Pengajian Tafsir Al-Ibriz di Pesantren Al-Itqon Semarang Dimulai

Pengasuh Pesantren Al-Itqon Semarang KH Ubaidullah Shodaqoh (kanan)
Pengasuh Pesantren Al-Itqon Semarang KH Ubaidullah Shodaqoh (kanan)
Pengasuh Pesantren Al-Itqon Semarang KH Ubaidullah Shodaqoh (kanan)

Semarang, NU Online

Majelis Taklim Pengajian Kitab Tafsir Al-Ibriz di Pesantren Al-Itqon Bugen, Semarang, Jawa Tengah yang diselenggarakan setiap Ahad pagi dibuka kembali dengan mengikuti standar protokol kesehatan.

 

Pengasuh Pesantren Al-Itqon Semarang KH Ubaidullah Shodaqoh mengatakan, pengajian kitab tafsir Al-Ibriz ini diselenggarakan setiap Ahad pagi ba'da subuh, dimulai setiap Ahad ketiga bulan Syawal dan diakhiri pada Ahad terakhir bulan Sya'ban.

 

"Alhamdulillah, pada Ahad ketiga bulan Syawal tahun ini pengajian bisa dimulai lagi meski di tengah pandemi Covid-19,  dengan memenuhi protokol kesehatan, jamaah harus menenuhi ketentuan physical distancing, cuci tangan dengan sabun air mengalir, dan memakai masker," ujar Kiai Ubaid yang juga Rais PWNU Jateng di Semarang, Ahad (14/6).

 

Dikatakan, dalam upaya memenuhi protokol kesehatan selama penyelenggaraan ini pihaknya dibantu TNI, Polri, Pemkot Semarang, Banser, dan petugas keamanan pondok.

 

"Ketentuan dan aturan bisa dilaksanakan dengan maksimal, jamaah yang tidak memakai masker diberi masker oleh petugas, jamaah yang posisinya berhimpitan oleh petugas digeser hingga berjarak dan di akhir pengajian, dan KH Haris Shodaqoh pembaca kitab Al-Ibriz tidak bersalaman dengan jamaah," ungkapnya.

 

Ditambahkan, saat pembukaan pengajian pada bulan Syawal selalu dibagikan kue lemper di akhir pengajian, setiap jamaah mendapat satu buah. Kali ini, disiapkan 10 ribu buah lemper, di akhir pengajian tersisa tiga ratusan. 

 

Kiai Haris yang juga Mustasyar PWNU Jateng di akhir pengajian mengatakan, belum tuntasnya pandemi Covid -19 di Kota Semarang diharapkan dapat semakin meningkatkan kualitas keimanan jamaah.

 

"Kondisi ini adalah qadrat dan iradat Allah SWT. Sekaligus hal ini dijadikan muhasabah bahwa ilmu, teknologi, dan kemajuan yang diagung-agungkan itu ternyata tidak mampu menghadapi cobaan yang diturunkan oleh Allah SWT yakni makhluk yang tidak kelihatan," ujarnya.

 

Karena itulah lanjutnya, semangat beribadah yang telah dijalankan selama bulan ramadhan lalu tetap dipertahankan sehingga dapat menguatkan aqidah.

 

Usaha keras untuk mengatasi Covid mulai dari pemenuhan protokol kesehatan hingga upaya lain namun belum menunjukkan hasil maksimal jangan memicu rasa putus asa.

 

"Mari kita tingkatkan terus kualitas ibadah kita, semoga Allah SWT segera menurunkan pertolongan-Nya," pungkasnya.

 

Kontributor: Samsul Huda
Editor: Abdul Muiz

BNI Mobile