Perkaya Inovasi, Pilihan Tepat Pemilik Usaha sekitar Pesantren saat Ini

Perkaya Inovasi, Pilihan Tepat Pemilik Usaha sekitar Pesantren saat Ini
Madu yang sedang dijual Arif, pedagang di sekitar Pesantren Tambakberas, Kabupaten Jombang. (Foto: NU Online/Syarif Abdurrahman)
Madu yang sedang dijual Arif, pedagang di sekitar Pesantren Tambakberas, Kabupaten Jombang. (Foto: NU Online/Syarif Abdurrahman)

Jombang, NU Online
Libur panjang yang diterapkan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang, Jawa Timur karena Covid-19 memberikan dampak luar biasa pada pedagang sekeliling pesantren. Beberapa pedagang banting setir mencoba usaha lain agar dapurnya tetap mengebul.


Salah satunya adalah Arif, pemilik warung kopi dan penjual nasi goreng di area Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Warung yang biasanya ramai dikunjungi para santri, kini sudah tiga bulan sepi dan pemasukan pun turun drastis.


Efeknya, kini Arif mencoba beralih menjadi penjual madu bunga randu, madu multiflora dan aneka olahan durian via online. Ia menjajakan barang dagangannya lewat media sosial seperti facebook dan whatshap.


"Iya, baru kali ini terdampak cukup parah. Karena Covid-19 ini akhirnya hampir tiga bulan lebih banting setir menjadi penjual madu," katanya, Minggu (28/6).


Ia menjelaskan, alasan memilih jualan madu ini karena barangnya lebih awet dan bisa dikirim via online. Apalagi hingga kini belum ada kejelasan kapan santri Bahrul Ulum semuanya kembali ke pesantren. Hal ini dikarenakan kasus positif Covid-19 yang terus menanjak di Kabupaten Jombang.


"Apapun usaha saya lakukan agar tetap ada penghasilan meskipun tetap menjaga situasi di tengah pandemi. Demi usaha tetap eksis, saya harus berusaha menjualnya secara online dan ofline," tambah alumni Madrasah Muallimin Muallimat Bahrul Ulum ini.


Bagi Arif, berjualan madu adalah bentuk ikhtiarnya sebagai kepala keluarga yang harus mencukupi kebutuhan keluarga. Namun, jualan madu juga tak bearti lancar-lancar saja selama pandemi ini. Daya beli masyarakat tidak begitu lancar.


Madu ini ia dapat di temannya yang berada di Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Karena sudah kenal cukup lama maka model bisnisnya adalah kepercayaan, saling membantu dan bagi hasil.


"Tidak pasti dalam sehari ada terus yang beli. Lagi mujur, sehari pernah terjual 5 buah madu dengan jenis yang berbeda-beda. Satu botol madu dijual seharga Rp 50.000 dan berisi 35 miligram," katanya.


Madu randu ini, kata Arif, dihasilkan dari ternak lebah yang berada di area hutan randu. Dilihat secara fisik madu randu berwarna cokelat muda agak bening dan ada rasa manis sedikit pahit.


Secara khusus, khasiat madu randu berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh, sebagai obat sariawan, meredakan demam dan flu, serta menghilangkan bau mulut.


Sedangkan madu multifora dihasilkan dari nectar beberapa bunga yang dihisap oleh lebah dari hutan atau taman. Khasiatnya dapat meningkatkan stamina tubuh sebagai energi seketika, bersifat anti-bakteri dan anti-cendawan.


"Madu multifora bukanlah madu yang mempunyai rasa, melainkan madu yang dihasilkan dari lebah yang ditangkar di bawah pohon," ujarnya.


Sementara salah satu pedagang nasi dan jasa laundry di sekitar Pesantren Bahrul Ulum bernama Gito juga memilih menutup usahanya sementara waktu. Biasanya dalam sehari dari laundry dan buka warung nasi bisa mengumpulkan uang yang cukup besar. Jika ramai bisa jutaan rupiah.


Gito kini memilih mencari usaha baru di rumah kakeknya di Kabupaten Lamongan. Karena sejak beberapa bulan terakhir tidak ada pemasukan dari warung nasinya.


"Saya tutup karena santri pada pulang semua, rumah saya itu tak kontrakan jika ada yang mau. Sementara cari usaha di Lamongan," tandasnya.


Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Syamsul Arifin

BNI Mobile