Almaghfurlah KH Ahmad Basyir Ingatkan Jaga Kesetiakawanan Sosial

Almaghfurlah KH Ahmad Basyir Ingatkan Jaga Kesetiakawanan Sosial
Almaghfurlah KH Ahmad Basyir Abdullah Sajjad. (Foto: NU Online/istimewa)
Almaghfurlah KH Ahmad Basyir Abdullah Sajjad. (Foto: NU Online/istimewa)

Sumenep, NU Online Jatim

Nama KH Ahmad Basyir Abdullah Sajjad harum sejak dulu hingga sekarang. Almaghfurlah bukan sekadar tokoh agama dan pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur. Yang bersangkutan juga tokoh panutan bagi Nahdliyin atau warga Nahdlatul Ulama di Madura. 


Namanya semakin harum ketika menjadi Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep serta dimanahi sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Bahkan sejumlah tokoh, termasuk politisi segan dengan sosok dan kiprahnya. 

 

Dedikasinya demikian menonjol, lantaran mengabdikan hidup pada pesantren dan NU. Dari sejumlah kiprah tersebut, menjadikan almaghfurlah dirindukan warga Madura dan kebanyakan santri. 

 

"Izinkan kami memakai kopiah putih, karena ada permintaan sebagian alumni. Tujuannya untuk mengurangi rasa rindu mereka kepada Kiai Basyir," kata KH Abd A'la Basyir dalam sebuah video yang beredar di masyarakat.

 

Dijelaskan mantan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut bahwa beberapa tahun lalu, KH Ahmad Basyir Abdullah Sajjad membuat wasiat yang ditujukan kepada anak-anaknya. "Beberapa hari lalu saya menemukan kertas putih yang dibungkus plastik. Ketika saya buka ada wasiat berbahasa Madura yang menurut saya sangat inspiratif," kata Kiai A’la, sapaan akrabnya.

 

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur tersebut membacakan wasiat almagfurlah yang berbahasa Madura melalui video yang dibagi di sejumlah media sosial. 
Lengkap isi surat tersebut sebagaimana dibacakan Kiai A’la adalah sebagai berikut:

Ila jam'i auladi hafidhakumullahu wa barakalakum. Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Sengko' masenga' dhe' bhe'na kabbi, sopaje'eh pa rokon, pa bhegus sa taretanan, sopaje'eh tettih contoh dhe' masyarakat. Je' sampe' bhedeh hal-hal se atettiaghi karetakan sataretanan. Kenyyang ka sorang, kotuh kenyyang kabbi. Lapar ka sorang, kotuh lapar kabbi. Bungha ka sorang, kotuh bungha kabbi. Sossa ka sorang, kotuh sossa kabbi. Wallahu ma'a shabirin. Wassalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh,. Abukum alfaqir Ahmad Basyir. 
 

Setelah membaca wasiat, Kiai A'la menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut: Bahwa mengingatkan kepada anak-anakku semua agar selalu rukun. Hubungan baik harus dijaga terus, supaya menjadi contoh bagi masyarakat. Jangan sampai ada sedikit pun hal-hal yang membuat keretakan antarsesama saudara. Kalau ada saudaramu yang kenyang atau mendapat rezeki, maka rezeki itu harus menjadi kesenangan bagi yang lain. Kalau ada saudaramu yang kelaparan, maka yang lain harus memikirkannya. Satu senang, semua harus senang. Jika ada yang sedih, yang lain harus sedih. 

 

Kiai A’la menjelaskan secara singkat wasiat tersebut bahwa almaghfurlah Kiai Basyir telah berpikir panjang untuk anak-anaknya. "Saya kira hal ini baik untuk selalu diingat dan diimplementasikan dalam kehidupan kita sehari-hari," tandas guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya tersebut.

 

Meskipun video telah beredar luas di masyarakat, tidak membuat kontributor NU Online secara gegabah mengedarkannya. Setelah menerima video tersebut, harus melakukan konfirmasi kepada pihak keluarga sekaligus izin agar materi dapat diwartakan kepada khalayak, khususnya Nahdliyin. Dan dengan sejumlah pertimbangan, perkenan tersebut diperoleh sehingga bisa dikirim Jumat (26/6).

 

Pewarta: Firdausi
Editor: Ibnu Nawawi
 

BNI Mobile