Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kisah Dokter Sembuh dari Covid-19 dengan Khatamkan Al-Qur'an

Kisah Dokter Sembuh dari Covid-19 dengan Khatamkan Al-Qur'an
Dokter Nanik saat ditemui di rumahnya. (Foto: NU Online/Syarif Abdurrahman)
Dokter Nanik saat ditemui di rumahnya. (Foto: NU Online/Syarif Abdurrahman)

Jombang, NU Online
Obat khusus Covid-19 yang direkomendasikan pemerintah sampai saat ini belum ada. Beberapa penemuan masih tahap uji coba. Sadar hal itu, pasien Covid-19 keempat di Kabupaten Jombang, Jawa Timur bernama Dokter Nanik Kusyani (42) asal Desa Jatipelem, Kecamatan Diwek, Jombang mencoba alternatif lain dengan memperbanyak khatam Al-Qur'an. 


“Sebagai dokter, saya tahu ini kan obatnya belum ada, satu-satunya yang bisa menyembuhkan adalah Allah SWT. Kalau saya khatamkan Al-Qur'an, minimal satu kali hingga sembuh. Teman saya juga kayak begitu,” jelasnya, Kamis (25/6). 


Menurut Nanik, saat tak ada obat khusus yang bisa menyembuhkan sebuah penyakit maka jalan terbaik adalah kembali ke Maha Kuasa


Selama masa karantina, obat anti virus yang diberikan tim dokter juga tidak khusus membunuh Corona. Sehingga khataman Al-Qur'an dan berdoa adalah alternatif terbaik.


Last but not least, berdoa dan banyak sedekah juga. Untuk tolak balak serta kesembuhan penyakit,” tambahnya.


Selain berdoa, Nanik juga berusaha mengubah pola pikirnya tentang Corona Virus Disease (Covid-19). Ia membuang jauh-jauh pikiran jelek bahwa Allah tidak sayang padanya.


Namun, ia tak melupakan ikhtiar, perlu juga usaha lahir seperti physical distancing, pakai masker, cuci tangan pakai sabun, jaga imunitas tubuh, makan teratur, bergizi, dan jangan stress.


Nanik sendiri tertular Covid-19 saat mengikuti pelatihan petugas haji bidang kesehatan di Surabaya pada tanggal 9-18 Maret 2020 lalu.


Saat itu ada 415 peserta pelatihan yang berasal dari Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan dibagi 10 kelompok.


"Saya mendapat informasi bahwa salah satu narasumber saat pelatihan, diketahui terkonfirmasi positif Covid-19, beberapa hari setelah mengisi kelas. Dari situ ia mulai gelisah. Lalu tes swab," ujarnya.


Ia ikut tes swab di Surabaya dengan biaya sendiri pada tanggal 3 April 2020. Dan tanggal 6 April keluar hasilnya positif. Lalu lapor ke atasan untuk isolasi mandiri.


Setelah itu, pada tanggal 8 April 2020 tes swab resmi dari pemerintah dilakukan. Hasilnya keluar empat hari kemudian, dengan hasil positif. Dari sana ia resmi masuk data pemerintah dengan nama pasien keempat di Jombang dan diisolasi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang.


"Saya datang sendiri, ingin tahu positif atau tidak. Maka kesiapan mental harus lebih kuat. Sehingga tidak terlalu kaget,” paparnya.


Sebagai dokter yang pernah mengalami Covid-19 sendiri, ia meminta masyarakat tidak berpikir jika virus ini adakah aib. Karena membuat pasien bertambah kepikiran dan drop.


Pasien Covid-19 butuh support dari masyarakat. Ini juga membantu daya tahan tubuhnya naik, maka cepat sembuh. “Dan pada 15 Mei 2020, keluar surat resmi sembuh. Hanya saja sejak 24 Maret hingga kini, saya masih tutup praktik,” ungkapnya.


Hal yang hampir sama juga dialami oleh pasien postif Covid-19 pertama di Jombang, Hj Nanik Narwiyahni (57), warga Jalan Hayam Wuruk, Kepanjen, Jombang.


Saat diisolasi di RSUD Jombang ia juga bertemu dengan Dokter Nanik pasien keempat. Mereka berdua sering diskusi dan mengaji Al-Qur'an bersama.


Hal ini diceritakan oleh sang suami H M Sunardi (57) yang selalu ada di samping Nanik Narwiyani selama dia berjuang melawan Covid-19. Sunardi menjaga sang istri dari jarak agak jauh, tepatnya di ruang tamu pasien positif Covid-19.


"Pertama ibu masuk RSUD tanggal 16 Maret 2020 sebagai PDP dan menjalani 11 hari masa isolasi. Saat itu belum keluar hasil swab. Kita bisa satu ruangan dan menjalani masa sulit berdua," katanya.


Menurut Sunardi, istrinya mulai dikatakan positif pada tanggal 29 Maret 2020 dan pada tanggal 16 April 2020 Hj Nanik kembali menjalani isolasi kedua. Kali ini waktunya lebih lama, yaitu 27 hari.


Atas kuasa Allah, meskipun menunggui istrinya sejak awal. Saat dirapid dan swab, hasilnya negatif. Satu keluarga pun tidak ada yang kena.


"Kunci kesehatan ibu yaitu ketenangan pikiran dan hati. Caranya dengan mengaji Al-Qur'an dan banyak zikir. Semenjak dirawat, ibu sudah khatam Al-Qur'an dua kali," ceritanya.


Bagi Sunardi, ketenangan pikiran membuat obat, vitamin yang dikonsumsi bekerja maksimal dan imun tubuh naik. Sehingga sembuh cepat. Berprasangka baik kepada maha kuasa juga harus terus dilakukan selama menjalani cobaan Covid-19. 


Sunardi dan keluarga berpendapat, ketenangan tidak hanya masalah uang, tapi banyak mendekat kepada Allah. Lewat zikir dan shalawat. Sunardi selama menunggu istrinya khatam Al-Qur'an sekali.


"Sementara swab pada tanggal 10-11 Mei 2020 hasilnya dikasih tahu tanggal 22 Mei 2020 negatif oleh dokter Wahyu, kemudiam resmi dikatakan sembuh," tandasnya.


Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Syamsul Arifin

BNI Mobile