Tertib dan Disiplin Menjalani Normal Baru, PDNU Jember Apresiasi Pesantren

Tertib dan Disiplin Menjalani Normal Baru, PDNU Jember Apresiasi Pesantren
Ketua PDNU Kabupaten Jember, Jawa Timur, Ahmad Multazam. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Ketua PDNU Kabupaten Jember, Jawa Timur, Ahmad Multazam. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online
Persatuan Dokter Nahdlatul Ulama (PDNU) Kabupaten Jember memberikan apresiasi terhadap pesantren di kota suwar-suwir ini karena telah menyelenggarakan pengembalian santri dengan tertib dan disipilin. Seperti diketahui, pesantren-pesantren di Jember sejak  tanggal 5 Juni 2020 telah ‘membuka’  pintu bagi santri-santrinya untuk kembali ke pondok guna menjalani aktivitas sebagaimana biasa.


Alhamdulillah, sejauh ini tidak ada masalah, bahkan pesantren cukup patuh dalam menerapkan protokol kesehatan bagi santri-santrinya. Kami salut dan memberikan apresiasi untuk beliau-beliau (pengasuh) ,” ujar Ketua PDNU Kabupaten Jember, Jawa Timur, Ahmad Multazam kepada NU Online di kediamannya, Desa Rowo Indah, Kecamatan Ajung, Jember, Rabu (24/6).


Menurut Multazam,  semua pesantren dalam menyambut kedatangan santrinya selalu berpedoman kepada pokok-pokok protokol kesehatan. Itu menandakan bahwa pengasuh pesantren sangat hati-hati dalam menjaga santrinya agar tidak terpapar virus Corona. Katanya, kehati-hatian itu bisa dimaklumi  karena pesantren mempunyai tanggung jawab untuk bersama-sama membasmi virus yang mengincar paru-paru manusia tersebut.


“Selain itu, santri  ‘kan amanah, itu kan titipan dari masyarakat sehingga para kiai paham betul bagaimana menjaga amanah itu,” terangnya.


Kepala Puskemas Curahnongko, Jember itu menambahkan, tanggung jawab pesantren dalam melawan Corona sekaligus melindungi santrinya, bisa dilihat dari sarana kesehatan yang disediakan cukup memadai. Mulai dari tempat cuci tangan dan sabunnya, bilik penyemprotan dan sebagainya. Bahkan tak sedikit  pesantren yang menyediakan ruangan isolasi untuk santri yang kemungkinan berstatus reaktif setelah dilakukan rapid test.

 

“Sehingga jika dalam rapid test itu ada (santri) yang hasilnya reaktif, maka tinggal ditempatkan di rung karantina yang telah disediakan sambil menunggu di-swab,” jelasnya.


Multazam juga mengapresiai keterlibatan Pemerintah Kabupaten Jember dalam menyediakan rapid test gratis untuk kuota 50 ribu  santri. Dikatakananya, hal tersebut tentu sangat membantu santri dalam menjaga kesehatannya saat kembali ke pondok. Lebih-lebih karena sebelumnya soal biaya rapid test, sempat dikeluhkan wali santri.


“Rapid test gratis tentu sangat membantu kelancaran santri saat kembali ke pondok,” terang alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya itu.


Di tempat terpisah, Ketua Pengurus Cabang RMI Jember, Gus Fuad Ahsan menegaskan, kedisiplinan santri dan pesantren dalam menjalani pola hidup kenormalan baru memang menjadi komitmen pesantren di bawah RMI. Sebab tanpa kedisplinan santri, sangat dimungkinkan pesantren menjadi klaster baru bagi transmisi penyebaran Corona.


“Santri harus selalu menjadi teladan dalam hal apapun, termasuk dalam menyikapi new normal di pesantren,” ucapnya.


Ia menyatakan, hingga saat ini pesantren yang telah selesai ‘mengembalikan’ santrinya sekitar 70 persen. Sedangkan sisanya masih akan terus berposes hingga satu dua minggu kedepan.


“Sejak tanggal 7 Syawal  lalu, biasanya santri sudah pada kembali. Tapi karena sekarang ada Corona, mungkin bisa molor,” pungkasnya.


Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi

 

BNI Mobile