Selalu Ada Hikmah di Balik Musibah, Berbaik Sangkalah pada Allah

Selalu Ada Hikmah di Balik Musibah, Berbaik Sangkalah pada Allah
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz. (Foto: NU Online/Syamsul Arifin)
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz. (Foto: NU Online/Syamsul Arifin)

Jombang, NU Online
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) mengingatkan bahwa segala yang diciptakan Allah Swt tidak bernilai sia-sia. Bahkan selalu ada hikmah dari setiap bencana. Tinggal sekuat apa manusia bisa menggali hikmah yang terpendam di balik bencana tersebut.

 

Seperti kondisi wabah Covid-19 yang sampai hari ini belum juga mereda, jangan sampai membuat umat Islam kehilangan kendali akal sehatnya. Semua yang terjadi di dunia tentu atas rencana dan ketentuan Sang Maha Kuasa. Karenanya umat Islam harus bijak dan senantiasa mengedepankan prasangka baik (husnudzan).

 

"Marilah kita ambil hikmah dari musibah Covid-19 ini. Semua yang terjadi di dunia ini pasti ada hikmahnya," katanya kepada NU Online saat ditemui di ndalem kesepuhan Pesantren Tebuireng, Rabu (18/6).

 

Manusia, lanjut Gus Kikin, memang cenderung memiliki pemahaman yang beragam tatkala melihat peristiwa luar biasa di muka bumi ini. Terlebih kejadian itu kemudian memberi efek pada ketidakstabilan berbagai sektor seperti ekonomi tidak stabil, runtuhnya tatanan sosial, sampai bahkan harus menelan korban jiwa yang tidak sedikit, sebagaimana corona misalnya.

 

Cara terbaik saat menyikapi situasi ini adalah dengan mengembalikan seutuhnya kepada Allah Swt. Dialah Dzat yang menghendaki semua peristiwa terjadi dan yakin bahwa di balik semua itu ada maksud yang sesungguhnya jauh lebih besar dibandingkan besarnya suatu peristiwa.

 

"Tidak perlu berpikir negatif, kita harus berpikir positif bahwa Covid-19 adalah ujian, agar kita lebih bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt," ucapnya.

 

Gus Kikin juga mengajak seluruh masyarakat khususnya umat Islam untuk menjadikan Covid-19 sebagai perantara yang efektif dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.

 

Saat ini manusia, imbuhnya, mempunyai waktu yang cukup longgar untuk berbenah diri dalam jalinan hubungan manusia sebagai hamba dengan Allah Swt sebagai Maha Pencipta segalanya. Waktu tersebut tidak boleh disia-siakan, apalagi dengan menambah sikap atau perilaku tercela yang justru semakin merusak hubungan antara manusia dengan Allah.

 

"Ini kesempatan kita untuk bermuhasabah. Kita berpikir lagi apa yang kurang dari kita dalam hal melaksanakan ibadah kepada Allah Swt," ungkapnya.

 

Ia mengungkapkan, setidaknya ada dua dampak yang sangat dirasakan masyarakat akibat pandemi Covid-19 ini. Pertama adalah dampak kesehatan dan kedua adalah dampak ekonomi. dampak kedua inilah yang paling banyak dirasakan dan ditemui di masyarakat.

 

Menurut Gus Kikin, dampak-dampak ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri dan tidak boleh sampai kehilangan pikiran sehat sehingga lupa akan kedudukan manusia sebagai hamba. Seharusnya masyarakat menjadikan pandemi ini sebagai upaya meningkatkan kualitas kehambaannya dengan cara berzikir, mendekatkan diri pada Allah, dan melakukan sikap-sikap terpuji lainnya. Manusia harus sadar bahwa sebagai makhluk, ia selalu membutuhkan penciptanya, Allah Swt.

 

"Tidak perlu terlalu memikirkan persoalan dunia, toh pandemi ini terjadi hampir di seluruh dunia, semua orang pasti terdampak. Mari kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah Swt," pungkasnya.

 

Pewarta: Syamsul Arifin
Editor: Muhammad Faizin

BNI Mobile