PWNU Jateng: Sarung Nahdliyyin Harus Miliki Daya Saing Tinggi

PWNU Jateng: Sarung Nahdliyyin Harus Miliki Daya Saing Tinggi
Sarung 'nahdliyyin' produksi PCNU Kota Pekalongan, Jateng (Foto: Abdul Muis)
Sarung 'nahdliyyin' produksi PCNU Kota Pekalongan, Jateng (Foto: Abdul Muis)

Semarang, NU Online 

Kualitas 'sarung nahdliyyin' yang diproduksi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan harus memiliki nilai kompetitif yang tinggi sehingga mampu bersaing dengan kompetitornya di pasaran.

 

Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah H Hudallah Ridwan Naim optimis produk sarung nahdliyyin terjamin kualitasnya sehingga mampu mempertahankan sekaligus merebut kepercayaan konsumen terutama di kalangan Nahdliyyin.

 

"Warga NU itu pangsa pasar utama produk sarung. Kalau bisa membina kepercayaan pasar, maka produsen akan menguasai konsumen yang fanatik dan tidak mudah beralih ke merek lain," kata Gus Huda kepada NU Online di Semarang, Selasa (30/6).

 

Dikatakan, PWNU Jawa Tengah mendukung kreativitas PCNU Kota Pekalongan dalam upaya mendorong tumbuhnya usaha produksi sarung nahdliyyin yang sebagian besar konsumennya adalah warga NU di berbagai belahan dunia.

 

"Langkah terobosan NU Pekalongan yang tiada henti berinovasi dalam mengembangkan usaha produksi sarung  ini harus didukung warga NU di manapun berada," tegasnya.

 

Selain itu lanjutnya, produsen sarung nahdliyyin di Pekalongan hendaknya selain memperhatikan kualitas produk jangan lupa dalam mematok harga juga harus kompetitif sehingga dapat terjangkau oleh kalangan nahdliyin.

 

Rais PWNU Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh (kanan) dukung PCNU Kota Pekalongan kembangkan 'sarung nahdliyyin' (Foto: NU Online/Samsul Huda)

 

"Brand sarung nahdliyyin sebenarnya memiliki nilai dan daya untuk menumbuhkan loyalitas konsumen terhadap produk, karena itulah pengurus NU perlu memediasi agar muncul semangat sinergitas tinggi antara produsen dan konsumen yang muaranya untuk kebesaran NU dan nahdliyin," ucapnya.

 

Perekonomian yang kian melambat ini lanjutnya, harus dimanfaatkan untuk  saling memberi masukan sehingga bisa sama-sama saling menguatkan. Keterbukaan  produsen untuk menerima masukan perlu diimbangi loyalitas konsumen.

 

"Mari sesama nahdliyin saling menguatkan. Kami mengajak warga NU menggunakan produknya sendiri, wis wayahe mengkonsumsi punya sendiri," ujarnya.

 

Rais PWNU Jateng KH Ubaidullah Shodaqoh mengatakan, sebagai bentuk implementasi keberpihakan kepada produk warga NU, sejak beberapa tahun lalu dirinya bersama pimpinan NU dan pengasuh pesantren mengenakan sarung batik produksi Nahdliyin.

 

"Alhamdulillah pilihan ini ditiru oleh warga NU. Dari hari ke hari saya melihat orang NU yang bersarung batik produksi NU semakin banyak. Inovasi NU Kota Pekalongan kami dukung sepenuhnya, selain dapat menggerakkan sektor riil sekaligus menumbuhkan loyalitas pada organisasi," pungkasnya.

 

Kontributor: Samsul Huda
Editor: Abdul Muiz 
 

BNI Mobile