Ahli Biostatistik Usul 'Pooling Test' dalam Penanganan Covid-19 di Pesantren

Ahli Biostatistik Usul 'Pooling Test' dalam Penanganan Covid-19 di Pesantren
Ilustrasi: Protokol kesehatan di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: NU Online/Rofi)
Ilustrasi: Protokol kesehatan di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. (Foto: NU Online/Rofi)

Jakarta, NU Online

Pesantren tengah berupaya semaksimal mungkin untuk dapat kembali aktif menjalankan pembelajaran sebagaimana biasanya di tengah pandemi Covid-19 yang saat ini masih mengalami fluktuasi kasusnya.


Melihat semangat para santri untuk dapat kembali mengaji, hal ini tentu tidak dapat dihalangi mengingat ada tradisi pesantren yang tergerus, seperti ketiadaan teladan dalam bersikap sebagaimana para santri melihat langsung kiainya di pesantren.


Ahli Biostatistik Indonesia di Belgia Bakhtiar Hasan menyampaikan bahwa dalam melihat persebaran virus di pesantren dapat dilakukan dengan metode pooling test.


“Dengan asumsi tersebut, kita bisa lakukan pooling test,” katanya saat Talkshow Diaspora Nusantara di 164 Channel dengan tema New Normal di Pesantren: Membangun Kolaborasi antara Komunitas Pesantren dan Nahdliyin Eropa pada Sabtu (27/6) sore.


Bakhtiar menjelaskan bahwa pooling test dilakukan dengan cara mengumpulkan air ludah seluruh atau sebagian santri berdasarkan kelas tertentu untuk diketahui ada tidaknya virus dalam kelas mereka. Hal ini, menurutnya, cukup menghemat biaya yang dikeluarkan mengingat tidak langsung diperiksa satu persatu.


“Kalau ada indikasi kita pecah swab test itu. Kita kembali tes perkelas. Dengan begitu kita menghemat banyak. Problemnya uang karena tidak ada biaya tes yang besar. Kita pooling test,” ujarnya.


Bisa saja, jelasnya, setiap santri meludah setiap minggu, misalnya. Hasilnya dicampurkan. Kemudian sampelnya dikirim ke petugas kesehatan. “Itu jauh lebih efektif untuk meng-clear begitu banyak santri,” katanya.


Kedua, lanjutnya, penanganan ini bisa dilakukan melalui kerjasama dengan pemerintah untuk menjadikan pesantren sebagai ujung tombak pengawasan (surveillance). Menurutnya, jika hal tersebut dapat dilaksanakan, ada banyak penyakit seperti TBC, tipus, hingga kolera bisa dideteksi dengan dini.


“Pemerintah bisa menghemat. Kita bisa meng-contain (menahan) outbreak (wabah). Kalau ada surveillance paling tidak ada kita bisa isolasi sejak awal. Jadi, tidak menyebar ke mana-mana penyakit itu. Jadi bisa saving so much money (menghemat banyak biaya),” ujarnya.


Oleh karena itu, ia menyebut bahwa Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama bisa melakukan hal tersebut. Tinggal, katanya, koneksi dengan pesantren itu dibangun, misalnya melalui Puskesmas terdekat.


Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Belgia itu menegaskan bahwa pesantren yang komunal, segala halnya dilakukan secara bersama, sangat memungkinkan adanya penularan penyakit saat berinteraksi, seperti jabat tangan, dekat dengan orang yang memungkinkan adanya droplet mengenai orang lain.


Sementara itu, Bakhtiar menjelaskan bahwa rapid test hanya mengecek melalui serum atau darah. Hal yang diperiksa adalah antibodi untuk melihat indikasi terjadinya sesuatu pada diri manusia. “Kita pernah terekspos dengan hepatitis. Dalam tubuh kita itu ada record. Oh ini ada antibodi,” katanya.


Karenanya, rapid test itu tidak boleh sebagai bahan diagnosis. Cara pengecekan itu hanya untuk melihat seberapa jauh penyakit menyebar. “Karena herd immunity itu mensyaratkan tergantung pada kecepatan berkembangnya penyakit,” katanya.


Di samping itu, Nahdliyin Eropa juga tengah mengembangkan suatu kuisioner yang rencananya akan dibuat dalam satu aplikasi guna mengetahui gejala yang sedang dialami oleh para santri. Dengan begitu, menurutnya akan lebih mudah untuk melihat kondisi kesehatan mereka.


Menanggapi beragam usulan tersebut, Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Ghofar Rozin menyebut bahwa pooling test ini menarik sehingga tidak hanya shalat yang berjamaah, tetapi juga meludah berjamaah.


“Sehingga kalau waktu itu bayangan saya 100-150 orang dikumpulkan dalam satu wadah. Kalau bersih itu bisa dinyatakan bersih,” ujarnya.


Gus Rozin, sapaan akrabnya, menyatakan bahwa ketika ini dikomunikasikan dengan otoritas kesehatan banyak yang tidak mengetahuinya.


“Kalau mau Swab itu satu persatu saja. Pooling test ini menerapkan harga soal duit juga menerapkan harga swab individual 1 juta/orang. Sama saja,” ujarnya.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile