13 Juni, Hari Lahir Sastrawan Ahmad Tohari, Wafatnya Tokoh NU Betawi Mualim Radjiun

Ahmad Tohari (kiri) dan (kemungkinan) kediaman atau majelis taklim Mualim Radjiun
Ahmad Tohari (kiri) dan (kemungkinan) kediaman atau majelis taklim Mualim Radjiun, 13 Juni, Hari Lahir Sastrawan Ahmad Tohari, Wafatnya Tokoh NU Betawi Mualim Radjiun
Ahmad Tohari (kiri) dan (kemungkinan) kediaman atau majelis taklim Mualim Radjiun, 13 Juni, Hari Lahir Sastrawan Ahmad Tohari, Wafatnya Tokoh NU Betawi Mualim Radjiun

Jakarta, NU Online 

Berdasarkan Ensiklopedia NU, hari ini, 13 Juni merupakan hari lahir Ahmad Tohari dan wafatnya Mualim KH Muhammad Radjiun. Ahmad Tohari merupakan seorang sastrawan terkemuka Indonesia yang lahir di Tinggarjaya, Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah, 13 Juni 1948. Sementara Mualim Radjiun merupakan tokoh NU di Betawi atau DKI Jakarta. 
 

Menurut Ensiklopedia NU, Ahmad Tohari adalah seorang pembelajar otodidak di dunia kepengarangan dengan bakat dan hasrat yang besar. Masa awal kepengarangannya beriringan dengan pekerjaannya sebagai redaktur majalah terbitan BNI 46, harian Merdeka, dan majalah Keluarga serta Amanah di Jakarta.Tetapi, kemudian ia memilih pulang dan tinggal di desanya.


Di antara karyanya adalah Kubah (novel, 1980); Ronggeng Dukuh Paruk (novel, 1982); Lintang Kemukus Dini Hari (novel, 1985); Jentera Bianglala (novel,1986); Di Kaki Bukit Cibalak (novel, 1986); Senyurn Karyarnin (kumpulan cerpen,1989); Bekisar Merah (novel, 1993); Mas Mantri Gugat (kurnpulan esai, 1994); Lingkar Tanah Lingkar Air (novel, 1995); Mas Mantri Menjenguk Tuhan (kumpulan esai, 1997); Nyanyian Mularn (kumpulan cerpen, 2000); Belantik (novel, 2001); Orang-orang Proyek (novel, 2002); dan Rusmi Ingin Pulang (kumpulan cerpen, 2004).


“Dari segi latar belakangnya sebagai santri, trilogi Ronggeng Dukuh Paruk juga sangat unik. Di sini Tohari menunjukkan perhatiannya yang sangat rinci dan lengkap mengenai kebudayaan dan pandangan dunia kelompok masyarakat yang dalam kategori sosial disebut sebagai abangan plus simpatinya yang mendalam. la memang sangat mengakrabi lingkungannya dan seperti tak mengenal marka-marka sosial yang diciptakan oleh ideologi politik maupun agama di hadapannya,” tulis Ensiklopedia NU.

 

Baca: Pidato Kebudayaan Ahmad Tohari: Membela dengan Sastra


Sementara Mualim Radjiun sosok yang diakui Mualim KH Syafi’i Hadzami dan KH Zainuddin MZ sebagai gurunya. Ia lahir di Kebon Sirih, Jakarta Pusat, pada 1916. Pada masa mudanya ia menimba ilmu dari beberapa ulama Betawi, di antaranya Guru Manshur Jembatan Lima dan Guru Abdul Madjid Pekojan (kedunya tokoh NU Betawi). Kemudian bersama adiknya, Hasanat, pergi ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama.


“Setelah belasan tahun di Makkah, Mu`allim Radjiun kembali ke tanah air dan bergabung dengan beberapa teman serta juniornya di Jam`iyatul Qurra wal Huffazh, organisasi yang menaungi para qari dan penghafal Al-Qur`an, antara lain: KH Tb. Mansur Ma`mun, KH Shaleh Ma`mun Serang, Banten, KH Abdul Hanan Said, KH Abdul Aziz Muslim. Beliau juga aktif di NU (Nahdlatul Ulama),” tulis situs MUI DKI Jakarta.

 

Lebih jauh tentang Mualim Radjiun yang wafat pada 13 Juni 1982 ini bisa dibaca di NU Online pada artikel berikut ini:

 


Pewarta: Abdullah Alawi 
Editor: Alhafiz Kurniawan 

BNI Mobile