Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Sikapi Perkembangan Covid-19, Pesantren Tebuireng Terbitkan Maklumat

Sikapi Perkembangan Covid-19, Pesantren Tebuireng Terbitkan Maklumat
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz. (Foto: NU Online/Syamsul Arifin)
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz. (Foto: NU Online/Syamsul Arifin)

Jombang, NU Online
Persepsi dan penanganan corona virus disease (Covid-19) di lapangan selama ini semakin melebar. Terjadinya kesenjangan persepsi antara sebagian masyarakat dan petugas kesehatan, membuat Pesantren Tebuireng Jombang merasa perlu menyampaikan pandangan sebagai masukan kepada pihak terkait.


Maklumat yang berisi tujuh butir pandangan pesantren yang didirikan Hadratusyeikh KHM Hasyim Asy’ari itu ditandatangani oleh Pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Abdul Hakim Mahfudz atau yang akrab disapa Gus Kikin. 


“Maklumat ini muncul dari keprihatinan kami di pesantren setelah melihat perkembangan situasi dan kondisi di masyarakat. Setelah diskusi yang cukup panjang, inilah sebagian sumbangan pemikiran yang dapat sampaikan dalam merespons perkembangan saat ini,” ujar Gus Kikin, Ahad (21/6) sore.


Pertama, Pesantren Tebuireng mengapresiasi ikhtiar pemerintah dan pemerintah daerah dalam upaya percepatan penanganan Covid-19. Khususnya terkait dengan peningkatan jumlah pemeriksaan secara masif dan pelacakan kasus (tracing) di masyarakat.


Kedua, meminta pemerintah mengimbangi ikhtiar positif tersebut dengan memperbaiki strategi komunikasi publik dan memperkuat pendekatan kultural. Serta memperhatikan aspek budaya masyarakat dan kearifan lokal di masing-masing daerah.


Ketiga, berkenaan dengan semakin banyaknya kesimpangsiuran informasi di tengah masyarakat, meminta semua pihak untuk menjaga kejernihan pikiran. Juga mengedepankan aspek tabayun dan menahan diri dengan tidak menyebarkan informasi yang tidak jelas sumbernya.


Keempat, berkaitan dengan proses pemulasaraan jenazah dan pemakaman pasien terduga dan/atau terkonfirmasi positif Covid-19 , Pesantren Tebuireng Jombang meminta petugas kesehatan memastikan bahwa proses pemulasaraan jenazah benar-benar memenuhi pedoman pemulasaraan jenazah. Yakni sesuai dengan agama yang dianut masing-masing pasien. 

 

Juga, meminta Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19 dan pihak rumah sakit melibatkan tokoh-tokoh agama untuk memastikan proses pemulasaraan jenazah sesuai dengan agama yang dianut pasien dan menghindarkan keraguan-raguan keluarga serta masyarakat.


“Kita tidak berbicara dalam konteks pemulasaraan jenazah yang Muslim saja. Tapi secara keseluruhan, apapun agamanya. Mengingat proses pemulasaraan jenazah ini cukup sensitif dalam perspektif budaya sebagian masyarakat kita,” tegas Gus Kikin.


Karena itu, berkenaan dengan proses pemakaman jenazah pasien terduga dan/atau terkonfirmasi positif Covid-19, Gus Kikin meminta pemerintah mempertimbangkan aspek budaya dan kearifan lokal. 


Jika dimungkinkan, keluarga dan masyarakat sekitar tempat tinggal pasien dapat diberikan kesempatan untuk melepaskan keberangkatan jenazah ke tempat pemakaman. Namun tentu saja dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan dan dilaksanakan dalam tempo yang sewajarnya. 


"Ada yang mengusulkan, jenazah tetap di dalam ambulans, tanpa harus diturunkan saat dishalati dan prosesi pemberangkatan jenazah. Wacana seperti itu perlu dikaji oleh gugus tugas dan pihak terkait, ” harapnya.


Diberikannya kesempatan kepada keluarga dan masyarakat sekitar tempat tinggal pasien untuk melepaskan keberangkatan jenazah ke tempat pemakaman tentu sangat berguna. Yakni diharapkan dapat menghapus stigma negatif kepada pasien dan menjadi proses edukasi di masyarakat bahwa Covid-19 bukanlah aib. 


"Langkah ini diharapkan bisa jadi jalan tengah, daripada terjadi benturan antara keluarga dan petugas kesehatan, seperti kasus yang marak belakangan," ungkap putra ahli falak ternama, KH Mahfudz Anwar ini.


Tapi hal ini tentu harus disesuaikan dengan kondisi. Kalau pasien meninggal di Surabaya, sementara keluarganya berada di kota yang jaraknya cukup jauh, tentu berbeda pertimbangannya.


Pada poin kelima, Pesantren Tebuireng berharap kepada para tokoh masyarakat agar berperan aktif dalam upaya mengedukasi dan menenangkan masyarakat dalam menghadapi situasi pandemi ini. Sedangkan pada poin keenam, Pesantren Tebuireng mengharapkan semua pihak yang terkait dengan penanganan Covid-19 untuk mengedepankan sikap jujur, amanah dan pertanggungjawaban moral yang setinggi-tingginya. 


Pada poin ketujuh, Pesantren Tebuireng juga memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada para petugas medis yang telah menjadi garda terdepan dalam penanganan Covid-19 dan mendoakan semoga almarhum/almarhumah memperoleh status sebagai syahid akhirah di sisi Allah SWT serta keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran. 


“Maklumat ini disampaikan sebagai ikhtiar Pesantren Tebuireng untuk mewujudkan kemasalahatan bersama dan dalam upaya menjaga kondusivitas kondisi di tengah masyarakat. Termasuk meminimalkan kesenjangan persepsi dan komunikasi antara sebagian masyarakat dan petugas kesehatan,” pungkas Gus Kikin. 


Pewarta: Ibnu Nawawi
Editor: Syamsul Arifin 

BNI Mobile