HUMOR SUFI

Cara Abu Nawas Memenjarakan Angin

Tentu saja Abu Nawas bingung bukan kepalang mendapat tugas menangkap dan memenjarakan angin. Kalau pun berhasil, ia pun tidak yakin bahwa yang ditangkapnya itu angin karena tidak kelihatan. (Ilustrasi: NU Online)
Tentu saja Abu Nawas bingung bukan kepalang mendapat tugas menangkap dan memenjarakan angin. Kalau pun berhasil, ia pun tidak yakin bahwa yang ditangkapnya itu angin karena tidak kelihatan. (Ilustrasi: NU Online)
Tentu saja Abu Nawas bingung bukan kepalang mendapat tugas menangkap dan memenjarakan angin. Kalau pun berhasil, ia pun tidak yakin bahwa yang ditangkapnya itu angin karena tidak kelihatan. (Ilustrasi: NU Online)

Suatu ketika, Abu Nawas agak sedikit terkejut utusan Baginda Raja datang ke rumahnya. Lalu membawa ia untuk menghadap Raja.


"Akhir-akhir ini aku sering mendapat gangguan perut. Kata tabib pribadiku, aku kena serangan angin," kata Baginda Raja memulai pembicaraan.


"Ampun Tuanku, apa yang bisa hamba lakukan hingga hamba dipanggil?" tanya Abu Nawas.


"Aku hanya menginginkan engkau menangkap angin dan memenjarakannya," kata Baginda kali ini menantang Abu Nawas.


Tentu saja Abu Nawas bingung bukan kepalang mendapat tugas menangkap dan memenjarakan angin. Kalau pun berhasil, ia pun tidak yakin bahwa yang ditangkapnya itu angin karena tidak kelihatan.

 

Tapi bukan Abu Nawas jika tidak mempunyai banyak akal. Setelah diberi waktu tiga hari, Abu Nawas kembali menuju istana.


"Sudahkah engkau berhasil memenjarakan angin, hai Abu Nawas?” tanya Baginda Raja tanpa basa-basi lagi.


"Sudah Paduka yang mulia," jawab Abu Nawas membuat orang-orang di istana penasaran.


Pria yang dikenal dengan seribu akalnya ini mengeluarkan botol yang sudah disumbat. Kemudian Abu Nawas menyerahkan botol itu.


"Mana angin itu, hai Abu Nawas?" tanya Baginda sambil menimbang-nimbang botol itu.


“Di dalam, Tuanku yang mulia," jawab Abu Nawas.


"Aku tak melihat apa-apa," kata Baginda Raja.


"Ampun Tuanku, memang angin tak bisa dilihat, tetapi bila Paduka ingin tahu angin, tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu," kata Abu Nawas menjelaskan.


Setelah tutup botol dibuka, Baginda Raja mencium bau busuk. Bau tersebut tidak asing bagi Raja karena bau yang menyengat hidung itu adalah bau kentut.


"Bau apa ini, hai Abu Nawas?" tanya Baginda marah.


"Ampun Tuanku, tadi hamba buang angin dan hamba masukkan ke dalam botol. Karena hamba takut angin yang hamba buang itu keluar maka hamba memenjarakannya dengan cara menyumbat mulut botol," kata Abu Nawas. (Fathoni)

BNI Mobile