Pesantren Amanatul Ummah Sambut Kedatangan Santri dengan Istighotsah

Kegiatan isti8ghotsah dan doa bersama di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto. (Foto: NU Online/Rofi)
Kegiatan isti8ghotsah dan doa bersama di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto. (Foto: NU Online/Rofi), Pesantren Amanatul Ummah Sambut Kedatangan Santri dengan Istighotsah
Kegiatan isti8ghotsah dan doa bersama di Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto. (Foto: NU Online/Rofi), Pesantren Amanatul Ummah Sambut Kedatangan Santri dengan Istighotsah

Mojokerto, NU Online
Sejumlah pesantren mulai menyiapkan aneka penyambutan kedatangan santri usai libur panjang. Prosedur kesehatan dilakukan, di samping juga ritual keagamaan demi memastikan proses tafaqquh fiddin berjalan sesuai harapan.

 

Cara berbeda dilakukan Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto Jawa Timur dalam menyambut santri. Yang dilakukan adalah dengan menggelar istighotsah dan doa bersama. Kegiatan ini dihadiri langsung KH Asep Saifuddin Chalim selaku pengasuh pesantren bersama seluruh Dewan Pengurus Daerah (PD) Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Pengurus Takmir Kabupaten Mojokerto. Acara dipusatkan di di Masjid Raya KH Abdul Chalim Pacet, Sabtu (13/6).

 

Pada kegiatan dengan mengambil tema ‘Memutus Mata Rantai Covid-19’ tersebut, pengasuh pesantren menjelaskan mengenai mulianya seorang takmir masjid

 

"Para takmir masjid merupakan mukminin dan mukhlisin yakni orang yang mukmin dan ikhlas sehingga dua hal tersebut merupakan syarat dikabulkannya doa,” kata Kiai Asep, sapaan akrabnya. Karena itu diharapkan dengan menghadirkan para takmir masjid, maka sejumlah persoalan bangsa termasuk virus Corona dapat hilang. Karena saat ini sudah selayaknya mulai berpikir tentang tatanan hidup baru atau new normal, lanjutnya.

 

Menurut salah seorang putra pendiri Nahdlatul Ulama, KH Abdul Chalim tersebut, sekarang berada pada masa transisi new normal life atau kehidupan normal yang baru. Karenanya diharapkan usai istighotsah segala hajat dikabulkan dan Corona segera hilang.

 

Sedangkan Ketua Yayasan Amanatul Ummah, Muhammad Al-Barra dalam sambutanya menyampaikan bahwa kegiatan akan berlangsung selama dua hari. Hal tersebut sebagai upaya batin dengan tujuan memutus mata rantai Covid-19. Pada saat yang sama, tetap memperhatikan protokol kesehatan sebagai ikhtiar lahir.

 

"Dengan istighotsah, kita bermunajat agar Covid-19 segera lenyap dari bumi ini. Kendati demikian, kita juga tetap memberlakukan protokol kesehatan di tengah new normal life,” katanya.

 

Karenanya, putra bungsu Kiai Asep ini menjelaskan bahwa para jamaah istighotsah diwajibkan memakai masker, mencuci tangan, dan tetap memastikan dengan jarak satu meter dengan jamaah lain.

 

Pria yang juga sebagai Pembina Pergunu (Pengurus Guru Nahdlatul Ulama) Kabupaten Mojokerto tersebut mengemukakan bahwa setelah halal bihalal dilanjutkan silaturahim dengan pengurus masjid yang ada. Hal tersebut sebagai upaya memperkuat kebersamaan dalam menanggulangi penyebaran virus Covid-19.

 

Ketua PD DMI Kabupaten Mojokerto sekaligus ketua panitia, Nur Rakhmad menyampaikan bahwa kegiatan berlangsung Sabtu hingga Ahad dan dihadiri sekitar 1100 peserta yang dibagi beberapa sesi. Sesi pertama yakni pada pukul 09:00 hingga 10:30 WIB dan sesi kedua yakni 14:00 sampai 16:30Wib. Berikutnya yakni Ahad dengan waktu yang sama dan setiap sesi yang hadir sekitar 427 pengurus takmir masjid di Kabupaten Mojokerto.

 

“DMI mengharapkan agar setelah acara ini, seluruh masjid yang ada di Indonesia segera dibuka kembali untuk digunakan ibadah dan demi kemaslahatan umat bersama," kata Nur Rakhmad.

 

Setelah selesai, seluruh peserta mendapatkan paket sembilan bahan pokok atau Sembako. Hal tersebut untuk sedikit meringankan beban ekonomi di tengah pandemi.

 


Kontributor: Rofi
Editor: Ibnu Nawawi
 

BNI Mobile