Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

PCNU Jember Optimalkan Peran Lembaga sebagai Eksekutor Program

PCNU Jember Optimalkan Peran Lembaga sebagai Eksekutor Program
Suasana rapat koordinasi di aula kantor PCNU Jember. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Suasana rapat koordinasi di aula kantor PCNU Jember. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, Jawa Timur mendorong optimalisasi peran lembaga NU dalam berkhidmah kepada masyarakat di masa mendatang. Sebab, lembaga NU merupakan kepanjangan tangan PCNU. Artinya, semua program yang ada di kepengurusan cabang, harus terdistribusi ke dalam lembaga yang ada di bawah naungan NU, sesuai bidangnya.


“Program-program PCNU itu bisa dari usulan pengurus NU sendiri, atau dari lembaga. Tapi nanti eksekutornya (pelaksananya) adalah lembaga NU yang bersangkutan,” ucap Sekretaris PCNU Jember, Pujiono Abd. Hamid usai rapat koordinasi di aula Kantor PCNU Jember, Jalan Imam Bonjol, Kaliwates, Jember, Rabu (17/6).


Menurut Ustadz Puji, sapaan akrabnya, sesungguhnya posisi PCNU  ‘cukup’ sebagai pihak yang memberikan arahan menyangkut kebijakan umum. Sedangkan terkait dengan program, tergantung kreativitas dan kemampuan setiap lembaga NU karena merekalah yang akan melaksanakannya. Dengan begitu, lembaga NU bisa ‘hidup’ dan PCNU otomatis bersinar.


“Pola kerja seperti itulah yang akan kami dorong ke depan, memaksimalkan peran lembaga NU,” jelasnya.


Selain itu, PCNU juga memperjelas peran masing-masing lembaga agar tidak terjadi tumpang tindih. Kata Ustadz Puji, tumpang tindih itu bisa saja terjadi lantaran ada sejumlah lembaga yang obyek programnya sama, misalnya pemberdayaan masjid oleh LDNU (Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama), LTMNU (Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama), dan LWPNU (Lembaga Wakaf dan Pertanahan  Nahdlatul Ulama). Jika demikian,  maka distribusi garapannya harus jelas. Misalnya LDNU terkait dengan khutbah, LTMNU terkait dengan manajemen ketakmiran, administrasi dan sebagainya. Sedangkan LWPNU berhubungan dengan soal wakaf.


“Kalau tidak ada pembagian job, maka bisa-bisa nanti semua pelatihan menyusun khutbah. Jadinya kurang maksimal,” terangnya.


Dosen IAIN Jember itu menegaskan, program lembaga NU juga perlu terkoneksi dengan Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU). Tujuannya agar jangkauan manfaat dari program itu lebih luas dan efektif. Contohnya, LDNU memiliki progam pelatihan khatib, maka pesertanya adalah pengurus MWCNU, atau orang yang direkomendasikan oleh MWCNU.


“Dengan begitu, maka sasarannya tepat, juga tidak perlu khawatir ada penyusupan, dan sebagainya. Materi-materi semacam ini, akan jadi pembahasan di Musker (Musyawah Kerja) NU nanti,” terangnya.


Di tempat terpisah, Ketua PC Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Jember, Achmad Fathor Rosyid menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, pendistribusian program adalah suatu keniscayaan dalam manajemen NU modern, sehingga pelaksanaan program tidak terpusat di ‘lembaga’ PCNU saja. Katanya, sebagai kepanjangan tangan PCNU, lembaga NU merupakan ujung tombak bagi sukses tidaknya sebuah kepengurusan (NU) cabang.


“Mudah-mudahan nanti lembaga-lembaga NU bisa lebih banyak memberikan manfaat kepada masyarakat,” pungkasnya.


Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi

 

Posisi Bawah | Youtube NU Online