Ma'arif NU Papua Menyambung 'Sel' yang Putus

Sekretaris LP Ma'arif NU Papua, Joko Prayitno di depan Sekolah Ma'arif NU di  SP 2 Distrik Bonggo. (Foto: Dok Istimewa)
Sekretaris LP Ma'arif NU Papua, Joko Prayitno di depan Sekolah Ma'arif NU di SP 2 Distrik Bonggo. (Foto: Dok Istimewa)
Sekretaris LP Ma'arif NU Papua, Joko Prayitno di depan Sekolah Ma'arif NU di SP 2 Distrik Bonggo. (Foto: Dok Istimewa)

Jayapura, NU Online

Pagi itu, Sabtu 11 Juli 2020 di Kantor Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan Ma’arif NU PWNU Papua, lima orang tengah sibuk mengangkat sembako ke dalam mobil. Sesekali mereka menyeka keringat yang mulai deras mengucur.

 

Tak lama kemudian mereka pun bergegas pergi meninggalkan Kota Jayapura. Tujuan mereka adalah Distrik Bonggo Kabupaten Sarmi. Jaraknya sekitar 200 kilometer dari ibu kota Provinsi Papua tersebut.

 

Adalah Ketua LP Ma'arif PWNU Papua Rasyid Tumenggung Mayang, Sekretaris PWNU Papua Muhamad Thoif, Ketua PCNU Kota Jayapura Muhammad Syaiful, Wakil Ketua PCNU Kota Jayapura Hasruddin Dute, dan Sekretaris LP Ma'arif NU PWNU Papua Joko Prayitno. Mereka menghabiskan sekitar lima jam perjalanan. Melewati jalan terjal berliku dan 50 lebih jembatan aneka rupa. Musik lawas yang diputar membuat perjalanan penat mereka serasa liburan akhir pekan yang mengesankan.


Menjelang sore, pukul 14.30 WIT mereka sampai di Masjid Baiturrahim Kampung Bebon Jaya SP 2 Distrik Bonggo. Mereka disambut oleh para jamaah dan tak lama kemudian guntur pun terdengar bersahutan memekakan telinga. Hujan deras pun turun mengiringi shalat jamak kelima orang tersebut.

 

Beberapa saat kemudian hujan pun reda, dilanjutkan dengan acara silaturahmi para pengurus Wilayah Ma’arif NU Papua dengan Nadliyin setempat. Selain menjaring aspirasi masyarakat, mereka juga melakukan penyerahan bantuan sembako untuk warga. Iringan makan bersama dan diskusi ringan dilakukan hingga menjelang Maghrib.


Rombongan menemukan beberapa catatan. Di antaranya, terdapat tanah seluas 70 meter x 50 meter aset milik Ma’arif NU. Berdiri di atas tanah itu gedung sekolah bagus, namun sudah tidak beroperasi lagi sejak dua tahun lalu.

 

"Untuk menindaklanjuti hal tersebut kami putuskan untuk bermalam dan ngopi bareng bakda Shalat Isya di rumah Pak Bambang, seorang Nadliyin yang bekerja sebagai guru SD sejak tahun 2003," kata Joko Prayitno.

 

Dalam ngopi bareng tersebut, lanjut Joko, mereka membahas tentang strategi menyambung sel-sel yang putus dan mati suri baik organisasi maupun lembaga pendidikannya. Beberapa langkah pun dirancang, seperti pemberdayaan ekonomi umat pada sektor pertanian, kehutanan dan perikanan-kelautan.

 

"Acara kongkow tersebut harus diakhiri karena lampu padam sesuai jadwal PLN setempat," kata Joko.

 

Lepas Shalat Subuh, sambil berjalan kaki menikmati udara segar kampung, rombongan mengunjungi sekolah Ma’arif NU yang kini tampak dengan segenap kelebihan dan kekurangannya. Namun, rombongan yakin, sikap optimis dan semangat warganya dengan izin Allah akan mengubah semua kondisi ini menjadi jauh lebih baik di masa yang akan datang.

 

"Setelah sarapan dan ngeteh pagi bareng, kami lanjutkan dengan penyerahan SK Pengurus Cabang LP Ma’arif NU Kabupaten Sarmi. Dengan harapan bahwa kepengurusan Ma’arif yang pertama kali terbentuk di daerah itu dapat membuka jalan untuk keluar dari segala permasalahan umat dalam hal tata kelola pendidikan," tutur Joko lagi.

 

Rombongan pun pamit kepada segenap warga dan Kiai Ahmad Nasokha, seorang ulama kharismatik yang sangat ditakzimi di Distrik Bonggo. "Dengan senyumnya yang khas, beliau berkata 'barokah', sembari melepas kepergian kami meninggalkan kampung tersebut," pungkas Joko.

 

Editor: Kendi Setiawan

BNI Mobile