Terima Santri Baru, Pesantren Cinta Rasul Bogor Wajibkan Karantina Mandiri 14 Hari

Terima Santri Baru, Pesantren Cinta Rasul Bogor Wajibkan Karantina Mandiri 14 Hari
Santri Cinta Rasul Bogor pada suatu kegiatan. (Foto: Dok Pesantren Cinta Rasul)
Santri Cinta Rasul Bogor pada suatu kegiatan. (Foto: Dok Pesantren Cinta Rasul)

Bogor, NU Online
Sejak awal Mei 2020, Pesantren Cinta Rasul Bogor, Jawa Barat mulai menerima pendaftaran santri baru. Direktur Pendidikan Pesantren Cinta Rasul, Nadia A Chairunnisa proses pendaftaran dilakukan secara daring untuk menjaga sosial distancing cegah Covid-19.

 

Sistem online memang diterapkan setelah pesantren memulangkan santri mukim pada 27 Maret 2020. Kala itu, para santri dijemput oleh orang tua mereka. Kegiatan pengajian dan pendidikan formal, MI, SMP dan SMK Cinta Rasul lalu dilakukan secara daring.

 

“Alhamdulillah kami juga sudah mengadakan tes kenaikan kelas secara online dari tanggal 8 sampai 13 Juni,” kata Nadia.

 

Pembelajaran dan tes kenaikan kelas secara online, tetap dengan komunikasi aktif antara pihak pesantren dengan orang tua santri.

 

Menurut Nadia, dalam penerimaan santri baru ini, pesantren tetap memberlakukan protokoler cegah Covid-19 dengan beberapa langkah. “Sebelum diantar ke pesantren, santri wajib mengikuti karantina mandiri di rumah masing-masing. Jadi sebelum datang ke pesantren mereka diawasi rangtuanya. Lalu saat kedatangan ke pesantren mereka harus membawa keterangan karantina mandiri selama 14 hari dengan diketahui Ketua RT setempat,” kata Nadia.

 

Para santri juga wajib membawa surat keterangan sehat dari Puskesmas atau dokter setempat. Saat perjalanan ke pesantren, santri harus menjalankan protokol kesahatan, seperti menjaga jarak dan memakai masker.

 

Tiba di pesantren, para santri akan mengikuti karantina tertutup dalam waktu 14 hari di asrama masing-masing. Untuk mendukung kesehatan di pesantren, pihak pesantren juga menyiapkan tempat cuci tangan dan hand sanitizer di beberapa titik.

 

“Semua ini dilakukan agar proses pembelajaran bisa dilaksanakan, santri, pengasuh, kiai semua sehat. Berjalan lancer dengan online dilakukan komunikasi intensif dengan orangtua sosial distancing berjalan terus namun pembelajaran tetap bisa dilaksanakan.

 

Pondok Pesantren Cinta Rasul sendiri adalah salah satu pondok pesantren salafiyah plus yang terdapat di Kabupaten Bogor, tepatnya 10 km arah barat Kampus IPB (Institut Pertanian Bogor), Dramaga. Pondok ini menempati lokasi seluas 6.745 meter persegi di Desa Cijujung, Kecamatan Cibungbulang Kabupaten Bogor.

 

Pengasuh Pesantren, KH Abdul Basit Mahfuf mengatakan Pesantren Cinta Rasul berawal ketika orang tuanya, almarhu H Alimuddin Syah, diuji sakit setelah pulang dari Makkah pada tahun 2004. H Alimuddin lalu membangun masjid di atas tanah wakaf di Komplek Pondok Pesantren Cinta Rasul yang diharapkan dapat menjadi obat untuk penyakitnya.

 

“Masjid ini kemudian diberi nama Masjid Jami’ An-Nuur agar dapat menjadi cahaya bagi umat manusia dan semesta alam,” kata Kiai Basit yang kini mengemban amanah Ketua RMINU Kabupaten Bogor.

 

Setelah selesai membangun masjid pada tahun 2004, tanpa menjelaskan apa pun kepada putra-putrinya, H Alimuddin membangun kembali dua lokal ruang belajar dan meminta Hj Hesti Aryani, S.Pd dan KH Abdul Basit Mahfuf, anak pertama dan menantunya, untuk mengajar karena keduanya adalah lulusan IKIP Jakarta (sekarang UNJ). Sejak saat itu berdirilah sekolah TK-IT Cinta Rasul dan TPQ Cinta Rasul, serta dilanjutkan dengan mengadakan Majlis Ta’lim An-Nur (2005). 

 

Pada tahun 2006, berdirilah SMP-IT Cinta Rasul di lahan samping Masjid An-Nur. Dengan perkembangan yang baik, lalu disusul berdirilah SMK Cinta Rasul pada tahun 2011. 
Pondok Pesantren Cinta Rasul merupakan Pondok Pesantren Salafiyah-Modern Beraqidah Ahlussunah Wal Jamaah an-Nahdliyah, dan dengan keilmuan dari Guru Bersanad.

 

Di samping kegiatan Pelajaran Non Formal (mengaji kitab kuning dan hafalan al-Qur’an sesuai dengan target yang harus dicapai), santri Cinta Rasul juga wajib mengikuti Pelajaran Formal (Sekolah) sesuai dengan jenjangnya. Sebagai gambaran, Pondok Pesantren Cinta Rasul menerapkan kurikulum ke-pesantren-an di antaranya adalah pengajian kitab kuning, mulai dari kitab Safinatunnajah, Jurumiyah, Hadits Arbain Nawawi, ‘Aqidatul ‘Awwam, Akhlaqul Banin aw Banat, Ta’limul Muta’allim, Hidayatush-Shibyan, Imrithi, Alfiyah, Fathul Qorib, Fathul Muin, dan lainnya. 

 

Selain itu, Pondok Pesantren Cinta Rasul juga mewajibkan para santrinya untuk menghafal al-Qur’an sesuai dengan target pada tingkatannya masing-masing. Santri SMP wajib menghafalkan minimal Juz ‘Amma sebagai persyaratan mengikuti UN. Santri SMK wajib menyelesaikan hafalannya minimal sampai Khatam Binnadzhr 30 Juz dan menghafalkan Surat Pilihan (Al-Kahfi, Ar-Rahman, Al-Waqi’ah, AL-Mulk, dan Yasin). 

 

Di luar Pendidikan Formal dan Non Formal, Pondok Pesantren Cinta Rasul juga mengadakan kegiatan ekstra kurikuler. Di antaranya adalah Marching Band, Futsal, Hadrah, Qiro’ah, dan yang lain. Kegiatan ekstrakulikuler ini diharapkan mampu mengembangakn kreativitas dan kecakapan santri dalam kehidupan bermasyarakat. Apalagi didukung oleh tersedianya fasilitas; Kantin, Koperasi, Toko Kitab, Laboratorium Bahasa, Umum dan Agama, Ruang UKS, Lapangan Olahraga multifungsi, Masjid Luas, dan yang lainnya. 

 

Pewarta: Kendi Setiawan
Editor: Abdullah Alawi
 

BNI Mobile