Terilhami Darurat Corona, MWCNU Silo Produksi ‘Beras Nusantara’

Peluncuran Beras Nusantara produksi MWCNU Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur  di Desa Mulyorejo, Silo. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Peluncuran Beras Nusantara produksi MWCNU Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur di Desa Mulyorejo, Silo. (Foto: NU Online/Aryudi AR)
Peluncuran Beras Nusantara produksi MWCNU Silo, Kabupaten Jember, Jawa Timur di Desa Mulyorejo, Silo. (Foto: NU Online/Aryudi AR)

Jember, NU Online
Bencana tidak selalu menyayat luka, tapi juga memunculkan berkah. Berkah akan  lahir bagi orang yang bisa mengambil hikmah dari bencana tersebut.  Inilah yang  dilakukan oleh Ketua MWCNU Silo, Jember, Jawa Timur,  H Fauzan.  Dua bulan lalu,  H Fauzan berhasil memproduksi beras dengan merk Beras Nusantara.  Namun peluncurannya baru dilakukan Ahad (28/6) di Dusun Baban, Desa Mulyorejo, Kecamatan Silo, Jember  bersamaan dengan  pembagian sembako  oleh Pengurus Cabang LAZISNU Jember.


“Syukur kita berhasil memproduksi beras sendiri, dan alhamdulillah sambutan masyarakat cukup baik,” ucapnya di kantor MWCNU Silo,  Jember,  Jumat (3/7).


Menurut H Fauzan, inisiasi memproduksi beras muncul akibat  terjangan wabah Corona yang cukup tajam. Corona tidak hanya merenggut nyawa manusia, tapi juga menyebabkan terhambatnya perputaran roda ekonomi masyarakat. Akibatnya masyarakat mengalami kerisauan karena pendapatannya berkurang bahkan punah sama sekali.


“Saya akhirnya punya pemikiran bagaimana jika  memproduksi beras mengingat Silo dan sekitarnya bahkan Jember, mayoritas adalah petani,” terangnya.


Alumnus  Pondok Pesantren  Miftahul Ulum, Desa Suren, Kecamatan Ledokombo, Jember itu menegaskan,  Corona merupakan bencana, dan semua masyarakat terkena dampaknya, termasuk petani meskipun tidak terlalu parah.  Dikatakannya, selama darurat Corona,  penjualan gabah petani agak terusik. Misalnya, pembelian gabah tidak dibayar cash, tapi masih menunggu beberapa hari. Tidak hanya itu, jika ada petani atau buruh tani yang mau menjual gabahnya  sedikit agak sulit karena pengepul biasanya membeli dalam jumlah banyak.


“Kami bisa membeli gabah petani langsung bayar, sedikit atau banyak sama saja. Gampang,” jelasnya.


H Fauzan menegaskan, dipilihnya nama Beras Nusantara bukan tanpa sebab. Nama tersebut adalah branding  yang  dinisbatkan kepada sejumlah ‘branding’ NU yang berbau Nusantara semisal Islam Nusantara, dan sebagainya.  Meskipun merknya tidak ada nama NU, tapi di kemasannya. logo NU terpasang dalam ukuran besar.  Untuk saat ini, Beras Nusantara, dikemas dengan ukuran 5 kilogram, 10 kilogram, dan 25 kilogram.


“Kita berharap Beras Nusantara  nanti bisa menusantara, berkahnya NU,” jelasnya.


Sementara itu, Ketua  Bagian Produksi Beras Nusantara, H Faishal Taufiqurrahman menegaskan, pihaknya sangat menjaga kualitas dalam memproduksi beras. Sehingga dipastikan Beras Nusantara tidak kalah kualitasnya dibandingkan dengan beras serupa yang sudah dulu merambah pasar.


“Kami tidak ingin produksi orang NU kualitasnya jelek. Tidak ingin. Justru kita  harus menjaga kualitas meskipun harganya sangat terjangkau,” ungkap pria yang juga Ketua UPZIS  LAZISNU MWCNU Silo itu.


Pewarta: Aryudi AR
Editor: Ibnu Nawawi

 

BNI Mobile