Berawal dari MKNU, Kaum Milenial Nahdliyin Siap ‘Hijaukan’ Negeri Sakura

GMNU Jepang sedang berbincang soal generasi milenial melalui Zoom. (Foto: tangkapan layar)
GMNU Jepang sedang berbincang soal generasi milenial melalui Zoom. (Foto: tangkapan layar)
GMNU Jepang sedang berbincang soal generasi milenial melalui Zoom. (Foto: tangkapan layar)

Jakarta, NU Online
Kisah suka-duka menghidupkan Nahdlatul Ulama begitu terasa bagi kaum milenial Nahdliyin di Jepang. Kisah tersebut mengemuka dalam acara sharing dan shalawat bersama pemuda-pemudi NU Jepang, Jumat (3/7) malam.


Ketua Gerakan Muda Nahdlatul Ulama (GMNU) Jepang Dimas Wahyu Sulistiyono mengisahkan awal mula GMNU didirikan enam bulan silam, tepatnya pada pekan pertama Januari 2020.


“Awalnya, pada 3-5 Januari diadakan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) di Jepang. Dari situ, kami membahas soal gerakan milenial Nahdliyin, dan kami sepakat mendirikan GMNU. Saat itu, saya terpilih menjadi ketua,” jelasnya saat menjadi narasumber.


Dalam acara yang disiarkan langsung melalui aplikasi Zoom dan akun Facebook GMNU Jepang ini, Dimas juga bercerita tentang pengalaman pertamanya di Negeri Sakura, yaitu sulitnya mencari majelis ta’lim untuk belajar agama secara bersama-sama.


“Dulu, pertama saya di Jepang bingung mencari majelis. Kemudian saya diajak teman untuk ke Tokyo karena di sana ada majelis milik NU. Ternyata, saya merasa nyaman. Akhirnya saya berpikir ingin mendirikan MWCINU di Shizuoka, tempat saya tinggal,” ungkapnya. 


Menurut dia, setelah terkumpul sekitar 10 orang, disepakati untuk mendirikan MWCINU Shizuoka Jepang. Bersama kedua teman lainnya, Dimas kemudian memelopori berdirinya MWCINU Shizuoka.


Wakil Ketua MWCINU Shizuoka itu juga menuturkan, niatnya mendatangi kota dengan minoritas muslim tersebut tidak hanya sekedar ingin bekerja. Ia juga ingin banyak beribadah di sana.


Membagi waktu
Sebagai salah satu orang berpengaruh di NU Jepang, ia menjelaskan kisah suka dukanya selama menjadi pengurus. Hal terberat memang harus bisa membagi waktu antara organisasi dan pekerjaan lain.


“Dulu sebelum mengenal NU, setiap hari Ahad saya sering olahraga. Namun setelah ikut mengurusi NU, sekarang khidmat di NU menjadi prioritas,” ungkapnya.


Ia menambahkan, koordinasi kepada sesama pengurus NU di Jepang harus selalu dijalin dengan baik. Karena akan semakin meringankan tugas jika dilakukan secara bersama, terlebih di negeri orang. “Meski jarak setiap kota cukup jauh, untuk khidmat NU tidaklah menjadi persoalan.”


“Seperti kemarin saya ke kantor PCINU di Tokyo. Saya datang ke sana meskipun jaraknya jauh, menggunakan transportasi yang jika dirupiahkan bisa habis satu juta. Tidak masalah bagi saya, karena semua kembali pada niat untuk khidmat. Pasti akan ada rejekinya sendiri,” tandasnya.


Dimas berharap, misi ‘menghijaukan’’ Negeri Sakura yang telah menjadi cita-cita bersama bisa terlaksana, setelah beberapa daerah telah mendirikan MWCINU.


“Sedih sebenarnya, NU di Jepang mulai berkembang seperti di Ibaraki, Shizuoka, Aichi, Gifu, Kanazawa, dan akan dibentuk juga MWCINU di Osaka dan Hiroshima. Namun, itu semua terlaksana saat saya akan kembali ke Indonesia. Saya ingin bertemu dengan sesama masyarakat NU di Jepang,” jelasnya.


Ia percaya, dengan menebar benih kebaikan maka akan tumbuh keberkahan yang terus mengalir. “Semoga akan terus ada regenerasi,” pungkasnya.


Dalam acara yang dimoderatori Ketua MWCINU Ibaraki Aditya Bastyas Mulya ini, juga hadir narasumber lain yakni Ziyah El-Adawiyah, seorang influencer dan selebram. Penyanyi NU Channel PBNU ini berbicara tentang hijab bukan sebagai halangan kaum milenial untuk sukses di usia muda. 


Kontributor: Afina Izzati
Editor: Musthofa Asrori

BNI Mobile