Kemandirian Jadi Prinsip Pengembangan Pesantren Tahfiz Al Husna Pringsewu

Kemandirian Jadi Prinsip Pengembangan Pesantren Tahfiz Al Husna Pringsewu
Pesantren Tahfizul Qur'an Al Husna Pringsewu, Lampung. (Foto: NU Online/Faizin)
Pesantren Tahfizul Qur'an Al Husna Pringsewu, Lampung. (Foto: NU Online/Faizin)

Pringsewu, NU Online
Kemandirian Pesantren Tahfizul Qur'an Al Husna Pringsewu, Lampung patut dijadikan contoh dalam pengembangan pesantren. Pesantren di Jl. Tangsi Komplek Asrama Polres Pringsewu ini berawal hanya dari sebuah majelis ta’lim para remaja yang memiliki niatan untuk menghafalkan Al-Qur'an. 


Namun seiring berjalannya waktu, banyak orang tua santri yang menitipkan anaknya ke pesantren yang diasuh KH Abdul Hamid Al Hafidz ini. Keterbatasan lokasi dan sarana untuk para santri tidak menjadi penghalang pihak pesantren dalam menyediakan fasilitas bagi kehidupan santrinya.


Setelah kediaman pengasuh tidak mencukupi untuk menampung santri, dan tidak ada bangunan asrama lagi untuk ditempati, pihak pesantren pun menyewa rumah bedengan (kos-kosan). Pertimbangan ini diambil karena bedengan tersebut berada di depan kediaman pengasuh.


"Seiring waktu, santri terus bertambah. Saat ini pesantren Al Husna kembali menambah sewa bedengan lima pintu lagi untuk tempat tinggal 45 santri baru tahun ajaran ini," kata Kiai Hamid yang juga Ketua Rabitah Maahid Islamiyah NU Kabupaten Pringsewu ini, Senin (22/6).


Semua proses pengembangan ini dilakukan dengan prinsip kemandirian tanpa tergantung dengan pihak-pihak lain. Prinsip kemandirian ini ia yakini akan mampu memberikan keberkahan tersendiri. Ia optimis jika pesantren dikembangkan dengan ikhlas, ilmu yang didapat para santri pun akan berkualitas.


Dengan niat yang baik serta keikhlasan ini, ia juga merasakan berbagai urusan pengembangan pesantren menjadi lebih mudah. Selalu ada saja solusi dari setiap kendala yang dihadapi saat pesantren akan melakukan langkah pengembangan.


"Alhamdulillah saat ini Pesantren Al Husna sudah memiliki lokasi khusus yang lebih luas di daerah Bukit Rajawali Podomoro. Minta doanya sekarang sudah mulai dilakukan pembangunan," katanya.


Saat ini pesantren yang mulai dirintis sejak 2016 ini sudah berhasil meluluskan 15 santri yang menghafalkan 30 juz Al-Qur'an. Menurutnya tidak mudah bagi seseorang untuk mampu menghafal secara langkap 30 juz. Perlu keteguhan niat dan istikamah dalam melakukannya dan usaha batin yang kuat.


Oleh karenanya di Pesantren Al Husna, para santri tidak hanya dibekali dengan upaya menghafal saja, namun santri juga dibekali dengan berbagai amaliah untuk mendapatkan kelancaran dan keberkahan dalam menghafal.


"Selain rutinitas menghafalkan dengan sistem setoran, para santri juga diberikan kegiatan rutin lainnya seperti pembacaan wirid, Asmaul Husna, surat Al-Waqiah dan Al-Mulk secara berjamaah di pagi dan sore hari," jelasnya.


"Dengan tambahan kegiatan ini mudah-mudahan dapat menjadi wasilah bagi santri agar diberi kemudahan dalam menghafal, memahami dan mengamalkan Al-Qur'an dalam kehidupan mereka," tambahnya.


Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Syamsul Arifin

BNI Mobile