Kisah Sukses Muktamar NU di Situbondo, 41 Kiai Diminta Tirakat

Kisah Sukses Muktamar NU di Situbondo, 41 Kiai Diminta Tirakat
HM Misbahus Salam (pegang mic) saat mengisi pengajian Lailatul Ijtima’ di Ranting NU Kaliwining, Rambipuji, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (29/6) malam. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
HM Misbahus Salam (pegang mic) saat mengisi pengajian Lailatul Ijtima’ di Ranting NU Kaliwining, Rambipuji, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (29/6) malam. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online
Muktamar ke-27 NU di Situbondo, Jawa Timur (1984) sangat fenomenal dan luar biasa. Sebab dari forum tertinggi NU itulah, dua keputusan besar dikeluarkan. Yaitu NU menerima Pancasila sebagai azas tunggal, dan NU kembali ke khittah 1926.


Menurut Wakil Ketua IKSASS (Ikatan Keluarga Santri dan Alumni Salafiyah Syafi’iyah), HM Misbahus Salam, keputusan pertama cukup menggemparkan Indonesia. Sebab waktu itu kecenderungan umat Islam adalah menolak keinginan pemerintah untuk menjadikan Pancasila sebagai azas tunggal bagi ormas dan organisasi politik.  Bahkan di NU sendiri terbelah: ada yang menolak dan ada yang menerima.


Tapi dengan keputusan berani itu, NU telah mengurangi bahkan mengeleminasi ketegangan di kalangan umat Islam, khususnya antara yang pro dan kontra terhadap rencana penerapan azas tunggal Pancasila. Dan nyatanya lambat laun umat Islam bisa menerima, tidak ada masalah.


“Jadi bagi NU Pancasila sudah final, tak perlu diutak-atik lagi. Buat apa. Yang diperlukan sekarang adalah pengamalannya dipergiat,” ujar H Misbah, sapaan akrabnya, saat mengisi pengajian Lailatul Ijtima’ di Ranting NU Kaliwining, Rambipuji, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (29/6) malam.


Sedangkan keputusan yang lain: NU kembali ke khittah 1926 juga menjadi tonggak baru bagi perjalanan NU kedepan untuk ‘bebas’ dari sandera politik praktis. Diibaratkan burung, NU  setelah itu bisa keluar dari sangkarnya untuk terbang kemana saja namun tak boleh lupa dengan rambu-rambu yang telah ditentukan oleh pemilik sangkar.


“Alhamdulillah, dengan NU kembali ke khittah, NU bisa lebih fokus pada persoalan keumatan meskipun tidak bisa steril sama sekali dari bersinggungan dengan politik praktis,” lanjut H Misbah yang juga A’wan Syuriyah PCNU Jember itu.


Dua keputusan besar tersebut, tentu tak lepas dari pelaksanaan Muktamar ke-27 yang kondusif. Kata H Misbah, KH As’ad Syamsul Arifin selaku pengasuh Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo sekaligus tuan rumah Muktamar NU berupaya keras untuk menyukseskan hajatan nasional tersebut, baik secara lahir maupun batin. Bahkan selama sekian hari sebelum Muktamar digelar, Kiai As’ad menugaskan 41 kiai dan ustadz untuk tirakat demi suksesnya hajatan NU tersebut.


“Jadi memang tidak gampang. Muktamar tersebut saat itu begitu vital karena materinya juga sangat penting, dan alhamdulillah sukses berkat pertolongan Allah,” pungkasnya.


Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi

 

BNI Mobile