Universitas Islam Jember, Modal Semangat yang Kini Menggeliat

Sosok atau pelaku sejarah pengembangan UIJ, H Mohammad Fachrur Rozi (sebelah kiri) bersama salah seorang tokoh masyarakat. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Sosok atau pelaku sejarah pengembangan UIJ, H Mohammad Fachrur Rozi (sebelah kiri) bersama salah seorang tokoh masyarakat. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Sosok atau pelaku sejarah pengembangan UIJ, H Mohammad Fachrur Rozi (sebelah kiri) bersama salah seorang tokoh masyarakat. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online
Universitas Islam Jember (UIJ) bertekad menjadi kampus pengawal ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) sebagai perwujudan dari keinginan para pendiri perguruan tinggi milik Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, Jawa Timur itu. Tekad tersebut dibuktikan dengan mendirikan Lembaga Pengkajian dan Pengembagan Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah (LP2AN).


“Itu wasiat yang wajib kami laksanakan. UIJ tak sekadar memberi mata kuliah Aswaja kepada mahasiswa, tapi juga mempuyai laboratorium Aswaja. Yaitu LP2AN,” ucap Rektor UIJ, H Abdul Hadi kepada NU Online di kantornya, Selasa (30/6).


Menurutnya, sejak awal UIJ  memang sudah mendeklarasikan diri sebagai kampus identitas dengan lebel Aswaja. Ia mengaku tidak khawatir hal tersebut akan mengurangi minat masyarakat untuk kuliah di kampus tersebut. Nyatanya, UIJ terus menggeliat. Mahasiswa non Muslim juga ada, bahkan beberapa mahasiswanya berasal dari manca negara.


“Kenapa? Karena NU bukan ancaman bagi siapa pun. NU justru mengayomi seluruh lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan agama, suku, dan budaya,” jelasnya.


Hadi menambahkan, UIJ memiliki sejarah yang cukup mengharu-biru terkait dengan pendiriannya. Intinya kampus ini adalah buah dari keinginan besar para kiai dan pengurus NU untuk memiliki perguruan tinggi sendiri, meskipun modalnya hanya semangat.


“UIJ ini sejarah. Para kiai telah mengukir sejarah dengan membangun kampus ini,” ungkapnya.


Gedung NU Jadi Agunan

Di tempat terpisah, salah seorang saksi hidup pendirian UIJ, H Mohammad Fachrur Rozi menegaskan, kampus didirikan karena para kiai dan pengurus NU Jember benar-benar menginginkan punya perguruan tinggi yang bisa dibanggakan. Itu berangkat dari kesadaran betapa pentingnya sarana pendidikan bagi warga NU yang selama ini memang tertinggal di bidang tersebut.


“Mereka para kiai dan pengurus NU begitu semangat untuk memiliki perguruan tinggi,” jelasnya.


Meski tidak punya cukup biaya, mereka membeli lahan di Jalan Kiai Mojo Nomor 101, Kaliwates, Jember. Biayanya didapat dari pinjaman Bank Bumi Daya dengan agunan sertifikat Kantor PCNU Jember yang terletak di seberang jalan Pendopo Wahyawibawagraha.


Di lahan itulah gedung UIJ dibangun (1984). Sebagian material bagunan disumbang oleh warga NU melalui MWCNU dan Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama hingga akhirnya berdiri. Meskipun gedungnya sederhana, namun tetap membanggakan bagi kiai dan warga NU.


“Waktu itu yang kuliah banyak anak kiai, pengurus NU dan sebagainya,” terangnya.


Seiring perjalanan waktu, masa pengembalian pinjaman PCNU Jember kepada Bank Bumi Daya telah jatuh tempo. Menurut Ustadz Fachrur, sebenarnya jika diusahakan, PCNU Jember saat itu bisa menyelesaikan kewajibannya kepada bank tersebut. Namun karena PCNU butuh lahan lebih luas untuk kantor dan pengembangan kampus,  maka akhirnya tanah dan bangunan kantor NU yang lama di-take over oleh Bank Bumi Daya.


“Waktu itu sekitar awal 1994, saya sebagai Sekretaris PCNU Jember. Saya ikut meneken surat penyerahan aset NU kepada bank dalam akad take over,” kenang Ustadz Fachrur.


Kepala Kamenag Lumajang, Jawa Timur itu mengaku bangga karena take over itu  tidak sia-sia. Buktinya, saat ini UIJ berkembang cukup pesat, bahkan berhasil membuka kampus dua di lingkungan elit kampus Universitas Jember , yaitu Jalan Tidar, Sumbersari, Jember. Kampus tersebut asalnya adalah Akademi Kebidanan Bakti Husada yang dibeli oleh UIJ untuk pengembangan kampus.


Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi

BNI Mobile