia telah berbohong dengan kata-kata lembutnya.


Jarum jam di dinding kantor pondok putri terus merayap hingga akhirnya menunjukkan pukul 11 malam. Ustadzah Maryanti sadar tidak baik dan tidak boleh memaksa Ipah untuk mengakui sesuai kecurigaannya. Akhirnya ia memutuskan untuk mempersilakan Ipah kembali ke kemarnya. Hari mendekati tengah malam. Mereka sama-sama harus tidur untuk istirahat.


Keesokan Harinya

Sebagai santri senior di pondok, Ustadzah Maryanti sebenarnya juga seorang mahasiswi semester 7 di sebuah univeristas yang tak jauh dari pesantren. Esok harinya setelah nariyahan itu, ia masuk kuliah bahasa Inggirs yang tidak sempat dia ambil di semester 3 karena sakit. Dalam kuliah itu ia mendapat materi Reading Comprehension yang membahas pandangan-pandangan Ibnu Khaldun tentang pendidikan sebagaimana ditulisnya dalam kitabnya berbahasa Arab berjudul “‘Muqaddimmah”.


Kitab itu telah dirujuk oleh Dr. Fahri Kayadibi dari Istambul University Turki dalam artikelnya berbahasa Inggris dengan judul Ibn Khaldun and Education. Dr. Fahri Kayadibi antara lain mengutip sebagai berikut:


During education and teaching, it is harmful to be very strict on the student especially if the student is of young age. This sort of aggressiveness negatively influences the child. It may affect the psychology of the child and create unhappiness as well as corrupt his desire to work and study. This will drive the child to misbehaviour and to lie out of fear. He will learn to display actions contrary to those really within his heart.

(Selama pendidikan dan pengajaran, sangat berbahaya bersikap sangat keras terhadap siswa terutama jika siswa itu usianya masih muda. Sikap agresif semacam ini berpengaruh negatif terhadap anak tersebut. Bisa saja sikap semacam itu berdampak pada psikologi anak dan menciptakan ketidakbahagiaan serta merusak hasratnya untuk bekerja dan belajar. Hal ini akan mendorong anak berperilaku salah dan berbohong karena takut. Anak itu akan belajar menunjukkan perilaku yang berlawanan dengan hati nuraninya).


Membaca kutipan yang bersumber dari Ibnu Khladun itulah, Ustadzah Maryanti terkaget. Jatungnya berdebar-debar. Ia teringat akan Imah dan Ipah yang telah disidangnya semalam. Ia menjadi paham kenapa dari keduanya tidak bisa diungkap siapa sebenarnya yang telah kentut pada saat nariyahan berlangsung. Padahal jelas mereka berdua sudah batal wudhunya akibat kentut sebagaimana diakui oleh masing-masing. Dengan pendekatan fiqih seperti itu mestinya ia berhasil mengungkap siapa pelakunya di antara Imah dan Ipah.


Tetapi persoalannya bukan hanya menyangkut fiqih. Ada persoalan lain yang sangat berpengaruh, yakni psikologi pendidikan. Dari pandangan-pandangan yang disampaikan Ibnu Khaldun, ia mendapat pencerahan bahwa sikap kerasnya selama ini dalam menangani para santriwati di pondok yang berbuat salah jangan-jangan telah mendorong dan membentuk sikap mereka tidak jujur alias berbohong dalam memberikan keterangan agar selamat dari ancaman hukuman berat sebagaimana biasa ia berikan kepada siapa pun yang melanggar aturan termasuk sopan santun. 


“Memang kalau dipikir-pikir kurang mendidik, ketika mereka jujur dan mengatakan apa adanya mereka malah diberi hukuman berat. Seharusnya mereka mendapat ampunan atas kejujurannya. Bukankah ketika mereka telah mengaku berbuat salah, teman-teman sepondok jadi tahu semuanya dan tentu saja itu sudah cukup menjadi sanksi karena telah mencoreng nama baiknya sendiri di depan teman-temanya?” 


Begitulah ustadzah Maryati mencoba menasihati dirinya sendiri sebagai introspeksi atau muhasabah. 

 

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Univeritas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.
 

BNI Mobile