Semangat Dakwah Harus Dibarengi Pemahaman Keagamaan yang Mumpuni

Semangat Dakwah Harus Dibarengi Pemahaman Keagamaan yang Mumpuni
Wakil Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama KH Taufik Damas menyampaikan pemahaman keagamaan itu tidak sembarangan, yakni harus memahami berbagai disiplin perangkat keilmuan agama yang cukup
Wakil Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama KH Taufik Damas menyampaikan pemahaman keagamaan itu tidak sembarangan, yakni harus memahami berbagai disiplin perangkat keilmuan agama yang cukup

Jakarta, NU Online
Akhir-akhir ini banyak bermunculan fenomena ustaz atau pendakwah yang prematur. Mereka memiliki semangat dakwah yang tinggi, tetapi tidak memiliki kompetensi dan kapasitas di bidang keagamaan yang mumpuni.


Wakil Katib Syuriyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama KH Taufik Damas menyampaikan pemahaman keagamaan itu tidak sembarangan, yakni harus memahami berbagai disiplin perangkat keilmuan agama yang cukup.


“Sebetulnya, untuk menjadi orang yang menyampaikan Islam itu, kita harus menguasai ilmu-ilmu keagamaan,” katanya saat galawicara bertema Fenomena Ustaz Prematur di 164 Channel pada Rabu (8/7).


Memang, katanya, ada hadits Nabi yang memerintahkan untuk menyampaikan darinya walaupun satu ayat, ballighu ‘anni walau ayah. Kiai Taufik mengingatkan bahwa perintah tersebut ditujukan kepada para sahabat sehingga memang kewajiban mereka untuk menyebarkannya.  


“Jadi, sahabat itu memiliki kewajiban menyampaikan wahyu yang turun yang sudah disampaikan kepada Nabi dan Nabi menyampaikan kepada para sahabat. Yang hadir mendengarkan itu diperintahkan untuk menyampaikan kepada yang tidak mendengarkan,” jelasnya.


Hadits tersebut juga masih berlaku sampai saat ini. Namun, ia menegaskan bahwa harus dipahami betul-betul sebelum hal tersebut disampaikan kepada orang lain.

 

“Sebelum kita menyampaikan satu ayat, kita harus paham betul makna ayat itu gitu loh. Bagaimana pandangan ulama terhadap ayat itu dari sisi kebahasaan, dari sisi tafsirnya, dan sebagainya,” kata kiai yang menamatkan studinya di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir itu.


Lebih lanjut, Kiai Taufik mengatakan suka dengan istilah tadabbur Al-Qur’an. Namun, istilah tersebut digunakan oleh orang yan tidak memahami bahasa Arab, belum mengerti klasifikasi ayat muhkamat, mutasyabihat, mutlaq, muqayyad, nasikhah, mansukhah, hingga persoalan sebab-sebab turunnya ayat tersebut (asbabun nuzul)


“Bagaimana mungkin dia menyampaikan ajaran ayat-ayat itu secara baik dan benar kalau yang demikian itu mereka tidak mengerti,” katanya, “minimal mereka baca tafsirlah. Kan tafsir beragam luar biasa. Jumlahnya ribuan kitab-kitab tafsir itu.”


Menurutnya, hal tersebut harus dilalui oleh orang yang hendak menyampaikan dakwah walau satu ayat guna memperkaya pemahamannya tentang ayat-ayat Al-Qur’an itu dan menjaganya dari salah tafsir.


Pewarta: Syakir NF
Editor: Abdullah Alawi 
 

BNI Mobile