Gus Baha: Jiwa Heroik dan Patriotik Mbah Wahab Harus Menginspirasi Generasi Saat Ini

Gus Baha menyampaikan ceramah agama di acara Haul ke-49 KH A Wahab Hasbullah di Masjid Jami Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang. (Foto: tangkap layar NU Channel)
Gus Baha menyampaikan ceramah agama di acara Haul ke-49 KH A Wahab Hasbullah di Masjid Jami Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang. (Foto: tangkap layar NU Channel)
Gus Baha menyampaikan ceramah agama di acara Haul ke-49 KH A Wahab Hasbullah di Masjid Jami Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Kabupaten Jombang. (Foto: tangkap layar NU Channel)

Jombang, NU Online
Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulaman (PBNU) KH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) mengatakan, umat Islam dewasa ini bisa meniru kemandirian dan jiwa juang dari pahlawan nasional KH A Wahab Hasbullah (Mbah Wahab).


"Perdagangan Mbah Wahab itu harus kita maknai sebagai aktor atau pelaku utama. Ini solusi masalah umat Islam. Setiap kebutuhan disediakan orang lain, ini bahaya. Maka Mbah Wahab berusaha menyediakan kain kafan sendiri, bisnis impor kain kafan," kata Gus Baha, saat haul ke-49 Mbah Wahab di Pesantren Bahrul Ulum, Kamis (2/7).


Menurut Gus Baha, sifat kesatria KH A Wahab Hasbullah ditunjukkan dengan kegigihannya menjadi subjek dalam kehidupan dengan menjadi pedagang, politikus, dan ulama.


Hal ini sama dengan ajaran Nabi Muhammad, pada zaman Rasulallah, orang dilatih harus jadi subjek atau aktor. Pada saat perang mereka semua ikut menyumbang. Ada yang punya beras 2 kg dan 1 kg untuk disumbangkan.


Bisa dibayangkan jika ada 3000 orang miskin yang menyumbang beras 1 kg maka ada 3000 kg beras. Mereka menyumbang untuk diri mereka saat perang. Mereka adalah aktor heroik.


Jika orang miskin ini tidak mau menyumbang maka harta yang seharusnya dipakai buat beli senjata harus digunakan beli sembako. Jadi pada zaman nabi, walaupun miskin tapi jiwanya heroik. Efeknya orang yang memberi adalah tidak tamak.


"Orang miskin zaman nabi bersifat heroik, karena ikut menyumbang. Maka dia tidak butuh sumbangan. Masyarakat berpikir memberi bukan menerima. Jangan kalian jadi orang yang memikirkan labanya kita jadi objeknya," pinta Gus Baha.


Sifat yang diajarkan Mbah Wahab bisa menjadi solusi masalah bangsa saat ini. Di mana setiap orang ingin menjadi subjek bukan objek. Dengan begitu mereka memiliki jiwa heroik dan patriotik.


"Saidina Ali pernah bicara, umat ini akan buruk sekali kalau jadi objek, sasaran tembak. Semisal umat Islam mau haji yang menyediakan peralatan orang lain termasuk travel," tambah Gus Baha. 


Sifat Mbah Wahab tersebut, kata Gus Baha, merupakan ciri khas karakater ulama sejati. Terbukti, dulu sebelum ada TNI, ulama punya cara sendiri melawan Belanda, karena terbiasa punya strategi dan pengikut. Bagi Gus Baha ini luar biasa, karena tidak ditopang negara tapi bisa melakukan perlawanan.


"Seandainya dulu ulama melawan penjajah menunggu negara, mau melawan penjajah kalau diangkat jadi TNI dan punya otoritas resmi pasti akan kalah duluan karena ribet," imbuhnya.


Sederhananya, Gus Baha menjelaskan kalau para pejuang memiliki mental tamak maka akan mati duluan, menunggu pemerintah kasih uang dulu baru makan, tidak mau mencari solusi secara mandiri.


"Andainya semua masyarakat bermental heroik maka tak mudah menyalahkan pemerintah dalam mengurusi negara," tandasnya.


Kontributor: Syarif Abdurrahman
Editor: Syamsul Arifin

BNI Mobile