Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Mengatasi Ketakutan atau Keberanian Berlebih di Masa Normal Baru

Mengatasi Ketakutan atau Keberanian Berlebih di Masa Normal Baru
Masa sulit ekonomi di tengah Covid-19 bisa dipandang sebagai tantangan bagaimana cara kita bisa melalui tantangan ini.
Masa sulit ekonomi di tengah Covid-19 bisa dipandang sebagai tantangan bagaimana cara kita bisa melalui tantangan ini.

Jakarta, NU Online
Pemerintah menggulirkan tata kehidupan baru (new normal) untuk memulihkan kehidupan ekonomi warga di tengah pandemic Covid-19.

 

Psikolog Sosial Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Any Rufaedah mengatakan pemberlakuan new normal mungkin saja menimbulkan rasa takut sebagian kalangan. Rasa takut itu bisa muncul kalau seseorang terus-menerus mengonsumsi informasi yang menakutkan. 

 

"Misalnya setiap hari baca berita kriminal, ya kita jadinya takut mau ke mana-mana. Agar tidak takut berlebihan, sebaiknya membaca berita atau informasi secara berimbang. Jangan jumlah angka kematian akibat Covid saja yang dibaca, tapi baca juga bagaimana orang merespons dampak Covid-19," kata Any Rufaedah.

 

Selain itu, baca juga berita bagaimana orang merespons Covid-19, misalnya dengan membuat gerakan relawan, gerakan kemanusiaan yang dilakukan individu-individu, gerakan nasi bungkus, dapur umum, sumbangan masker. "Itu semua menunjukkan rasa saling peduli," ujar Peneliti Senior pada Division for Applied Social Psychology Research.

 


Langkah penting dalam menyaring informasi di tengah-tengah pandemic Covid-19 saat ini. Lanjut Any adalah dengan mengecek juga sumber-sumber beritanya. Info yang memuat tanda-tanda hoaks sebaiknya dihindari. "Tanda-tanda berita hoaks kan sudah banyak ya. Sebaiknya tanda-tanda itu dipahami sehingga kita tidak menyibukkan otak dan mata untuk berita yang tidak benar," lanjutnya.

 

Di sisi lain, kata Any, masyarakat ada yang rasa beraninya menjadi berlebihan. Terkait hal ini, Any menjelaskan bahwa masyarakat harus paham kata 'new' dalam new normal. Disebut new  karena masyarakat menjalani hidup dengan pola baru seperti prosedur yang ditetapkan WHO dan pemerintah yang tujuannya agar pandemi benar-benar pergi. Karena itu, jangan kembali ke 'old normal' seperti sebelum ada pandemi.

 

"Kita perlu ingat bahwa vaksin covid-19 itu belum ditemukan, jadi jangan 'gegabah' meskipun sudah boleh keluar rumah," ia mengingatkan.

 

Kesulitan ekonomi sebagai tantangan
 

New normal adalah salah satu cara untuk mengatasi dampak ekonomi. Bagaimana cara agar roda perekonomian tetap bisa berjalan di tengah pandem, dari sisi psikologis kata Any, pandemi adalah bencana yang tidak bisa dikendalikan. Kita tidak bisa menyalahkan pihak tertentu, karena ini melibatkan banyak pihak. 

 

Cara terbaik yang bisa dilakukan adalah menerima keadaan ini sebagai sebuah warna dalam kehidupan dan sudah tidak bisa dihindari. Kedua, menjadikan normal baru sebagai momen untuk menciptakan resolusi baru.

 

"Saat tahun baru biasanya kita kan bikin resolusi baru, apa saja capaian yang ingin kita dapat di tahun ini? Nah kita bisa menjadikan normal baru sebagai momen itu," kata Any.

 

Ia mengatakan, bahwa kondisi masih cukup susah secara ekonomi. Bagi sebagian orang mungkin seperti memulai kerja baru. "Tapi kita bisa memandang dan memanfaatkannya sebagai tantangan, bagaimana nih cara kita bisa melalui tantangan ini," pungkasnya.

 

Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Fathoni Ahmad
 

BNI Mobile