Bupati Tegal Nyatakan, Setiap Santri Dites Kesehatannya Sebelum ke Pondok

Bupati Tegal Nyatakan, Setiap Santri Dites Kesehatannya Sebelum ke Pondok
Bupati lepas rombongan santri Kabupaten Tegal ke Pesantren Lirboyo, Kediri, Jatim (Foto: NU Online/Nurkhasan)
Bupati lepas rombongan santri Kabupaten Tegal ke Pesantren Lirboyo, Kediri, Jatim (Foto: NU Online/Nurkhasan)

Tegal, NU Online

Bupati Tegal, Jawa Tengah Hj Umi Azizah mengatakan, selain harus mengantongi izin dari orang tua, sebelum keberangkatannya ke pondok, para santri terlebih harus menjalani pemeriksaan kesehatan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tegal melalui Puskesmas. 

 

"Langkah tersebut diambil sebagai upaya antisipasi dan mencegah agar penyebaran wabah Covid-19 tidak terjadi di lingkungan pesantren," katanya.

 

Hal itu disampaikan saat melepas keberangkatan ratusan santri ke Pesantren Hidayatul Mubtadiin Lirboyo, Kediri, Jawa Timur asal Kabupaten Tegal di depan rumah Dinas Bupati Tegal dan Kantor DPC PKB, Ahad (5/7) malam.

 

Kepada para santri Umi Azizah berpesan, agar dalam menuntut ilmu di pesantren mereka tetap harus menjaga kebersihan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta mengikuti anjuran protokol kesehatan.

 

"Termasuk misalnya nanti jika harus menjalani isolasi selama dua pekan di lingkungan asrama pesantren. Ingat, kebersihan adalah bagian dari iman,” pesan Umi.

 

Umi mengatakan, upaya pemeriksaan kesehatan tersebut ditempuh agar nantinya tidak muncul klaster baru Covid-19 di pesantren. 

 

“Kita semua punya tanggung jawab yang sama untuk membangun kesadaran akan adanya musuh bersama yang tak terlihat ini. Dengan demikian, keluarga, sekolah maupun lembaga pendidikan agama berperan penting dalam proses pembiasaan hidup sehat sebagai kelaziman baru di masa pandemi,” katanya.

 

Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Tegal H Akhmad Wasyari mengatakan, pesantren adalah NU besar, dan NU adalah pesantren kecil. Itu artinya hubungan antara pesantren dan NU tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

 

"NU tanpa pesantren akan bermasalah. Dan pesantren tanpa NU akan mudah dipecah belah," katanya mengutip pesan almarhum Almagfurlah KH Hasyim Muzadi saat itu.

 

Menurutnya, sangat tepat jika Pengurus Himasal memberangkatkan santri melibatkan Bupati Tegal, PCNU, dan DPC PKB. "Birokrasi, Politik, NU sebagai segitiga emas yang saling terkait untuk membangun Kabupaten Tegal," ujarnya

 

Kepada para santri, Wasyari minta para santri melihat NU jangan hanya melihat Pengurus NU yang ada, tapi lihatlah NU lebih jauh, di mana para muasis NU Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari, KH Wahab Hasbullah, KH Bisri Syamsuri dan para muasis-muasis lain, yang sudah dengan sekuat tenaga membangun NU untuk kepentingan membentengi akidah ahlussunah wal jamaah.

 

"Sekali lagi, jangan pandang pengurus yang sekarang ada, karena pengurus hanya sebatas sebagai khadam untuk melanjutkan perjuangan-perjuangan para muasis NU," tandasnya.

 

Ketua Himpunan Alumni Santri Tegal (Himasal) Lirboyo Muhamamad Sobirin kepada NU Online, Selasa (7/7) mengatakan, dirinya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Tegal yang sudah ikut membantu dalam proses pemberangkatan santri ke Jawa Timur.

 

“Alhamdulillah, sebelum berangkat para santri telah diperiksa kesehatannya secara gratis dan saya mengucapkan terima kasih kepada Pemkab Tegal, kepada Dinas Kesehatan yang sudah membagikan 2.400 masker dan cairan pencuci tangan (hand sanitizer) kepada para santri," ungkapnya. 

 

Sobirin juga mengucapkan terima kasih kepada Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Tegal dan DPC PKB yang masing-masing telah menyumbangkan dananya kepada kami senilai Rp 25 juta.

 

Ia mengatakan, Pesantren Lirboyo sudah menerapkan protokol kesehatan di lingkungan pondok pesantren, seperti para santri diwajibkan untuk menggunakan masker, mencuci tangan secara rutin menggunakan sabun dan air yang mengalir, serta menerapkan pembatasan jarak fisik aman antar santri. 

 

"Instruksi dari pimpinan pondok mewajibkan santri untuk membawa masker kain minimal lima buah. Hal ini dimaksudkan agar santri bisa menggantinya setiap empat jam sekali," jelasnya. 

 

Pelepasan 800 santri Lirboyo Kediri yang terbagi dalam 14 armada bus tersebut dihadiri Bupati Tegal Hj Umi Azizah, Ketua PCNU H Akhmad Wasy'ari, Ketua DPC PKB Firdaus Asyaerozi, Pengurus Himasal dan anggota FPKB DPRD Kabupaten Tegal. 

 

Kontributor: Nurkhasan
Editor: Abdul Muiz

BNI Mobile