UUD 1945, Konstitusi yang Memuat Ketuhanan Terbanyak di Dunia

UUD 1945, Konstitusi yang Memuat Ketuhanan Terbanyak di Dunia
Ilustrasi UUD 1945. (Foto: dok. Kompasiana)
Ilustrasi UUD 1945. (Foto: dok. Kompasiana)

Jakarta, NU Online

Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 merupakan kitab konstitusi negara Indonesia. Pakar hukum tata negara Jimly Asshiddiqie menyebut bahwa UUD 1945 merupakan konstitusi yang terbanyak memuat kata Tuhan, ketuhanan, agama, keagamaan, dan semacamnya di dunia.


“The most godly constitution in the world is UUD Indonesia,” katanya saat menjadi pembicara kunci pada diskusi Syarah Konstitusi: Aktualisasi Ideologi Bangsa Indonesia yang digelar oleh Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) pada Rabu (17/6).


Menurutnya, tidak ada negara lain yang memuat soal ketuhanan dalam konstitusinya sebanyak Indonesia. “Anda tidak bakal mendaptkan teks konstitusi di negara manapun di dunia sebanyak UUD 45 menyebut kata Tuhan dan lain sebagainya,” lanjut Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) itu.


Jimly menjelaskan bahwa hubungan negara dan agama di Indonesia seperti hubungan persaudaraan, bukan sekadar pertemanan. Hal itu mengingat kata-kata yang terkait dengan Tuhan, ketuhanan, agama, dan keagamaan banyak ditemukan di dalamnya.


Sebaliknya, satu kata Tuhan dalam konstitusi negara Eropa dianggap sebagai sebuah aib. Hal itu terlihat dari penolakan sejumlah pihak ketika Angela Markel, Kanselir Jerman, yang mengumumkan menerima kata Tuhan masuk dalam konstitusi Uni Eropa atas usulan dari para pendeta.


“Sampai abad 21 alam pikiran yang membuat agama dan negara tuh jauh itu masih tumbuh,” kata Ketua Mahkamah Konstitusi 2004-2008 itu.


Sementara itu, Dewan Pengawas P3M KH Miftah Faqih menyampaikan bahwa konstitusi merupakan kitab suci negara, sedang Al-Qur’an adalah kitab suci agama Islam. “Sebagai umat beragama (Islam) kitab sucinya Al-Qur’an, sebagai warga negara kitab sucinya konstitusi,” ujarnya.


Katib Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu juga menyebut bahwa masyarakat Muslim Indonesia sejak kecil ditanamkan cinta tanah air, hubbul wathan minal iman, cinta tanah air berangkat dari iman.


“Perwujuadan keimanan seseorang warga negara Indonesia itu diukur dari sejauh mana dia cinta terhadap negerinya,” ujarnya.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile