Gus Nadir: Bukan Hanya Saleh Ritual, Umat Islam Harus Saleh Sosial

Gus Nadir: Bukan Hanya Saleh Ritual, Umat Islam Harus Saleh Sosial
Rais Syuriyah PCINU Australia, H Nadirsyah Hosen (Foto: NU Online)
Rais Syuriyah PCINU Australia, H Nadirsyah Hosen (Foto: NU Online)

Jakarta, NU Online

Saleh ritual merupakan bentuk ibadah umat Islam dalam menjalankan praktik-praktik keagamaan secara murni. Hal tersebut menurut Rais Syuriyah PCINU Australia dan New Zealand, Nadirsyah Hosen belum cukup dalam ajaran agama Islam, karena harus diimbangi dengan saleh sosial. Saleh sosial artinya berbuat baik kepada sesama manusia dan semua yang ada di alam semesta.

 

Dosen Senior Bidang Hukum Monash University itu menambahkan harus ada keseimbangan diantara keduanya baik saleh ritual maupun saleh sosial. Keseimbangan tersebut dalam Islam merupakan hubungan manusia dengan Allah SWT (habluminallah) dan hubungan manusia dengan manusia (habluminannas).

 

"Sekarang ini terkenal fenomenal hijrah yang mulai marak diikuti banyak orang. Tetapi seringkali yang terjadi mereka yang ikut dalam gerakan hijrah hanya meningkatkan kesalehan ritual, namun hubungannya dengan masyarakat sekitar menjadi tidak baik," kata Gus Nadir.

 

Pada acara halal bi halal dengan Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta yang diadakan secara daring, Senin (15/6), Gus Nadir menjelaskan ada tiga cara dalam membangun masyarakat sesuai nilai-nilai Islam dan Pancasila. Pertama, ajaran Islam tersebut bukan kesalehan individu semata melainkan kesalehan sosial juga. Menurutnya hal tersebut merupakan justifikasi yang sangat solid agama Islam itu sendiri.

 

Membangun masyarakat, sebagai cara kedua dengan upaya memahamkan masyarakat tentang nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Gus Nadir seseorang akan ikut baik jika masyarakat sekitar kondusif dan berkepribadian baik.

 

Ia pun menjelaskan bahwa Nabi bercerita tentang kehidupan di dunia seperti kapal yang sedang berlayar di tengah lautan yang luas. Nabi mengumpamakan semua orang naik kapal tersebut dan berada di bagian atas dan bagian bawah.


 
"Misalnya semua orang yang di bagian bawah kalau mau ambil air harus naik ke atas, kemudian lama-kelamaan orang di bagian bawah malas untuk naik turun. Kemudian orang tersebut mengatakan kenapa tidak dibocorkan saja kapal ini biar tidak naik turun ambil air? Begitupun kesimpulannya, kata nabi jika orang bagian atas kapal membiarkannya maka kapal dan semua orang akan tenggelam," kata Gus Nadir.

 

Gus Nadir mengatakan bahwa membangun masyarakat cara ketiga dengan mendahulukan hak umat di atas hak individu. Terlebih Islam mendorong untuk berbuat baik terhadap sesama untuk kemaslahatan umat.


      
"Seperti hadits riwayat Ibnu Majah, Baginda Rasulullah SAW bersabda sesungguhnya amalan dan perbuatan baik seorang mukmin setelah meninggal dunia adalah ilmu yang diajarkan dan disebarkan, anak saleh yang ditingalkan, mushaf Al-Qur’an yang diwariskan, sungai yang di alirkan, dan sedekah yang dikeluarkan," bebernya.

 

Acara bertemakan Membangun Masyarakat yang Seuai dengan Nilai Islam dan Pancasila turut serta dihadiri secara virtual oleh Rektor Institut Imu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta Prof Hj Huzaemah T Yanggo.


Kontributor: Mochamad Ronji

Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile