Opsi Digital Lomba Kaligrafi dan MTQ Nasional di Tengah Pandemi?

Seandainya itu terjadi–namanya juga ”kalau-kalau,”–maka perhelatan akbar MTQ Nasional itu lebih baik diundurkan lagi ke tahun depan.
Seandainya itu terjadi–namanya juga ”kalau-kalau,”–maka perhelatan akbar MTQ Nasional itu lebih baik diundurkan lagi ke tahun depan.
Seandainya itu terjadi–namanya juga ”kalau-kalau,”–maka perhelatan akbar MTQ Nasional itu lebih baik diundurkan lagi ke tahun depan.

Oleh Didin Sirojuddin AR


Di sela-sela acara Penyusunan Paket Soal/Maqra' MTQ Nasional XXVIII/2020 di Hotel All Seasons Jakarta, diobrolkan kemungkinan mengambil "opsi digital" sekiranya MTQN benar-benar dilaksanakan bulan November di Padang. Tetapi pandemi Corona belum menunjukkan tanda-tanda mereda.


Bila seluruh cabang dan golongan dilombakan dengan cara daring atau online, maka diperlukan penataan dan mobilisasi teknis sibernya yang rumit bahkan sulit dijangkau. Efek lain: syiar dan gebyar kemeriahan MTQ jadi sayup. Kota Padang tidak akan ketamuan sekitar 5000-an anggota 34 kafilah provinsi dan 13 venue gedung-gedung tempat kompetisi yang dibangun dengan megah akan nganggur tak terpakai.


Bagaimana dengan cabang Seni Kaligrafi Al-Qur'an? Mungkinkah  dilombakan dengan zoom atau video call selama 8 jam penuh? Sekiranya tidak mungkin, tapi peserta hanya menampilkan karya jadi setelah dikerjakan di rumah masing-masing tanpa pengawasan panitia, apakah benar-benar valid tidak dijoki orang lain? Apakah karyanya benar-benar karya sendiri?


Sedangkan dalam situasi normal saja rombongan "wa'ala alihi wa shahbihi" selalu ngrubutin untuk ngbantuin pelomba. Ada lagi masalah: karya dalam foto kerap tidak sama dengan karya riilnya: bisa tampak lebih jelek atau sebaliknya. Bahkan yang jelek pun bisa diedit komputer qabla ditampilkan.


Sebelas hakim yang terpisah di kotanya masing-masing juga akan kesulitan menilai secara akurat, bila karya-karyanya bias apalagi palsu. Dalam proses menilai, para hakim kaligrafi punya tradisi berdebat dengan membanding-bandingkan karya yang disandingkan dalam jarak mepet.


Bagaimana kalau karya-karya itu "pisah ranjang" di kampung masing-masing peserta dengan kualitas estetis foto sebagian suram dan lainnya kelewat gelap karena resolusi tustelnya tidak memadai? Hasil foto juga tergantung pencahayaan di mana "cahaya bisa menipu warna". Dan, kesulitan-kesulitan lain yang belum terbayangkan. Di cabang-cabang lain, persoalan seperti itu mungkin juga ada.


Saya punya pengalaman dari beberapa kali menjadi juri Kompetisi Kaligrafi Nusantara ASEAN di Sabah, Malaysia. Para hakim menilai duluan di negaranya masing-masing 80-an foto karya pelomba. Belum-belum, ada hakim yang menuntut supaya dikirim ulang foto-foto dengan resolusi yang lebih memadai.


Dan, ketika kami menilai karya-karya riilnya di Sabah, beberapa posisi para juara terpaksa diubah karena berbeda dengan karya-karya dalam foto. Sedangkan jumlah karya kaligrafi MTQN pada babak penyisihan dan final mencapai sebanyak 296 lauhah. Bayangkan!


Seandainya itu terjadi–namanya juga ”kalau-kalau,”–maka perhelatan akbar MTQ Nasional itu lebih baik diundurkan lagi ke tahun depan.


Penulis adalah pendiri Lembaga Kursus Kaligrafi (Lemka) dan pengajar pada Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah.

BNI Mobile