Kesadaran Pers Kiai NU Menolak Perkumpulan Buta Tuli

Melalui pers, NU membuka mata dan telinga lebar-lebar, menyimak keadaan, menyerap napas umatnya
Melalui pers, NU membuka mata dan telinga lebar-lebar, menyimak keadaan, menyerap napas umatnya
Melalui pers, NU membuka mata dan telinga lebar-lebar, menyimak keadaan, menyerap napas umatnya

Oleh Abdullah Alawi 

 

Setahun lebih 4 bulan setelah NU berdiri, para kiai menerbitkan majalah bernama Swara Nahdlatoel Oelama (SNO). Kiai Wahab Chasbullah turun tangan dalam pengelolaan majalah dengan aksara Arab pegon berbahasa Jawa itu. Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari tidak ongkang-ongkang kaki, ia dan kiai-kiai lain turut serta juga mengisi konten. 


Kiai Wahab dalam sebuah tulisannya di SNO menegaskan, sebuah perkumpulan tanpa majalah sama saja dengan perkumpulan buta tuli. Ya, NU sejak awal menolak buta tuli. Bahkan memperkuatnya. Satu majalah tidak cukup! Para kiai menerbitkan Oetoesan Nahdlatoel Oelama (ONO) pada Januari 1928. 


Melalui dua media ini, NU membuka mata dan telinga lebar-lebar, menyimak keadaan, menyerap napas umatnya. Lalu diolah menjadi gagasan-gagasan yang kembali dilempar ke masyarakat. Sedikit demi sedikit mata dan telinga NU diketahui khalayak. KH Fadhil bin Ilyas dari Tasikmalaya, misalnya, tergerak menyambutnya. Ia berkomunikasi dengan majalah SNO tentang persoalan-persoalan di Priangan. Kiai Cirebon, Indramayu juga turut serta, apalagi kiai-kiai di Jawa Tengah dan Jawa Timur. 


Pertemuan gagasan dan informasi hasil-hasil muktamar yang diselenggarakan tiap setahun, mempercepat pertumbuhan NU. Dalam kurun 10 tahun, menurut KH Wahid Hasyim, NU tersebar ke daerah-daerah hingga luar Jawa. Organisasi yang dianggap kolot dan tua ini, ternyata punya daya gerak cepat. 


Dari waktu ke waktu, karena NU terus membuka mata dan telinganya, anggota dan pendukungnya makin banyak dan jangkauannya luas. Ketika anggota dan pendukung NU banyak yang tak mengerti bahasa Jawa dan tak paham Arab pegon, para kiai cepat tanggap, mereka segera membuat media bahasa Melayu dengan huruf Latin.


Pada tahun 1931, HBNO mengumumkan Berita Nahdlatoel Oelama. Tenaga muda yang segar, KH Mahfudz Shiddiq mengelola majalah ini. Tak hanya itu, cabang dan lembaga-lembaga NU di masa Hindia Belanda turut membuka mata dan telinga. Ansor Nahdlatoel Oelama (GP Ansor) punya Soeara Ansor. Lembaga Pendidikan NU (Ma'arif) punya Seoloeh Nahdlatoel Oelama. Cabang NU Tasikmalaya punya Al-Mawaidz


Tentang pers, KH Mahfudz Shiddiq dalam sebuah tulisannya mengutip istilah yang konon waktu itu terkenal di Eropa, wartawan ratu dunia. Istilah ini diperkuat dan dipopulerkan di kemudian hari oleh Nasida Ria melalui lagu Ratu Dunia. Saya kutip di sini:


Ratu dunia ratu dunia, oh wartawan ratu dunia
Apa saja kata wartawan mempengaruhi pembaca koran
Bila wartawan memuji, dunia ikut memuji
Bila wartawan mencaci, dunia ikut mencaci
Wartawan dapat membina pendapat umum di dunia


Sungguh tepat sekali Nasida Ria. Jika NU tak punya media sama sekali, jangan salahkan jika Nahdliyin diasuh oleh koran dengan wartawan yang bisa jadi memusuhinya. Banyak warga NU yang ketulangan, kalau meminjam istilah pendekar pena Mahbub Djunaidi. Jangan salahkan misalnya jika Nahdliyin mengambil pengertian Islam Nusantara dari situs sebelah. 

 

Tetap Buka Mata dan Telinga

Pada zaman penjajahan Jepang, pers NU terhenti. Menurut Kiai Saifuddin Zuhri, 9 tahun NU mengalami kekosongan pers. Lalu ketika NU menjadi partai politik, Kiai Wahid Hasyim mengupayakan media yang terbit lebih cepat. Koran Harian. Lahirlah Duta Masyarakat. Koran ini gulung tikar tahun 1971 ketika memuat  hasil pemilu tahun itu yang berbeda dengan hasil pemerintah Orde Baru. Beruntung pada tahun 1978 PWNU Jawa Timur segera mengisi kekosongannya. Mereka menerbitkan majalah Aula yang awet hingga hari ini. Juga majalah Bangkit dari PWNU Yogyakarta. 

 

Tahun 1985 PBNU mengupayakan Warta NU. Berhasil eksis hingga tahun 90-an. Kemudian mati lagi. Pada tahun 2000-an Duta Masyarakat yang almarhum, dibangkitkan lagi oleh Choirul Anam. PBNU menerbitkan majalah Risalah Nahdlatul Ulama pada 2007. Sebelumnya, pada 2003 PBNU meluncurkan situs resminya, NU Online yang awet hingga kini. Padahal menurut pengelola awal media ini, KH Abdul Mun'im DZ, NU Online diprediksi orang luar hanya bertahan 3 bulan. 

 

Kini bahkan, NU Online yang punya tagline Beranda Islam Indonesia ini menjadi situs terkemuka di Indonesia. Nomor satu dalam kategori layanan keislaman. Ya tentu nomor wahid jika dibandingkan dengan situs resmi ormas sejenis. 


Selamat harlah ke-17 NU Online yang jatuh tepat hari ini.  Semoga, tetap menjadi media yang membuka mata dan telinga, agar NU tidak menjadi perkumpulan buta tuli. 


Amanat Kiai Wahab lho itu...
 

Penulis adalah Nahdliyin kelahiran Sukabumi

BNI Mobile