Gus Dur Memberi Pesan: Pandai-pandailah Menertawakan Diri Sendiri

Gus Dur Memberi Pesan: Pandai-pandailah Menertawakan Diri Sendiri
KH Abdurrahman Wahid. (Foto: dok. istimewa)
KH Abdurrahman Wahid. (Foto: dok. istimewa)

Di tengah persoalan yang banyak mendera bangsa, tidak sedikit yang mengatakan kenapa Gus Dur justru banyak melucu? Bagi sebagian orang, berhumor terkesan tidak serius, tetapi bagi Gus Dur, humornya adalah keseriusannya dalam memahami segala hal. Sehingga persoalan serius kerap selesai dengan sendirinya lewat humor.


Seperti ketika Gus Dur dihadapkan dengan persoalan gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang mengibarkan bintang kejora. Banyak yang mengecam bendera OPM tersebut. Namun, Gus Dur mengatakan bahwa bendera-bendera tak ubahnya umbul-umbul.


Cerita itu terjadi saat Jenderal TNI (Purn) Wiranto menjabat Menko Polkam. Wiranto melapor kepada Presiden Gus Dur terkait pengibaran bendera OPM, Bintang Kejora.


“Bapak Presiden, kami laporkan di Papua ada pengibaran bendera Bintang Kejora,” ujar Wiranto melapor.


Mendengar laporan tersebut, kemudian Gus Dur bertanya, “Apa masih ada bendera Merah Putihnya?” tanya Gus Dur.


“Ada hanya satu, tinggi,” ujar Wiranto sigap.


Mendengar jawaban itu, Gus Dur kemudian menjawab, “Ya sudah, anggap saja bintang kejora itu umbul-umbul,” ujar Gus Dur santai.


“Tapi Bapak Presiden, ini sangat berbahaya,” sergah Wiranto.


“Pikiran Bapak yang harus berubah, apa susahnya menganggap Bintang Kejora sebagai umbul-umbul! Sepak bola saja banyak benderanya!” timpal Gus Dur. (Baca: Muhammad AS Hikam, Gus Durku, Gus Dur Anda, Gus Dur Kita, 2013)


Di samping itu, tidak sedikit juga yang menolak keputusan Gus Dur karena mengizinkan kegiatan Kongres Papua yang identik dengan gerakan-gerakan makar. Namun bagi Gus Dur, keinginan masyarakat Papua harus ditampung. Hal ini yang tidak banyak mendapat perhatian dari pemerintah.


Justru kegiatan tersebut bisa menjadi sarana atau wadah bagi pemerintah RI untuk menampung aspirasi masyarakat Papua, juga sebagai sarana memberikan penjelasan terhadap program-program pemerintah. Bagi masyarakat Papua, kehadiran negara penting. Sebab itu, langkah Gus Dur untuk mewujudkan kerinduan masyarakat Papua akan kehadiran negara.


Kilas humor-humor Gus Dur tak lekang di makan zaman karena sarat konteks. Bahkan masyarakat bisa belajar banyak dari humor-humornya. Misal ketika di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa terjadi konflik. Konflik ini seakan tak menemui titik ujung sehingga tidak sedikit menguras elemen-elemen yang ada di dalamnya.


Diceritakan oleh Maman Imanulhaq dalam bukunya Fatwa dan Canda Gus Dur (2010), cucu KH Hasyim Asy’ari tersebut tetap memperlihatkan optimisme tinggi kepada para kadernya. Mereka menyadari bahwa setiap konflik menyimpan banyak pendewasaan terhadap diri seseorang.


Gus Dur memandang seluruh masalah dengan optimisme. Menurutnya, masalah itu dibagi menjadi tiga; ada yang bisa diselesaikan dengan cepat, ada yang bisa diselesaikan tetapi lambat, dan ada yang tidak bisa diselesaikan. Sebab itu, serahkan semuanya kepada Allah, tawakaltu ‘alallah.


Gus Dur menegaskan bahwa yang benar ialah penyelesaian masalah bukan pemecahan masalah. Karena kalau pemecahan, maka satu masalah bisa ‘pecah’ jadi beberapa masalah. Karenanya, kata Gus Dur, partai ini banyak dikatakan orang sebagai PKB, yaitu Partai Konflik Berkepanjangan.


Seketika, orang-orang di sekelilingnya tertawa mendengar plesetan kepanjangan tersebut. Mereka memang sedih mendengarnya, tetapi campur bahagia karena salah satu keistimewaan Gus Dur ialah mampu menertawakan kekurangannya sendiri, yaitu yang ada dalam partai yang didirikannya Sudahkah.


Dalam kesempatan lain, salah seorang sahabat Gus Dur di Forum Demokrasi Romo Franz Magnis Suseno kala itu diminta sejumlah tokoh yang juga kawan-kawan Gus Dur untuk memberikan masukan dan pandangan untuknya mengenai situasi politik yang dihadapi.


Empat minggu sebelum Gus Dur dilengserkan pada 23 Juli 2001, delapan orang kawan mendatangi Gus Dur di istana. Di istana ada putri Gus Dur yang senantias setia mendampingi ayahnya, Yenny Wahid.


Romo Magnis berbicara apa adanya kepada Yenny bahwa Gus Dur sebaiknya mundur ketimbang diturunkan. Mendengar aspirasi tersebut, Yenny mewanti-wanti mungkin Gus Dur bakal marah.


Tetapi Yenny tetap mempersilakan Romo Magnis dan kawan-kawan untuk menyampaikan langsung saran tersebut kepada Gus Dur. Mendengar saran untuk mundur, ternyata Gus Dur tidak marah di tengah situasi yang serba panas kala itu.


Dengan tenang Gus Dur menjelaskan kepada kawan-kawannya yang aktif di Forum Demokrasi mengapa dirinya tidak mau melakukan pengunduran diri. Intinya, apa yang dia lakukan benar. Justru DPR dan MPR-lah yang inkonstitusional.


Di tengah ketegangan politik yang menginginkannya untuk mengundurkan diri itu, Gus Dur justru sempat menanggapinya dengan joke: “Saya disuruh mundur? Maju saja masih dituntun?” kata Gus Dur disambut tawa kawan-kawannya itu. (Baca: Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa, 2017).


Gus Dur lihai memainkan humor penertawaan diri sendiri yang juga kerap mampu membuat orang lain tersadar. Hal itu sekaligus mencairkan ketegangan lewat humor. Ketegangan yang disebabkan oleh problem kehidupan politik, sosial, budaya, bangsa, negara, dan agama. Lewat leluconnya, Gus Dur mengajak kepada masyarakat agar mewujudkan kehidupan yang seimbang dan bermakna.


Seperti yang Gus Dur katakan dalam kata pengantar buku Mati Ketawa Cara Rusia (1986): “Kemampuan untuk menertawakan diri sendiri adalah petunjuk adanya keseimbangan antara tuntutan kebutuhan dan rasa hati di satu pihak, serta kesadaran akan keterbatasan diri di pihak lain.”


Penulis: Fathoni Ahmad

Editor: Abdullah Alawi

BNI Mobile