Kiai Said Jelaskan Perjuangan Berat Mbah Wahab Kembangkan NU

KH Said Aqil Siro, Ketua Umum PBNU. (Foto: NU Online)
KH Said Aqil Siro, Ketua Umum PBNU. (Foto: NU Online)
KH Said Aqil Siro, Ketua Umum PBNU. (Foto: NU Online)

 Jombang, NU Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siroj menegaskan bahwa KH Abd Wahab Hasbullah (Mbah Wahab) menjadi sosok penting atas berdirinya NU. Tanpa perannya, jamiyah ini belum tentu besar sebagaimana sekarang.

 

Bukan hanya sebagai penggagas dalam pendirian NU, tetapi Mbah Wahab juga memiliki andil besar awal NU akhirnya diterima oleh banyak orang di sejumlah daerah. Keseriusannya dalam hal ini tercermin saat harus mendatangi para kiai dan sahabatnya satu per satu agar turut bergabung di dalam NU.

 

"Setelah NU resmi berdiri, Mbah Wahab menjadi motornya, yang keliling ke sejumlah daerah untuk membentuk kepengurusan NU," katanya saat memberikan sambutan saat Haul ke-49 Mbah Wahab secara daring, Kamis (2/7). 

 

Adapun beberapa daerah yang dikunjungi Mbah Wahab saat itu di antaranya Sumatera Selatan. Di sana Mbah Wahab berjumpa dengan Kiai Kamilus Sholeh. Kepadanya ia mengajak untuk bergabung pada organisasi yang baru saja didirikan itu.

 

"Kiai Sholeh adalah asal Semarang yang tinggal di Sumatera," ujarnya.


Beranjak ke tempat lain seperti di daerah Menes, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten dengan membawa misi yang sama. Dalam keterangan Kiai Said, Menes adalah daerah yang cukup jauh dari keramaian. Di samping itu untuk bisa sampai ke sana harus melalui jalan yang rusak. Dan kondisi ini sampai sekarang belum banyak perubahan.

 

"Kalau ke sana harus muter-muter, sampai sekarang. Apalagi waktu itu di masa Mbah Wahab tahun 1926. Di sana kemudian diterima oleh residen Abdurrahman," tuturnya.

 

Kemudian titik yang juga menjadi tujuan Mbah Wahab adalah Betawi. Di sini ketemu dengan guru Marzuki Cipinang Muara, ulama yang cukup terkenal di Betawi dan menjadi guru mayoritas masyarakat Betawi.

 

"Cucunya masih ada sampai sekarang," jelas Kiai Said.

 

Sepanjang perjalanan, misi Mbah Wahab tidak selalu mulus sesuai dengan yang diharapkan. Penjelasan Kiai Said, ada seorang kiai bahkan sahabatnya sendiri tidak berkenan diajak bersama-sama membesarkan NU. Yang bersangkutan justru ingin membesarkan organisasi sendiri yang didirikan, yakni Nahdlatul Wathan.

 

Ia adalah Muhammad Zainuddin Abdul Madjid. Bahkan di Lombok Timur sebagai tempat tinggalnya, Mbah Wahab singgah hingga sekitar satu bulan lamanya. Upaya 'merayu' sudah dilakukan tetapi tidak mengubah pendirian Muhammad Zainuddin.

 

"Satu bulan Mbah Wahab di sana melobi agar bersedia bergabung dengan NU tapi akhirnya gagal tidak mau. Disuruh ke muridnya saja namanya Guru Faisal di Lombok Tengah," ujarnya.

 

Tidak berhenti di situ, Mbah Wahab juga mengunjungi kiai-kiai di tempat lain, seperti Majalengka, Cirebon, Semarang, Kudus, Cepu, dan tempat lain.

 

Kiai Said menggarisbawahi bahwa Mbah Wahab menjalankan misinya tersebut dengan ikhlas dan murni hanya untuk perkembangan NU. Bahkan dalam catatannya, Mbah Wahab selama melakukan kunjungan memakai biaya pribadi.

 

"Catat ini, Mbah Wahab muter-muter ke satu daerah ke daerah lainnya dengan uang sendiri tanpa meminta sana sini," pungkasnya. 

 

Haul daring ini juga dihadiri oleh Wakil Presiden RI, KH Ma’ruf Amin, Menteri Tenaga Kerja, Ida Fauziah, Safira Machrusah selaku Duta Besar Aljazair. 

 

Sedangkan di Masjid Pesantren Bahrul Ulum Jombang, tempat diselenggarakannya haul, hadir pula KH Miftachul Akhyar selaku Rais Am PBNU, KH Marzuki Mustamar (Ketua PWNU Jatim), Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dan keluarga besar Mbah Wahab.

 

Pewarta: Syamsul Arifin
Editor: Ibnu Nawawi
 

BNI Mobile