Home Nasional Keislaman Fragmen Internasional Risalah Redaksi Wawancara Humor Tokoh Opini Khutbah Hikmah Bathsul Masail Pustaka Video Foto Download

Bila Tidak Disiapkan dengan Baik, Covid-19 Bisa Tersebar di Pesantren

Bila Tidak Disiapkan dengan Baik, Covid-19 Bisa Tersebar di Pesantren
Tes kesehatan di salah satu pesantren di Bojonegoro. (Foto: NU Online)
Tes kesehatan di salah satu pesantren di Bojonegoro. (Foto: NU Online)

Surabaya, NU Online
Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, H Nur Syam menyampaikan bahwa lembaga yang sangat terdampak dengan Covid-19 adalah pesantren. Bahkan institusi pendidikan ini paling krusial menghadapi penularan Covid-19. Karena di pesantren infrastrukturnya terbatas seperti tempat tidur, kelas, hingga fasilitas kesehatan.

 

“Kalangan pesantren sangat sulit menghindari kerumunan massa karena jumlah santri yang sangat banyak. Hal ini  membuat pesantren dikhawatirkan akan terdampak terhadap penularan Covid-19,” katanya, Senin (13/7). 

 

Pernyataan itu disampaikan pria kelahiran Tuban ini pada zoominar bertema ‘Keterbukaan Informasi dan Edukasi Disiplin untuk Sukses New Normal’. Acara hasil kerja sama UINSA, Pengurus Wilayah (PW) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Jatim dan Gugus Tugas Covid-19 Provinsi Jatim.

 

Kalau kondisinya dikhawatirkan seperti itu, lantas apa yang harus dilakukan kalangan pesantren? Dirinya menyatakan bahwa pesantren hendaknya melakukan sterilisasi. 

 

“Semua unsur pesantren harus menerapkan sterilisasi. Kalau tidak, efeknya sangat besar,” tegasnya.

 

Menurutnya, penyebaran Covid-19 tidak dapat dihentikan hingga saat ini. PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar harus berhenti karena faktor sosial, ekonomi dan keberlangsungan kehidupan secara umum. Masyarakat harus berdamai dengan Covid-19. Zaman baru harus segera dimulai, yaitu new normal.

 

“Covid-19 mengharuskan perubahan perilaku sosial masyarakat menuju pola hidup baru. Sektor ekonomi, sosial dan agama harus dibuka sesuai dengan ketentutan new normal,” urainya.

 

Ketua Gugus Tugas  Percepatan Penanganan Covid-19 Provinsi Jatim, Joni Wahyuhadi menyampaikan bahwa virus Corona sebenarnya tingkat meninggalnya kecil. Cuma yang riskan adalah mereka yang sudah memiliki pembawaan penyakit kronis bawaan seperti sakit jantung, paru dan lainnya.

 

“Para orang tua yang memiliki penyakit pembawaan tersebut sangat riskan meninggal,” jelasnya.

 

Sedangkan Ketua PW ISNU Jatim, HM Mas’ud Said menyampaikan bahwa persiapan untuk new normal sesungguhnya bukanlah keadaan yang sudah normal. New Normal adalah tatanan sosial dan tatanan sistem komunikasi, pendidikan dan kesehatan yang perlu detailling mengenai apa saja protokol yang dilakukan.

 

“Kita perlu disiplin, kita perlu tradisi baru dalam situasi hidup bersama Covid 19. Kita harus mencari jalan keluar. ISNU Jatim tergerak untuk mengajak masyarakat berbenah diri dengan sesuatu yang baru,’’ tandasnya. 

 

Kontributor: Imam Kusnin Ahmad
Editor: Ibnu Nawawi

BNI Mobile