Bagaimana Saudi Menyiasati Jaga Jarak Fisik Antar-Jamaah Haji?

Sejumlah umat Muslim melaksanakan salat dekat Kabah dengan menerapkan social distancing untuk mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19 di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. (Foto: Saudi Press Agency)
Sejumlah umat Muslim melaksanakan salat dekat Kabah dengan menerapkan social distancing untuk mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19 di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. (Foto: Saudi Press Agency)
Sejumlah umat Muslim melaksanakan salat dekat Kabah dengan menerapkan social distancing untuk mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19 di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi. (Foto: Saudi Press Agency)

Jakarta, NU Online

Pemerintah Arab Saudi telah menetapkan kebijakan ibadah haji yang akan tetap dilaksanakan meskipun pandemi Covid-19 belum selesai. Namun, pelaksaan ibadah haji hanya diperuntukkan bagi umat Islam yang berada di dalam negeri Arab Saudi.


Arab Saudi sedang mengantisipasi agar kerumunan tanpa jarak tidak terjadi antar-jamaah. Sebab itu, mereka akan mengalokasikan ruang empat kali lebih besar untuk setiap jamaah haji tahun ini dibanding luas area yang dialokasikan sebelumnya guna mencegah penyebaran virus corona.


"Kehadiran sejumlah besar jamaah pasti akan membuat penularan infeksi kepada orang lain lebih mudah. Tapi kemungkinan seperti itu bisa dihindari karena adanya keputusan kementerian untuk membatasi jumlah jamaah bersamaan dengan instruksi Kementerian Kesehatan terkait dengan jarak sosial, setidaknya dua meter per orang," kata penasihat Menteri Haji dan Umrah, Faten Bin Muhammad Hussein, Kamis (25/6) dikutip dari Saudi Gazette.


Faten juga mengatakan kementerian memiliki salah satu platform elektronik terbaik dengan tingkat konektivitas teknologi tertinggi di antara semua lembaga yang terlibat dalam memberikan layanan kepada jamaah haji dan keluarga mereka, bahkan dalam mengeluarkan izin haji.


Pemerintah Saudi juga menetapkan, yang diperbolehkan untuk melaksanakan haji adalah warga negara Arab Saudi dan warga negara lain yang sudah berdomisili di Arab Saudi.


Itu pun tidak semua ekspatriat (orang tinggal sementara) bisa berhaji. Mereka harus memenuhi persayaratan dan mendapatkan tasrih (izin) dari Kementerian Luar Negeri.


Dikutip dari al-Araby, hanya lebih kurang 1.000 orang yang diizinkan berhaji dengan kriteria di antaranya berumur di bawah 65 tahun dan tidak memiliki riwayat sakit kronis.


"Jumlah jamaah sekitar 1.000. Mungkin kurang, mungkin lebih," kata Menteri Urusan Haji dan Umrah Arab Saudi, Mohammad Benten.


Adapun protokol kesehatan yang harus ditaati para jamaah haji tahun ini antara lain semua jamaah yang melaksanakan ibadah haji akan dilakukan pemeriksaan sebelum memasuki berbagai situs suci.


Semua pekerja dan relawan haji akan melewati tes bebas Corona sebelum ibadah haji dimulai. Saat pelaksanaan haji pun, status kesehatan semua jamaah akan dipantau setiap hari selama ibadah haji.


Untuk memaksimalkan protokol ini, Pemerintah Arab Saudi telah menyiapkan rumah sakit untuk keadaan darurat jamaah selama penyelenggaraan ibadah haji.


Jamaah juga diwajibkan mematuhi kebijakan physical distancing (jaga jarak fisik). Setelah rangkaian pelaksanaan ibadah haji selesai dilaksanakan, semua jamaah juga harus melakukan karantina diri mereka.


Pewarta: Fathoni Ahmad

Editor: Abdullah Alawi

BNI Mobile