Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Kepemimpinan Kiai dalam Arus Perubahan Sosial

Kepemimpinan Kiai dalam Arus Perubahan Sosial
(Ilustrasi: NU Online/Dok. Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo)
(Ilustrasi: NU Online/Dok. Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo)

Kiai adalah tokoh masyarakat yang disegani, umumnya seorang kiai itu pengasuh pesantren. Ia menjadi tokoh utama dalam mengarahkan pendidikan pesantren yang diasuhnya. Penyebutan kiai adalah gelar kehormatan. Tetapi banyak juga yang bukan pengasuh pesantren dipanggil kiai, biasa kita kenal kiai kampung, kiai langgar, kiai masjid, atau orang yang dianggap mempunyai wawasan pengetahuan keagamaan.


Praksisnya, peran kiai tidak sekadar ngurusi santri, ngajar ngaji, dan fokus di pesantren. Tapi melebihi itu, orang yang dianggap sudah kiai, mereka mempunyai rutinitas padat. Identitas kiai pada ranah sosial universal, tidak tunggal, kiai banyak merangkap peran. Kiai dianggap mampu menangani apa pun, dari mulai urusan remeh-temeh hingga urusan ribet-njlimet.


Dalam sosiologi kepemimpinan tradisional seorang kiai dicitrakan sebagai orang yang mengerti segalanya sekaligus mampu menangani semua permasalahan; diminta ngobati, tempat curhat, minta doa penglaris, dimintai ajian-ajian wirid, jurus kesaktian, mendamaikan rumah tangga bermasalah, mendoakan punya anak, konsultasi perihal keagamaan, masalah pertanian yang kurang menguntungkan, dan banyak lainnya. 


Sedangkan dalam kepemimpinan modern kita mengenal istilah divison of labour, pembagian kerja. Setiap orang memegang perannya masing-masing. Seperti pembantu Presiden dengan kementerian-kementeriannya, dan di perusahaan dengan pembagian tugas kerjanya, semua itu diukur atas dasar kecakapan dan spesialisasi. Di sinilah perbedaan kiai (kepemimpinan tradisional) dengan menteri (kepemimpinan modern), kiai adalah satu orang yang mengurusi banyak hal, sedangkan kepemimpinan modern satu orang hanya mengurusi satu hal. Dalam bahasa milenialnya, kiai itu multitasking.


Bayangkan, begitu berat aktivitas keseharian kiai. Kiai tidak sekadar direpotkan oleh urusan yang ada di lingkarannya saja. Kiai jarang istirahat, tamunya banyak, tanpa jeda, hebatnya kiai—selalu menyambut tamu dengan ramah. Apalagi tamu yang datang membawa keluhan masalah, “Kiai kalau gak pinter-pinter banget, pasti mumet.” Tapi namanya kiai, khususnya kiai sungguhan, selalu punya cara dalam menangani apa pun.


Kepemimpinan modern belum digandrungi masyarakat, khususnya masyarakat pedesaan. Masyarakat nyaman dengan pola kepemimpinan tradisional—dianggap mampu mewakili seluruh keresahan. Buktinya hingga kini kiai masih menjadi patron, panutan utama, dan gambaran kebaikan moral. Kepemimpinan modern yang nampak simpel, ternyata ruwet, banyak aturan, dan terlalu birokratis.


Coba tengok, pengaruh kiai—luar biasa, karena kiai selalu memperlakukan orang di sekitarnya dengan pendekatan humanis (memanusiakan), kiai menganggap santri dan masyarakat seperti sahabat dan keluarganya sendiri, tanpa membeda-bedakan latar belakang. Artinya kiai sangat berperan dalam menjaga kerukunan bangsa. 


Kiai bersentuhan langsung dengan masyarakat—mengambil langkah-langkah pasti ketika mendapati suatu masalah; sosial maupun kultural. Rasa tanggung jawab kiai terhadap lingkungan begitu besar. Bisa dikatakan kiai merupakan sosok multi-dimensional. Kiai tidak hanya mengajarkan teori pengetahuan, tapi tindakan, dan teladan kebaikan.


