Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Protap Kesehatan Diperketat, Pesantren Assalafie Cirebon Mulai Mengaji

Protap Kesehatan Diperketat, Pesantren Assalafie Cirebon Mulai Mengaji
Salah seorang kiai di Pesantren Assalafie, KH Arwani Syaerozie saat di PBNU (Foto: NU Online/Ahdori)
Salah seorang kiai di Pesantren Assalafie, KH Arwani Syaerozie saat di PBNU (Foto: NU Online/Ahdori)

Jakarta, NU Online

Santri-santri Pondok Pesantren Assalafie Babakan Ciwaringin, Cirebon mulai berdatangan. Mereka siap melakukan aktivitas mengaji seperti semula. Meski begitu, suasana belajar mengajar kali ini digelar secara berbeda, pihak pesantren memperketat protokol kesehatan untuk menghindari adanya penyebaran Covid-19. 


Tidak hanya bagi wali santri, aturan protokol kesehatan yang dilakukan secara ketat tersebut berlaku untuk 1670 santri, baik sebelum berangkat maupun setalah menjalani kehidupan di pesantren. 


Salah seorang kiai di Pesantren Assalafie, KH Arwani Syaerozie menegaskan, penerimaan kembali para santri dibuat lima gelombang. Gelombang pertama, khusus para dewan guru atau ustadz dari luar Jabodetabek. Gelombang kedua, untuk santri mahasiswa luar Jabodetabek. Gelombang ketiga, untuk santri SLTA luar Jabodetabek. Gelombang keempat, untuk santri SLTP luar Jabodetabek. Gelombang kelima, untuk ustadz, santri, santri mahasiswa, murid SLTA dan SLTP dari Jabodetabek. 


Ia mengungkapkan, saat ini sudah masuk gelombng ketiga, yakni penerimaah santri Madrasah Aliyah (MA) atau santri tingkat SLTA. Bagi mereka yang sudah berada di pesantren, pengajian telah dimulai, meski belum terlalu aktif. Pengajiannya pun digelar secara berbeda, misalnya duduknya yang berjarak dan tidak banyak melakukan perkumpulan. 


“Sekarang sudah masuk gelombang tiga penerimaan santri SLTA, mereka sudah mengaji tapi belum begitu aktif,” kata Kiai Saerozie saat berbincang dengan NU Online di Kantor PBNU Jakarta Pusat, Ahad (21/6). 


Ia menambahkan, pembukaan kembali pesantren yang berdiri tahun 1705 M tersebut telah dipikirkan matang-matang. Pihaknya mengoptimalkan seluruh imbauan dan intruksi pemerintah terkait penyediaan sarana pencegahan Covid-19.  


Menurut Kiai Saerozie, para santri yang ingin kembali ke pesantren juga diminta mematuhi aturan, di antaranya harus mengkarantina mandiri selama 14 hari, membawa surat keterangan sehat, membawa 3 buah masker, membawa handsanitizer dan diantar oleh kendaraan pribadi. 


“Ada aturan yang harus dilakuan misalnya karantina 14 hari di rumah. Dia harus dalam keadaan sehat. Kemudian membawa surat kesehatan, minimal memiliki masker 3 buah, memiliki disinfektan,” terangnya. 
 

Ia memastikan, Pesantren Assalafie aman dari penyebaran Covid-19 sebab pencegahan telah ditingkatkan. Selain itu, keluar masuk ke pesantren sangat dibatasi. Khusus bagi tamu, mereka tidak diperkenankan masuk ke pesantren. 


“Pesantren Assalafie secara geografis berbaur dengan perkampungan warga, tapi kita ada gerbang jadi mereka hanya menjalani kehidupan di dalam pesantren. Insyallah aman,” pungkasnya. 


Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon merupakan perluasan dari Pesantren Pondok Gede Raudlatut Tholibin, terletak di Desa Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon. Pondok ini merupakan salah satu pondok pesantren tertua di Indonesia, berdiri sekitar tahun 1127 H. / 1705 M. 


Pewarta: Abdul Rahman Ahdori
Editor: Abdullah Alawi 
 

Posisi Bawah | Youtube NU Online