Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Berdakwah Tanpa Cukup Ilmu, Niscaya Bakal Terhina

Berdakwah Tanpa Cukup Ilmu, Niscaya Bakal Terhina
Ilustrasi orang dungu yang sombong. (Foto: Dok. NU Online)
Ilustrasi orang dungu yang sombong. (Foto: Dok. NU Online)

Jakarta, NU Online
Ibnu al-Hudzail pernah berkata, bahwa seseorang yang belum cukup ilmu dan belum waktunya menjadi sumber ilmu namun sudah berani mengajarkannya, niscaya bakal terhina. Kehinaan itu akan ia dapatkan dengan diperlihatkannya kesalahan-kesalahan yang ia buat.


Kedunguannya pun akan tampak melalui beberapa kekeliruan dalam menjawab berbagai masalah. Mereka ini sebenarnya tertipu oleh perasaan mereka sendiri karena menyangka ia tidak lagi membutuhkan ilmu, petunjuk, atau arahan sang guru. Akhirnya, ia pun tersadar untuk belajar kembali. 


Perkataan Ibnu al-Hudzail yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi al-'Awwam dari al-Thahawi dari Muhammad bin al-Hasan bin Mirdas dari Abi Bakrah al-'Aththar dari Abi 'Ashim al-Nabil ini dipaparkan oleh Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin melalui akun Facebook pribadinya, Rabu (8/7).


Kiai Ishom menambahkan, untuk mempelajari ilmu agama dan menguasainya dengan sempurna tidaklah mudah. Taraf ini membutuhkan kecerdasan, selalu merasa haus akan ilmu, kesabaran, bekal yang cukup, arahan dari para guru, dan memerlukan waktu yang lama.


"Apalagi untuk mengamalkan dan menyebarluaskan ilmu, pastilah tidak mudah karena banyaknya syarat yang wajib dipenuhi, yang untuk memenuhinya tentu tidak semudah membalik telapak tangan," tegasnya.

 
Ia pun mengingatkan bahwa seseorang yang benar-benar berilmu agama mendalam ('alim) membutuhkan waktu sangat lama dalam menguasai ilmunya. Mereka harus melewatinya dengan menuntut ilmu agama kepada para ulama spesialis pada bidang ilmu agama tertentu.


Orang yang berilmu, menurut dia, tidak akan tertarik mendengarkan ceramah-ceramah agama yang bersifat instan dan tidak mendalam. "Apalagi jika ceramah itu disampaikan oleh ‘ustadz’ abal-abal yang tidak jelas spesialisasi ilmunya dan tidak dikenali kualitasnya," tambah Kiai Ishom.


Mereka yang memahami ilmu agama yang mendalam tidak mudah tertarik sehingga tidak mudah ditipu oleh para ‘ustadz palsu’ yang tak berilmu dan hanya pandai melucu dengan kaum awam. Orang yang awam agama, menurut dia, gampang terpesona oleh penampilan fisik dan ketenarannya.


Kiai Ishom menambahkan, ilmu agama yang disampaikan secara hati-hati, bertahap, dan proporsional oleh para spesialis di bidangnya, tidak akan menimbulkan kekacauan dalam jiwa, pikiran, dan perilaku sebagian umat beragama.


"Pada manusia yang beragama dengan benar, agamanya tidak akan dijadikan sebagai alat politik untuk meraih kekuasaan. Agamanya tidak dijadikan sebagai alasan untuk membenarkan setiap tindak kekerasan, diskriminasi, maupun saling benci antarsiapa saja yang identitasnya berbeda. Tidak pula dipertukarkan dengan materi-materi duniawi," paparnya.


Orang yang beragama dengan benar, akalnya akan mengikuti ilmu agamanya yang benar untuk menundukkan hawa nafsunya sendiri. Dengan ini sikap keberagamaannya akan lebih rasional, lebih manusiawi, membawa manfaat, mengarahkan pada kemajuan, menebarkan kasih sayang, dan  mengupayakan terwujudnya kemaslahatan hidup di dunia. 


Tidak hanya itu, kebahagiaan abadi di akhirat nanti pun akan dicapai dan terhindarkannya umat manusia dari segala mara bahaya baik di dunia maupun di akhirat kelak.


"Hendaknya, setiap kita menyadari akan kadar keilmuan agama yang dimiliki, sehingga yang benar-benar belum tahu ilmu agama wajib belajar kepada para ulama yang sesungguhnya. Sedangkan siapa yang telah menguasai ilmu agama dengan sempurna (ulama yang sesungguhnya) berkewajiban untuk mengamalkan dan menyebarluaskan ilmu-ilmu agamanya," pungkas Kiai Ishom.


Pewarta: Muhammad Faizin
Editor: Musthofa Asrori
 

BNI Mobile