Mengenang Syekh KH Muhadjirin Amsar, Ulama Produktif dari Betawi (4)

Mengenang Syekh KH Muhadjirin Amsar, Ulama Produktif dari Betawi (4)
KH Muhadjirin pernah mengalami kecelakaan yang nyaris membahayakan jiwanya, yakni dihantam sepeda motor oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab
KH Muhadjirin pernah mengalami kecelakaan yang nyaris membahayakan jiwanya, yakni dihantam sepeda motor oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab

Pendidikan

Dalam ranah pendidikan, konsep berkelanjutan serta berkesinambungan merupakan hal yang menjadi perhatian utama Syekh KH Muhammad  Muhadjirin Amsar. Adanya kecerdasan yang dimiliki oleh murid dalam ilmu pengetahuan agama dan pengetahuan umum merupakan hal yang harus saling melengkapi. Keyakinan terhadap konsep ini dibuktikan dengan pengajaran materi/pelajaran umum, seperti matematika (aljabar), IPA, bahasa Inggris, dan bidang lainnya mulai dari tingkat tsanawiyah sampai aliyah di lembaga pendidikan yang dipimpin KH Muhadjirin.


Keikutsertaan lembaga pendidikan yang dipimpin oleh KH Muhadjirin dalam kebijakan pemerintah di bidang pendidikan, seperti Ebtanas, Ujian Akhir Madrasah, dan lainnya mengindikasikan bahwa penerimaan alumni oleh masyarakat luas menjadi perhatian bagi KH Muhadjirin demi kesuksesan para murid-muridnya. Ijazah yang diakui oleh negara dan masyarakat luas sejak awal menjadi bukti sahih yang harus diberikan kepada para alumni demi masa depan para alumni tersebut.


Konsep berkelanjutan dalam lembaga pendidikan pun telah lama dipraktikkan oleh KH Muhadjirin. Istilah kelas yang tidak terputus antara tingkat tsanawiyah dan aliyah menjadi bukti bahwa pendidikan berkelanjutan adalah sebuah kebutuhan guna tercapainya alumni yang berkualitas. Tingkat Tsanawiyah memiliki tiga tingkatan, yakni kelas 1, 2, dan 3. 


Adapun tingkat aliyah merupakan tingkat lanjutan. Oleh karenanya kelas pada tingkat aliyah diistilahkan dengan kelas 4, 5, dan 6. Konsep ini justru oleh pemerintah baru diadopsi beberapa tahun belakangan ini dengan membuat istilah untuk tingkat tsanawiyah kelas 7, 8, dan 9, serta tingkat aliyah dengan kelas 10, 11, dan 12.


Jenjang pendidikan yang diselenggarakan di bawah kepemimpinan KH Muhadjirin diawali dengan pendirian Pesantren Annida Al-Islamy sebagai kelanjutan dari Pesantren Bahagia. Santri-santri yang tinggal di Pesantren Annida dilihat dari usia berada pada kisaran usia tingkat tsanawiyah dan aliyah. Meskipun demikian, sampai pertengahan tahun 1970an para santri tersebut memang belum mendapatkan ijazah yang dikeluarkan oleh negara. Oleh karenanya sebagian besar santri-santri tersebut mengikuti ujian persamaan di berbagai lembaga pendidikan milik pemerintah.


Kondisi tersebut tentunya menjadi perhatian serius dari KH Muhadjirin. Pada tahun 1978-1979 Annida Al-Islamy berhasil melengkapi berbagai persyaratan sebagai sebuah lembaga pendidikan agama yang sejajar dengan lembaga pendidikan milik pemerintah lainnya. Dengan kata lain, para santri tidak perlu lagi mencari ijazah formal pada lembaga lain.


Lembaga pendidikan lain yang bernaung di bawah kepemimpinan KH Muhadjirin adalah Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) untuk anak-anak usia sekolah dasar. Sejatinya pengajian Al-Qur’an ini telah dirintis jauh sebelum KH Muhadjirin hijrah ke Bekasi. Lembaga pengajian tersebut telah dirintis oleh nenek dari istri KH Muhadjirin, yakni Guru Mandu Khairani binti Hasan. Ia merupakan salah satu, atau bahkan satu-satunya guru perempuan yang sangat tersohor di wilayah Bekasi pada masanya.


