Usep Romli HM, Napas Panjang Santri Penulis

Usep Romli HM dan Gus Dur saat wawancara di Muktamar NU Cipasung, 1994
Usep Romli HM dan Gus Dur saat wawancara di Muktamar NU Cipasung, 1994
Usep Romli HM dan Gus Dur saat wawancara di Muktamar NU Cipasung, 1994

Jakarta, NU Online 
Usep Romli HM tutup usia pada Rabu (8/7). Para penulis di wilayah Jawa Barat, khususnya mengungkapkan belasungkawa melalui aku media sosial. Sebagai seorang santri, pernah aktif di IPNU dan GP Ansor, serta tercatat di penasihat Lembaga Ta’lif wan Nasyr, PWNU Jawa Barat juga mengungkapkan kehilangan.  


Salah seorang ajengan yang pernah aktif di LTN PWNU Jawa Barat KH Mas Zaenal Muhyiddin bercerita, sewaktu diminta untuk menyusun struktur LTN yang baru, ia langsung teringat Usep Romli HM, salah seorang jurnalis di HU Pikiran Rakyat, berlatar belakang pesantren dan aktif di IPNU dan GP Ansor. 


“Untuk itu saya sengaja datang ke kantornya di Jl. Soekarno Hatta. Tentu sebelumnya janjian dulu. Akhirnya saya diterima dan ngobrol panjang lebar dengannya tentang ke-LTN-an dan meminta almarhum mau hadir di Sancang (kantor PWNU dulu) untuk diskusi khusus tentang komposisi PW LTNU Jabar,” ungkap salah seorang Pengasuh Pesantren Al-Mizan Jatiwangi, Majalengka ini.


Menurut dia, Usep Romli HM kemudian merekomendasi beberapa nama untuk masuk dalam kepengurusan, di antaranya Asep Salahudin, Kang Alba (dosen ITB), Subanuddin Alwy (alm., Cirebon), Hasan Ma'arif (Majalengka, alm.). 


Atas bimbingan dan rekomendasi Usep Romli HM, tambah dia, akhirnya terbentuklah LTNNU Jabar dengan Ketua H Rosikhon Anwar (alumnus Buntet Pesantren, penulis dan dosen UIN Bandung). Ia sendiri sebagai sekretaris. 


“Gebrakan PW LTNNU pada waktu itu adalah bagaimana ghirah, semangat kepenulisan dan penerbitan NU Jabar muncul, baik di kalangan kiai ataupun santri. Makanya hasil diskusi dengan almarhum digelarlah kegiatan pelatihan jurnalistik dan kepenulisan untuk (PCNU dan santri) se-Jawa Barat, menulis bukusejarah NU Jawa Barat dengan judul NU Sunda: Melacak Jejak Asal-usul NU di Jawa Barat; menerbitkan majalah Tradisi, dan menerbitkan buletin Ar Ribath). Dan almarhum bersedia untuk jadi pembina dan penasihat PW LTNNU Jabar,” jelasnya.  


Salah seorang aktivis NU Jawa Barat, Iip Dzulkifli Yahya menilai, bagi kalangan santri, khususnya Priangan Timur, Usep Romli HM adalah teladan dalam dunia jurnalistik dan menulis. Ia menulis status demikian di Facebook pribadinya. 


“Napasnya sangat panjang, hampir tak pernah berhenti berkarya. Sebagai pengakuan atas hal itu, pada 2014 PBNU pernah memberinya Hadiah Asrul Sani untuk kesetiaan berkarya, sebuah acara yang dihelat oleh NU Online.


Selain sebagai sebagai seorang jurnalis, menurut penulis buku Ajengan Cipasung ini, Usep Romli HM juga seorang sastrawan yang menulis dalam bahasa Sunda dan Indonesia, di antara karyanya dalam nahasa Sunda: Sabelas Taun, Nyi Kalimar Bulan, Oray Bedul Macok Mang Konod, Bongbolongan Nasrudin, Dulag Nalaktak, Bentang Pasantren, Dalingding Angin Janari, Dongeng-dongeng Araheng, Ceurik Santri, Jiad Ajengan, Sanggeus Umur Tunggang Gunung, Sapeuting di Cipawening, Nu Lunta Jauh, Jurig Congkang Bisul na Bujur, Lalakon Ngatrok: Saba Desa Saba Nagara, Saur Bapa Gubernur, Nganteurkeun, Paguneman jeung Firaon, The Last Herro.


Sementara karya dalam Bahasa Indonesia: Si Ujang Anak Peladang, Pahlawan-Pahlawan Hutan Jati, Sehari di Bukit Resi, Desa Tercinta, Berlibur di Kaki Gunung, Aki Dipa Pemburu Tua, Bambu Runcing Aur Kuning, Pahlawan Tak Dikenal, Percikan Hikmah, Pertaruhan Domba dan Kelinci, Zionis Israel di Balik Serangan AS ke Irak.


Menurut Iip D Yahya, pada 2010, ia mendapatkan hadiah sastra Rancage untuk kumpulan cerita pendeknya Sanggeus Umur Tunggang Gunung.


Pengamat sastra Hawe Setiawan mengenang Usep Romli HM melalui status berjudul Pohon Kiara, Kang Haji.


Komunikasi penghabisan tanggal 27 Juni lalu. Kang Haji yang tetap produktif menulis, mengirimi saya tautan ke tulisannya yang sedih di sebuah laman daring: tentang sepasang pohon kiara, yang ia tanam 22 tahun lalu, di depan rumahnya di Limbangan, di atas lahan irigasi. Baru-baru ini “pengepul kayu” menebangnya dengan gergaji mesin.


“Nasib dua pohon kiara usia 22 tahun itulah yang amat penting. Minimal bagi saya pribadi sebagai penanamnya, yang terus berurai air mata, bahkan pada saat menuliskan hal ini,” tulisnya.


Pagi ini, ketika saya membuka WA, ada teks dari Anggi, keponakan saya di Ciamis, teman kuliah Ayu, anak Kang Haji. “Mang, seja ngawartosan. Bapa Haji Usép Romli parantos ngantunkeun urang sadayana. Tadi tabuh 09.30 énjing-énjing di Limbangan. Abdi kénging wartos ti putrana,” tulis Anggi.


Wilujeng angkat, Kang Haji.


Pewarta: Abdullah Alawi
Editor: Fathoni Ahmad 
 

BNI Mobile