Di era serba berkembang sekarang, dengan model intimidasi kebudayaan yang kental, peran kiai sangat dibutuhkan. Tidak sedikit masyarakat desa—sudah bergaya kota, hal tersebut disebabkan oleh perubahan zaman yang susah dikontrol. Informasi terbuka lebar dan akses terhadap hal-hal negatif mudah. Apalagi dibarengi dengan semaraknya berita-berita hoaks—punya potensi memecah belah. 


Dalam kesadaran kultural dunia kiai dan masyarakat, perubahan sosial terutama yang berkenaan dengan modernisasi, sesungguhnya dirasakan membawa arus kurang positif. Dalam hal ini ada masalah, ada beberapa orang dianggap kiai yang kurang fokus mengurus umat, lebih menitik beratkan peranannya dalam karier politik. 


Jebakan politik tidak bisa dihindari, apalagi setiap ada pemilihan kepala daerah, pemilihan presiden, dan pemilihan apa pun, kiai seringkali digandeng untuk menarik suara rakyat. Kiai dianggap mampu mempengaruhi pilihan. Tidak ada yang salah dalam aktivitas ini. Yang menjadi masalah adalah ketika kiai berlama-lama masuk dan terjebak dalam arus tersebut. Sehingga antara kiai dan umat tidak memiliki upaya seimbang untuk keluar dari jeratan ini—dikhawatirkan umat ngambek dan kiai tidak lagi min haitsu la yahtasib.


Hal tersebut pernah disinggung oleh KH. Zainal Arifin Thoha, dalam bukunya, Runtuhnya Singgasana Kiai, “Generasi santri, generasi pesantren, dan para kiai itu sendiri yang lupa diri dan tenggelam dalam kepentingan sesaat, baik itu kekuasaan atau kemewahan, sesungguhnya adalah pertama-tama menjadi penyebab runtuhnya singgasana kiai; penyebab padamnya cahaya pencerahan bagi bumi.”


Dalam hal ini, kita tidak fokus pada percakapan politik, tidak pas merumuskan tips dan trik bagaimana menjadi kiai ideal. Karena semua kiai itu ideal. Mau yang berpolitik atau tidak—selagi kiai masih mengurus umat dengan baik. Kita bisa lihat teladan Gus Dur, kesibukan di dunia politik (sampai jadi Presiden) tidak menyurutkan langkah Gus Dur dalam aktivitas kemanusiaan. 


Yang harus kita perbincangan sekarang ialah bagaimana kiai dalam merespon perubahan sosial yang terjadi saat ini. Di mana arus zaman susah dibendung, dan banyak umat labil. 


Kiai yang disebut Geertz sebagai “makelar budaya” (cultural broker), mempunyai fungsi menyaring informasi ke masyarakat dan santri, menyeleksi mana yang baik dan tidak, yang baik ditularkan dan yang buruk dibuang. Namun, kata Geertz hal itu akan macet, ketika arus informasi masuk sangat deras, dan kiai tidak memiliki kemampuan kreatif menyikapinya. Ada kekhawatiran, pada ujungnya kiai akan ketinggalan zaman, dan umat berjalan sendiri atas perubahan sosial yang berkembang. Fenomena ini menurut Geertz—mengakibatkan kiai mengalami cultural lag (kesenjangan budaya).


Memang, di era industri dan kemajuan teknologi seperti sekarang terjadi pergeseran pola komunikasi, mobilitas masyarakat semakin tinggi. Perubahan komunikasi tersebut tidak hanya dirasakan antara masyarakat dengan masyarakat tetapi keluarga dengan keluarga pula. Otomatis terjadi kesenjangan pola interaksi, seperti; distribusi pengetahuan tumpang tidih, bimbingan orang tua di bawah tekanan arus yang cepat, dan penyampaian guyub antar masyarakat susah dilakukan. Peristiwa ini menjadi hambatan bagi keselarasan dan keseimbangan dalam merajut harmoni.  


