Gus Dur Menangis Mengetahui Dirinya Bakal Jadi Presiden

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. (Foto: dok. Pojok Gus Dur)
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. (Foto: dok. Pojok Gus Dur), Gus Dur Menangis Mengetahui Dirinya Bakal Jadi Presiden
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. (Foto: dok. Pojok Gus Dur), Gus Dur Menangis Mengetahui Dirinya Bakal Jadi Presiden

Tidak ada yang meragukan kapasitas KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai salah satu pemimpin besar bangsa Indonesia. Jauh sebelum terpilih menjadi Presiden RI secara demokratis di Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) pada 1999, Gus Dur merupakan penggerak intelektual publik yang banyak menginspirasi anak-anak muda untuk kritis, progresif, dan berani menyuarakan pendapat di tengah kekangan rezim Orde Baru.


Sampai pada akhirnya Soeharto lengser dari kursi presiden dan sementara digantikan oleh BJ Habibie, transisi era dari Orde Baru ke Reformasi ramai diperbincangkan tokoh-tokoh nasional, termasuk pemilihan Presiden. Sejumlah pemimpin partai politik sibuk bergeriliya dan melakukan lobi dalam pemilihan presiden.


Di tengah hiruk-pikuk tersebut, beberapa tokoh mendirikan poros tengah yang memproyeksikan Gus Dur menjadi Presiden. Meskipun demikian, Gus Dur sendiri sudah meyakini dirinya bakal terpilih menjadi Presiden melalui petunjuk dan dorongan para kiai sepuh.


Namun, di tengah keyakinannya itu, Gus Dur sendiri masih bertanya-tanya tentang kekuatan dirinya jika terpilih menakhodai perahu bernama Indonesia kepada seorang kiai. Hal itu menunjukkan bahwa setiap langkah yang dilakukannya tidak lepas dari restu para gurunya. Gus Dur hanya berusaha mengonfirmasi dan memastikan langkah-langkah yang bakal dilaluinya.


Salah seorang sahabat Gus Dur, Ahmad Tohari dalam buku Gus! Sketsa Seorang Guru Bangsa (2017) menceritakan bahwa dirinya pada Mei 1999 bersambang ke Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ratih Hardjono yang saat itu menjadi relawan untuk membantu Gus Dur menyuruh Ahmad Tohari masuk ke ruang kerja Gus Dur di PBNU.


Sastrawan dan Budayawan asal Banyumas, Jawa Tengah itu hanya menurut. Tetapi kemudian ia tertegun di pintu. Saat Gus Dur berdiri berhadapan cukup rapat dengan seorang kiai (Ahmad Tohari tidak menyebut nama kiai tersebut) sambil menangis.


Ahmad Tohari menjelaskan bahwa di tengah isak tangisnya, Gus Dur berkata, “Kiai, apa saya kuat jadi Presiden?” Lalu pertanyaan Gus Dur itu dijawab oleh kiai, “Tapi memang sampean yang bakal menjadi Presiden.” Terlihat di sini Gus Dur tidak menanyakan kemampuan dirinya, tetapi kekuatannya jika terpilih menjadi Presiden.


Empat bulan kemudian dari Ahmad Tohari sowan ke Gus Dur tersebut, pemilihan Presiden dilakukan. Seluruh anggota MPR RI memilih calon presidennya. Ketika pemilihan dan sampai pada penghitungan suara, susul-menyusul jumlah suara terjadi antara Gus Dur dan Megawati Soekarnoputri.


Hingga waktu penghitungan akan berakhir, Megawati masih unggul suara dari Gus Dur. Namun, pada detik-detik terkahir penghitungan, suara Gus Dur mengungguli Megawati sehingga Gus Dur terpilih menjadi Presiden RI pada tahun 1999.


Melihat kemenangan Gus Dur tersebut, Ahmad Tohari berkata, “Saya merenung, mengusap air mata karena sedih. Seorang guru bangsa--meskipun suka bergurau—harus mau menerima status yang lebih rendah: Presiden!”


Gus Dur menerima amanah dari rakyat tersebut dengan pekerjaan rumah yang tidak mudah. Karena selain harus menghadapi ancaman disintegrasi bangsa, Gus Dur juga menghadapi tugas untuk menjalankan tuntutan reformasi dan pembangunan demokratisasi bangsa Indonesia, terutama di mata dunia internasional. Gus Dur dilantik menjadi Presiden RI pada 20 Oktober 1999.


Menurut catatan Virdika Rizky Utama dalam buku Menjerat Gus Dur (2019), tugas-tugas tersebut mengharuskan Gus Dur berhadapan dengan anasir-anasir ABG (ABRI, Birokrasi, Golkar) yang masih kuat dan menjadi problem akut sebagai dampak dari 32 tahun rezim Orde Baru berkuasa. Salah satu tugas penting Gus Dur ialah membersihkan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang telah mengurat dan mengakar di era Soeharto.


Meskipun hanya memimpin Indonesia selama 20 bulan karena dilengserkan secara politis oleh lawan-lawan politiknya pada 23 Juli 2001, Gus Dur telah banyak meletakkan fondasi demokratisasi yang baik bagi masa depan kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk selain upaya keras memberantas pratik-praktik korupsi.


Penulis: Fathoni Ahmad

Editor: Abdullah Alawi

BNI Mobile