HARLAH KE-17 NU ONLINE

Pemred Kompas: Media Harus Bisa Menjawab Kebutuhan Publik

Ilustrasi. (NU Online)
Ilustrasi. (NU Online)
Ilustrasi. (NU Online)

Jakarta, NU Online

Di era pandemi ini, ada tren baik mengenai kesadaran masyarakat dunia akan informasi dari berita media mainstream. Pemimpin Redaksi Harian Kompas Sutta Dharmasaputra mengatakan bahwa orang tentu akan mencari NU Online sebagai rujukan untuk mendapatkan informasi Islam moderat, tidak serta merta mengandalkan media sosial.


Karenanya, ia menyebut bahwa hal ini menjadi satu harapan untuk industri media sekaligus harus membuktikan diri dengan menjawab kebutuhan masyarakat dengan konten yang berkualitas.


“Ketika pandemi orang membutuhkan informasi yang benar. Ini tren baik untuk menunjukkan bahwa informasi yang kita berikan itu menjawab kebutuhan publik tentang informasi yang berkualitas,” katanya dalam diskusi daring dalam rangka Harlah Ke-17 NU Online pada Jumat (10/7).


Menurutnya, berdasarkan penelitian Greg Piechota dari International News Media Asociation (INMA), ini fenomena yang tidak pernah terjadi dalam periode yang panjang. Hari ini, jelasnya, publik banyak mempercayai organisasi media, pemerintah, dan pakar.


“Ini tren yang kita harapkan sebetulnya menyegarkan buat kita. Semoga makin lama kesadaran masyarakat akan informasi yang berkualitas makin tinggi,” ujarnya.


Lebih lanjut, Sutta juga menjelaskan bahwa organisasi media sebetulnya berfungsi untuk membuat berita yang objektif sehingga perlu ada konfirmasi berita yang telah dibuat sebelumnya. Hal itu dilakukan dengan menugaskan reporter lain dengan narasumber lain mengingat adanya kemungkinan bias individu berita yang ditulis oleh seorang reporter.


“Atau menugaskan kita juga untuk menghubungi orang-orang yang tidak kita sukai, bukan hanya menghubungi orang-orang yang kita sukai. Konten yang dibuat boleh dikatakan bias, informasinya sangat minim,” ujarnya.


Oleh karena itu, ia menegaskan perlunya peningkatan inovasi dan kolaborasi. Sutta juga menyebut perlunya kerja sama antara Kompas dan NU Online. “Saya juga berpikir, jangan-jangan Kompas perlu kolaborasi erat nih dengan NU Online,” katanya.


Kesulitan lainnya dalam dunia media ini, menurutnya, adalah melawan mesin teknologi. Sebab, mesin teknologi bekerja memberikan informasi kepada orang-orang yang kerap mencari sesuatu. Misalnya, jelasnya, orang sering mencari x, maka x juga akan sering datang menghampirinya.


“Yang tidak mudah adalah teknologinya. Bagaimana kita melawan mesin besar sehingga bisa mendeliver kepada orang yang lebih tepat,” ujarnya.


Sutta menjelaskan bahwa pihaknya pernah membuat liputan mendalam mengenai cluster Covid-19 dan Citarum dengan menghabiskan waktu berhari-hari, hampir satu bulan. Namun, masyarakat kita tidak banyak yang mengonsumsinya. Sebab, mereka masih menyukai informasi yang disajikan secara sederhana.


Media tidak saja didukung oleh jurnalis yang mumpuni, tetapi juga ahli di bidang teknologi serta desain grafis yang dapat menunjang optimalisasi karya jurnlistik.


“Media tidak hanya didukung oleh jurnalis tetapi juga oleh tenaga ahli front end, back end, desain grafis sehingga bisa lebih mengoptimalkan karya-karya jurnalistik,” pungkasnya.


Diskusi ini juga menghadirkan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Robikin Emhas, Pemimpin Redaksi NU Online Achmad Mukafi Niam, Presidium Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (Mafindo) Anita Wahid, Pemimpin Redaksi Tirto.id Sapto Anggoro, dan Pemimpin Redaksi Narasi TV Zen RS.


Pewarta: Syakir NF

Editor: Fathoni Ahmad

BNI Mobile