Majelis Taklim

Sejak diangkat menjadi menantu oleh KH Abdurrahman Shodri, selain aktif dan menjadi tenaga pengajar di Pesantren Bahagia, KH Muhadjirin juga telah mengisi berbagai majelis taklim di wilayah Bekasi dan sekitarnya. Berdasarkan data yang penulis dapatkan, setidaknya ada beberapa tempat yang menjadi tempat mengajar KH Muhadjirin.


Salah satu tempat mengajar Kiai Muhadjirin adalah Durikosambi, Cengkareng, Jakarta Barat. Wilayah ini setidaknya menjadi basis pertama KH Muhadjirin dalam menyebarkan ilmunya. Hal ini terbukti dari jumlah santri di wilayah tersebut pada periode 1970-an sampai 1990-an. Pengajian di Durikosambi dilaksanakan setiap bulan pada hari Ahad. Majelis taklim yang berikutnya terletak di wilayah Cikarang, tepatnya di salah satu masjid terbesar di wilayah tersebut. Kemudian majelis taklim di wilayah Tambun,  wilayah Pondok Ungu, Pisangan Jatinegara, dan kampung halamannya Kampung Baru, Cakung.


Khusus pengajian di Kampung Baru Cakung, sesungguhnya KH Muhadjirin tidaklah menganggap sebagai sebuah pengajian antara guru dan murid, namun lebih didasarkan pada kerinduan akan kampung halaman. Dalam sebuah pengakuannya, KH Muhammad Muhadjirin yang dikutip oleh salah seorang murid (kerabat) di Kampung Baru mengatakan, ”...Gua di sini kan bukan ngajar, gua kan cuma pulang kampung...”


Hal tersebut sangat mendasar karena pada saat itu KH Muhadjirin dapat bersilaturahmi kepada sanak familinya, bahkan pada seorang perempuan yang merupakan pengasuh di masa kecilnya. Memori di masa kecil serta bersilaturahmi dengan teman, saudara, serta para orang tua yang menjadi motivasi utama bagi KH Muhadjirin dalam memberikan pengajaran di Kampung Baru, Cakung.


Adapun pengajian di Pisangan Jatinegara dilaksanakan setiap hari Jumat sore. Pengajian ini merupakan bentuk khidmat dan bakti seorang cucu menantu terhadap sang kakek mertua. Adalah Mu’allim Shodri–sebagai pemilik rumah tempat pengajian tersebut berlangsung–merupakan kakek dari istri KH Muhadjirin, yakni Hj Hannah binti KH Abdurrahman bin Mu’allim Shodri. Pengajian tersebut merupakan  kelanjutan dari pengajian yang terlebih dahulu dilaksanakan oleh Mu’allim Shodri.


Di antara beberapa tempat majelis tersebut dalam perjalanan waktunya Kiai Muhadjirin sesekali mendapatkan berbagai macam rintangan bahkan hambatan. Bahkan di salah satu majelis taklim tersebut, KH Muhadjirin pernah mengalami kecelakaan yang nyaris membahayakan jiwanya, yakni dihantam sepeda motor oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab. Ia juga pernah hampir dilukai dengan senjata tajam oleh orang yang bertindak seperti ”orang tidak waras” pada saat selesai mengimami shalat setelah pengajian.


Berbagai rintangan dan hambatan tersebut menjadikan KH Muhadjirin semakin sadar bahwa ternyata tidak semua jamaah majelis taklim yang hadir dalam setiap pengajiannya adalah orang-orang yang benar-benar bermaksud untuk menuntut ilmu. Terkadang ada juga orang yang hadir dengan maksud lain.


Perjalanan hidup mengajar dari majelis taklim ke majelis taklim lainnya sesungguhnya tidak menjadi prioritas utama bagi KH Muhadjirin. Hal ini disebabkan karena adanya lembaga pesantren yang telah dimiliki oleh KH Muhadjirin di mana semua itu menuntut perhatian khusus dan penuh. (bersambung...)


Penulis: Rakhmad Zailani Kiki

Editor: Alhafiz Kurniawan

BNI Mobile