Dengan demikian, pendekatan kiai dengan masyarakat polanya harus disesuaikan, yang dibangun adalah sistem sosial penuh gagasan. Yang penting, kiai, khususnya kiai-kiai muda harus istiqamah meruat bangsa, melalui arus bawah dengan metode dakwah kultural yang menyejukkan, kesadaran kultural bisa dibangun melalui dakwah kultural berkelanjutan. Masyarakat butuh diingatkan, contoh, dan panutan. 


Berbeda pandangan dengan Geertz, Dr. Hiroko Horikoshi, melihat peran kiai sebagai sentral perubahan, bukan sosok yang terbawa arus perubahan. Kiai tidak akan mengalami kesenjangan budaya, kiai punya cara tersendiri dalam menawarkan agenda perubahan sosial. Ketika nampak kiai terbelakang dan mencoba menahan para santri untuk tidak bermain smartphone bukan berarti kiai sedang meredam informasi, justru agenda perubahan (dilakukan) kiai selalu menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan santri. 


Para kiai memahami jika perubahan sosial adalah hal niscaya, sebab itu kiai tidak mau terburu-buru dalam meresponsnya, kiai berpikiran supaya perubahan itu tidak berdampak buruk terhadap santri dan masyarakat. Sebelum perubahan baru itu masuk ada ekosistem di lingkungan masyarakat—sudah terbangun. Jangan sampai perubahan sosial yang cepat membuat jaring-jaring sosial menjadi rusak. 


Seperti yang terjadi saat ini, kebanyakan orang gegap-gempita menyambut perubahan melalui ekspresi bebas-kebablas. Akhirnya, susah dikontrol, dan orang jadi kagetan, setiap ada hal baru, penasaran, seakan-akan tidak akan ada hal baru yang muncul lagi. Mereka tidak mencoba memfilter hal-hal baru yang masuk, berkaca pada kaidahnya, “memelihara yang baik dari tradisi lama, dan mengambil yang lebih baik dari perubahan baru.”  


Dalam buku Kyai dan Perubahan Sosial, karya Dr. Hiroki Horikoshi dituliskan, “Suatu kelompok komunitas ataupun masyarakat memiliki semacam lambang yang dominan berfungsi efektif mempersatukan kelompok dan merupakan pendorong bagi kegiatan anggotanya. Nah, bagi masyarakat Islam pedesaan, seorang kiai memegang peran ini untuk membentengi umat terhadap ancaman-ancaman kekuatan dari luar.”


Itu lah sebabnya, hingga kini eksistensi kiai teruji waktu. Kiai selalu mempunyai cara tersendiri dalam merespons setiap perubahan yang masuk, strategi budaya yang kiai pegang ialah melakukan penawaran jalan terbaik kepada santri dan masyarakat. Kiai tetap menjaga tradisi kontinuitas sosial yang baik.


Dengan demikian, hakikat kiai harus tetap utuh, sebagai pengayom, berdakwah ala Wali Songo, dan menampung semua keresahan masyarakat, tanpa lelah dan penuh kesabaran. Nasihat-nasihat kebangsaan, keagamaan harus terus dilakukan para kiai agar eksistensi persatuan bangsa kita tetap terjaga, kita semua tahu pergolakan sosial sekarang sedang mengkhawatirkan; penjajahan kebudayaan, ideologi ekstremisme, dan isu-isu yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, sekali lagi, kepemimpinan kiai hingga kini dan nanti masih sangat dibutuhkan umat, agar umat tidak tersesat pada ruang-ruang kegelapan. Semoga kiai-kiai kita selalu diberikan kesehatan oleh Allah Swt. Amin. 



Aswab Mahasin, Pembaca Setia NU Online
 

BNI Mobile