Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download
BEDAH BUKU

Romo Magnis: Pandemi sebagai Kasih Sayang Tuhan

Romo Magnis: Pandemi sebagai Kasih Sayang Tuhan
Bedah buku karya Haidar Bagir oleh Puslitbang BALK Balitbang Diklat Kemenag RI. (Foto: Humas Balitbang Kemenag)
Bedah buku karya Haidar Bagir oleh Puslitbang BALK Balitbang Diklat Kemenag RI. (Foto: Humas Balitbang Kemenag)

Jakarta, NU Online
Pandemi virus Corona (Covid-19) disikapi beragam oleh umat beragama. Ada yang khawatir, tetapi tak sedikit juga yang tidak peduli. Franz Magnis Suseno menegaskan bahwa hal penting dalam menghadapi ini adalah bergantung pada iman.


“Satu hal penting tergantung dari iman kita, dari apa yang kita percayai,” katanya dalam Diskusi dan Bedah Buku ‘Agama di Tengah Musibah: Perspektif Spiritual’ karya Haidar Bagir. Acara yang digelar di Hotel A-One Jl KH Wahid Hasyim Jakarta, Selasa (23/6) ini diinisiasi Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan (BALK) Balitbang Diklat Kemenag RI.


Sifat pertama Tuhan yang disebut, lanjut Romo Magnis, adalah al-Rahman, kasih. Artinya, Tuhan yang dipercayai bukanlah Tuhan yang tidak peduli. “Kalau Tuhan betul-betul rahmah, betul-betul kasih, maka Tuhan akan lebih dari sekadar akan mengamankan, akan melingkupi. Selalu menyelamatkan, selalu menyembuhkan, menjamin bahwa semuanya akan menjadi baik,” paparnya.


Baca juga: Pandemi Corona, Tuhan Tekan ‘Pause’ Aktivitas Kehidupan Manusia


Guru Besar Filsafat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta ini menyebut bahwa pandemi ini sebagai sebuah disrupsi yang menghentikan aktivitas manusia. Namun, ia menegaskan bahwa disrupsi memang di tangan Tuhan, tetapi di tangan Tuhan itu tidak disrupsi.


“Ada kontinuitas. Tujuan Tuhan adalah yang baik. Tuhan tidak membenci sama sekali,” kata Romo Magnis, sapaan akrabnya.


Oleh karena itu, spiritualitas di tengah pandemi tidak menghilangkan rasa kekhawatiran. Akan tetapi, tidak menghilangkan rasa aman itu rasa bahagia. Tuhan tidak membuat kita pasif dan boleh seenaknya.


“Kita di Indonesia mengurangi pembatasan. Saya berpendapat, kita hendaknya waspada. Sebagai orang beragama bukan tak peduli seenaknya tetapi bertanggung jawab. Kita menaati pembatasan pemerintah. Bagi pemerintah, tidak mudah mengetahui persis soal ini,” tandasnya.


Sementara itu, Menteri Agama Kabinet Kerja (2014-2019) Lukman Hakim Saifuddin mengutip sebuah kaidah fiqh, bahwa segala sesuatu kalau menghadapi kendala hambatan, hakikatnya kita sedang diperluas.

 
Oleh karena itu, Lukman mengajak semuanya untuk memaknai pandemi sebagai sebuah kasih sayang Allah swt. “Saya ingin mengajak kita semua ini cobaan dari Tuhan mari kita tetap maknai semua itu dalam rangka kasih sayang Tuhan kepada umat manusia. Kasih sayang Tuhan melampaui segalanya. Kalaulah Tuhan marah, kemarahan itu dalam rangka kasih sayang,” pungkasnya.


Hadir dalam diskusi tersebut, Plt Kepala Badan (Kaban) Litbang Diklat H Mahsusi, Sekretaris Badan (Sesban) Litbang Diklat M Ishom Yusqi, sejumlah pejabat Eselon 3 dan 4, para peneliti serta tamu undangan dari berbagai instansi.


Pewarta: Syakir NF
Editor: Musthofa Asrori

BNI Mobile